Mata Anneta mengamati surat itu. Sekali lagi ia baca, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa penjelasan Ibu Naira sudah sangat jelas di sana. Lalu dengan mantap, ia memasukkan surat itu ke dalam sebuah amplop putih. Hanya ini cara satu-satunya. Dengan begini, dia tidak perlu repot-repot menyebut nama Naira, seperti permintaan laki-laki itu. Dan semoga, hati Alfian akan langsung luluh, lalu dia akan langsung memaafkan Naira. Yah, semoga saja semudah itu. Anneta mengambil satu pulpen dan menuliskan beberapa kata di atas amplop tersebut. Al, aku kira sudah saatnya kamu tahu apa tujuanku deketin kamu. Tolong kamu baca dulu surat ini. Kalau sudah, kamu bisa hubungi aku. Dan akan aku ceritakan bagaimana aku bisa melakukan ini semua. Tolong jangan marah, kita bicara baik-baik. Berulang kali Ann

