"Jadi, sepertinya saya butuh penjelasan. Apa sebenarnya yang membuat kamu mendekati, bahkan menguntit saya selama ini? Jangan pikir saya lupa dengan semua hal itu." Kalimat Alfian kembali berputar di kepalanya. Tadi malam mungkin dia masih beruntung, karena saat akan membuka mulut untuk menceritakan tentang Naira. Ponsel laki-laki itu berderit. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya ada sesuatu yang serius. Terlihat dari raut wajah Alfian yang nampak menegang marah. "Lebih baik kamu pikirkan jawaban paling masuk akal yang akan kamu berikan ke saya. Karena jangan kamu pikir saya akan melupakan pertanyaan ini." Anneta mendesah kesal. Dia tidak yakin, reaksi Alfian akan biasa-biasa saja jika dia menceritakan soal Naira. Malah mungkin laki-laki itu akan langsung membencinya. Entah apa sebe

