Alfian mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja. Menatap kosong sketsa gedung yang akan ia persentasikan beberapa jam lagi. Tapi ... seperti ada yang kurang dari hari ini. Entahlah ... semangat yang ia rasakan beberapa hari kemarin seolah menghilang. "Permisi, Pak. Kopinya." Ini dia yang membuat semangat kerjanya sedikit turun. Harusnya tidak boleh seperti ini. Dan sejak kapan dia menggantungkan semangat kerjanya pada seseorang? Atau lebih tepatnya pada seorang gadis, yang bahkan baru dikenalnya beberapa waktu. Ini benar-benar tidak seharusnya terjadi. "Ada yang bisa dibantu lagi, Pak?" tanya OB yang baru saja meletakkan secangkir kopi di hadapannya. Laki-laki itu menggeleng lemah, lalu mengisyaratkan OB tersebut untuk segera pergi, karena dia memang bukanlah seseorang yang ia ingink

