Pada dasarnya tidak ada orang yang suka dikecewakan.
–My Kayang–
PRILLY tampak masih menangis di pojok kamar. Ia duduk di lantai yang dingin, punggungnya bersandar pada ranjang tidur, wajahnya ia benamkan di lekukan lututnya.
Krekkk....
Prilly terhenyak merasakan sentuhan telapak lengan Ali di ujung kepalanya. Napas Prilly memburu ia tampak ketakutan. Terlihat dari gestur tubuhnya.
Hati Ali nyeri melihat keadaan Prilly. Mata sembap, rambut berantakan, wajahnya memerah, pipinya sedikit lecet akibat ulahnya. Ali berjongkok di samping Prilly. Wanita itu terus menunduk karena yakin Ali pasti sedang memerhatikannya.
"Hey...." Ali ingin merengkuh pundak Prilly, namun Prilly lebih dahulu menghindar dengan menggeser sedikit dari duduknya.
"Prill." Ali tak menyerah, kali ini ia ingin meraih lengan Prilly. Lagi dan lagi Prilly menghidar sentuhan Ali dan menjauhkan lagi jaraknya tempat Ali berjongkok.
Ali menghela napas. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ia menyesal telah berlaku kasar pada Prilly, hingga gadisnya ketakutan dan tak ingin di sentuh, barang sedikit saja.
"Kakak belum puas hukum aku?" Suara Prilly kini terdengar walau pelan.
"Hey siapa yang mau hukum kamu? Kakak ke sini mau minta maaf, Sayang." Ali mencoba lagi menyentuh rambut Prilly.
"Hiks…," isak Prilly lolos kembali saat setelahnya ia kembali menggeser posisi duduknya pula.
"Kamu gak mau Kakak sentuh? Kamu marah?" tanya Ali melembut.
"Tangan Kakak tidak selembut dulu." Prilly menundukan kepalanya. Apa Ali akan kembali marah, jika dirinya jujur?.
"Maaf...," lirih Ali berbisik. Prilly diam membisu. Ia mendongak sebentar lalu kembali menunduk saat ia rasa Ali mengikis lagi jarak keduanya.
"Kamu kenapa? Takut?" Kini Ali berhasil mengangkat pelan dagu Prilly.
"Kakak menyakitiku, hiks." Prilly mengalihkan pandangannya, tak mau menatap Ali. Ia trauma mengingat perlakuan Ali tadi sore.
"Hey, lihat Kakak, Sayang." Ali meluruskan tatapan Prilly saat ia berusaha menunduk lagi.
"Kakak gak akan marah kalo kamu gak salah, Sayang. Kakak paling gak suka kamu membantah Kakak terus, Prill. Kalo kamu menurut Kakak gak akan marah." Ali menjelaskan perlahan.
"Terus kalo aku melakukan hal yang tidak Kakak suka, itu berarti Kak Ali boleh kasar sama aku? Kakak adalah orang pertama yang berani memperlakukan aku seperti ini. Aku tahu Kakak berhak ngapain aja termasuk nyakitin aku sekalipun, tapi apa Kak Ali tega?" Prilly bertanya pada diri sendiri dalam batin.
"Sekarang maafkan Kakak yah." Ali mengusap air mata Prilly yang masih saja setia berjatuhan saat ini.
"Untuk apa Kakak minta maaf?" lirih Prilly sedih.
"Karena Kakak sudah kasar sama Prilly."
"Menurut Kakak aku yang salah, 'kan? kenapa Kakak minta maaf? Kakak marah sama aku terus buat apa Kakak nyamperin aku ke sini?"
Ali bungkam bersama keheningan. Apa yang dikatakan Prilly benar adanya.
"Aku tau aku salah, Kak. Aku melanggar aturan yang Kakak buat, tapi apa Kakak gak mencari tahu dulu alasan aku pergi? yang Kakak lakukan langsung emosi tanpa bertanya, bahkan Kakak memberi waktu untuk aku menjelaskan saja tidak?" Prilly menjeda ucapannya sesaat.
Ali setia mendengarkan.
"Kakak tau apa tadi aku bawa sepulang pergi tadi? Itu bingkisan yang aku beli untuk Kakak sebelum aku pulang. Tapi belum juga Kakak melihat isinya, Kakak langsung buang gitu aja. Kakak marah-marah, Kakak bentak-bentak aku. Bahkan Kakak mengabaikan permohanan maafku, sampai akhirnya Kak Ali tega nyakitin aku, hiks."
Mata Ali berkaca-kaca mendengar seluruh penjelasan Prilly.
Ali bangkit dan berlari keluar kamar itu, Ia mencari sesuatu yang sempat ia lempar tadi. Setelah diteliti, akhirnya ia menemukan bingkisan mini berisi sebuah makanan di mana makanan itu adalah cemilan favoritnya.
"Sayang ... ternyata kamu belikan ini untuk Kakak. Maafkan Kakak, Sayang," batin Ali meratapi makanan yang sudah sedikit hancur lantaran tadi Ali melemparnya.
Ali kembali menghampiri Prilly di kamar.
"Sayang, Kakak minta maaf...," lirih Ali memeluk erat tubuh Prilly dari belakang.
"Aku udah maafin Kakak, tapi sejujurnya hati ini kecewa," batin Prilly dengan bahu yang bergetar. Ali mampu merasakannya.
Perasaan kecewa hadir saat apa yang diharapkan tidak berjalan sesuai dengan kenyataaan. Kecewa hanya bisa dirasakan diri sendiri tanpa bisa menuntut orang lain untuk ikut merasakan. Kecewa hanya mampu terpendam dalam hati tanpa bisa dilontarkan melalui amarah. Rasa-rasanya lebih sulit menyembuhkan rasa kecewa dari pada amarah semata. Pantaskah Prilly kecewa? Egoiskah ia marah? Bolehkah dirinya menghukum Ali balik dengan cara mendiamkannya?
"Prilly, maafkan Kakak, Sayang."
"Aku udah bilang buat apa Kakak minta maaf, tadi Kakak bilang sendiri aku yang salah, 'kan?"
"Kakak mengaku Kakak juga salah. Kamu boleh marah sama Kakak. Maafkan Kakak ya, Prill. Kakak mohon, Sayang." Ali semakin mempererat pelukannya.
"Semua orang gak suka dikecewakan, Kak."
"Kakak paham, Prill. Kamu boleh kecewa tapi jangan diamkan Kakak. Please."
Pada akhirnya siapa yang memohon?
Prilly melepaskan lengan Ali semakin membuat pria ini merasa pedih. Tak maukah wanitanya memberi maaf?
"Prill...." Ali memejamkan mata, tak sanggup lagi melihat penolakan Prilly yang sungguh menyakitkan.
Prilly menghadap Ali dan memanggilnya membuat Ali membuka kelopak matanya.
"Prilly udah maafin Kakak." Gadis ini langsung menubruk d**a bidang suaminya.
"Kak Ali jangan galak-galak seperti tadi, hiks. Prilly takut Kak, mengertilah...." Prilly memeluk erat punggung Ali.
"Terima kasih, Sayang. Kakak gak akan galak kalo kamu menurut dan tidak lagi melanggar aturan Kakak, yah!"
"Prilly usahakan, Kak."
"Sayang Kakak makan, ya, martabaknya. Makasih udah dibelikan." Ali membuka bingkisan mini itu yang ternyata isinya martabak manis kesukaan Ali.
"Gak usah, Kak. Ini pasti udah gak enak kan udah hancur. Dibuang aja aku gak pa-pa kok." Prilly merebutnya dari tangan Ali, ia bermaksud menyadarkan Ali bahwa dirinya masih kesal dengan apa yang sudah Ali lakukan tadi.
Ali yang melihat itu, otomatis merebutnya kembali.
"Nggak, Sayang. Ini pasti enak kok, kan gak kotor jadi gak salah dong kalo Kakak makan." Ali membuka kotak martabaknya dan melahapkannya di hadapan Prilly.
"Hmm. Enak, Sayang. Kamu mau gak?" tanya Ali masih mengunyah.
Prilly hanya menggeleng.
"Aku mau melihat Kakak kayak gini itu tadi bukan sekarang, aku merasa Kakak cuma bikin biar aku gak sedih lagi." Prilly bersuara dalam hati, ia kembali meneteskan air mata mengingat hatinya sakit atas perbuatan Ali.
"Sayang, kamu kok nangis lagi? Lihat nih Kakak makan martabaknya." Tangan Ali meraba pipi Prilly yang basah. Ia segera menepis air mata itu.
"Awh! Ja—jangan, Kak." Prilly menjauhkan tangan Ali saat semakin lama meraba pipinya.
Ali melihat luka kecil di pipi Prilly yang ia yakini atas ulahnya.
"Sakit, ya?"
Sudah tahu jawabannya. Mengapa masih bertanya? Pikir Prilly.
"Maaf ya pasti ini gara-gara Kakak, Prill. Kakak obatin mau?" tanya Ali membuat Prilly kembali menggeleng.
"Udah ya jangan nangis lagi. Kakak tau kamu masih sedih. Iya Kakak minta maaf kalo kamu merasa Kakak gak menghargai kamu," jelas Ali namun Prilly belum merespons ucapannya.
"Ini ... rambut kamu masih basah, ya? Kamu pasti belum sisiran, 'kan? Sini Kakak yang sisirin, ya." Ali berusaha mengembalikan senyum Prilly, namun nihil Prilly tetap setia dalam diamnya.
Ali bangkit menuju meja rias untuk mengambil sisir rambut.
"Rambut kamu panjang banget, Sayang, Kalo dipotong aja sama Kakak mau gak?" tanya Ali memancing Prilly agar kembali berbicara.
Semua usaha Ali gagal. Prilly menggeleng pelan. Ia mulai menyisir rambut Prilly walau Prilly mendiamkannya. Biasanya Prilly tampak ceria jika Ali bersedia ingin menyisir rambutnya, namun kali ia terus terlihat murung.
"Sayang, Kakak mohon jangan diamkan Kakak kayak gini. Katanya udah dimaafkan? Kakak sedih melihat kamu terus seperti ini, Sayang."
"Hikss." Sekalinya Prilly bersuara ia malah menangis.
Ali membawa Prilly ke dalam pelukannya. Ia menangis di pelukan Ali. Hati Prilly terlalu lembut untuk disakiti, ia tak terbiasa merasakan luka. Sebelum menikah dengan Ali, ia tak pernah menjalin kasih dengan siapa pun. Ali merupakan cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya.
Ali masih bingung dengan cara apa lagi agar Prilly berhenti menangis. Berbagai cara sudah ia coba, mulai dari menghiburnya agar Prilly kembali tersenyum. Memancingnya untuk berbicara, meminta maaf pun sudah dimaafkan, namun entak apa yang membuat wanita ini terus menangis.