meet 3 twins
seorang perempuan dengan gaun selutut yang bermotif sederhana turun dari sebuah mobil, ia melepas kacamata hitamnya untuk melihat lebih jelas pemandangan didepannya, senyuman menawan pun muncul diwajahnya.
"pak ini bayarannya" ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang untuk sopir taksi yang telah mengantarnya kemari.
"terimakasih nona" ucap sopir taksi itu menerima uang dan langsung tancap gas meninggalkannya yang seperti sudah tidak sabar untuk mendekat pada pemandangan indah didepannya.
langkahnya mendekat kearah pasir yang mulai basah.
"Hawai, aku datang" gumamnya sambil melihat pantai indah didepannya.
rambut coklat gelapnya yang bergelombang sepunggung itu indah bergoyang terkena angin, sambil menikmati angin dan pemandangan, ia pun duduk dipasir halus itu dengan pandangan yang lurus kearah pantai.
disekitarnya terlihat banyak pasangan yang hanya menggunakan bikini dan berjemur.
tetapi perempuan bernama Rexana ini memakai gaun selutut berwarna cream yang bermotif bunga, juga sepatu slip on berwarna cream dengan Lis putih.
"huft akhirnya aku bisa libur dari jadwal padat photoshoot ku" gumamnya sambil menghela napas pelan.
Rexana seorang model tapi tidak terlalu terkenal, menjadi model saja karena paksaan kakaknya yang juga seorang model tapi ia sangat terkenal.
Rexana setuju dengan paksaan kakaknya untuk menjadi model dengan syarat tidak mau terlalu terkenal juga terlalu sexy, dan kakaknya pun menyetujuinya.
sekarang dia lagi berlibur 2 Minggu di Hawai, ini adalah hari pertama nya berlibur.
semua barangnya sudah diletakkan di apartemen milik kakaknya yang dekat dengan daerah itu.
5 hari lagi kakaknya pun akan menyusulnya kemari.
saat SMA Rexana ingin menjadi dokter, tapi takdir berkata lain dengan tidak lulus nya dia untuk berkuliah di jurusan kedokteran.
disaat itulah ia dipaksa menjadi model oleh kakak satu satunya bernama Roseanne.
Mereka yatim piatu saat Rexana baru memasuki bangku SMA, disaat itu lah kakaknya yang jarang pulang karena padatnya jadwal menjadi model dan kadang bermain film, dia pun menyempatkan waktu untuk merawat adik satu satunya itu.
bukan tanpa alasan Roseanne memaksa adiknya untuk menjadi model, dia ingin terus bisa mengawasi adiknya itulah alasan dari hati terdalamnya.
"ma, pa , Rexa kangen berlibur dengan kalian" gumamnya lirih sambil menatap pasir halus itu.
lama dia merenungkan masa masa yang sudah dilaluinya selama ini, akhirnya rasa lapar pun menghampiri perut rata nya itu.
untung saja dia membawa tas selempang yang berisikan dompet juga ponselnya.
"ah makan disana saja deh, tampaknya tidak terlalu ramai" gumamnya pelan sambil menatap ke salah satu cafe terdekat yang tampak sepi.
ia pun berdiri dan berjalan menuju ke cafe tersebut, saat memasuki nya penampilan didalamnya sangat sederhana, mungkin pengunjung antara 3-4 orang yang diliatnya.
setelah memesan dia pun menuju tempat duduk kosong dekat dengan jendela.
saat melihat sekitar, matanya membulat terkejut selang beberapa meja didepannya, ia melihat seorang yang sedang sibuk menulis sesuatu dibukunya sambil menikmati kopi.
seseorang itu memakai kacamata mungkin karena matanya kabur pikir Rexana.
setelah melihat dengan seksama dibalik kacamata itu ada mata yang sama persis sepertinya, warna rambut juga sama tetapi yang gadis berkacamata itu mencepol asal rambutnya dengan beberapa helaian yang terjuntai.
dilihat dari style nya seperti anak kuliah, yaitu bercelana panjang dengan kaos putih ditutupi cardigan rajut berwarna abu.
walaupun ditutupi pakaian, Rexana tetap melihat persamaan tubuhnya dengan gadis didepannya itu.
karena rasa penasaran yang begitu besar, setelah Rexana menerima kopi nya dia pun pindah ke meja gadis berkacamata itu.
"hai, aku boleh duduk disini?" tanya Rexana sesopan mungkin didepan gadis itu agar tidak menganggunya.
gadis itu tidak melihat langsung kearah Rexana, dia malah melihat kesekitar dimana banyak kursi yang kosong, dia berpikir mengapa harus kursi yang didepannya.
"masih banyak yang kosong" ucap gadis itu dingin sambil menatap Rexana, yang tadinya mau ia berikan tatapan tajam berubah menjadi tatapan terkejut.
Sakin terkejutnya dia mengangguk.
Rexana pun duduk didepannya, masih mengamati satu sama lain.
"kau siapa?" tanya gadis itu dengan pelan, karena dia sangat malas diperhatikan banyak orang jika dia berteriak terkejut.
"namaku Rexana" jawabnya sambil mengulurkan tangan dengan senyuman lembutnya.
melihat orang didepannya mengulurkan tangan, gadis itu pun menyambutnya "aku Helena" ucapnya singkat, Rexana pun mengangguk mengerti.
setelah itu Helena melepas cepolan di rambutnya membiarkan untuk tergerai dan melepas kacamata nya juga.
"aku seperti sedang bercermin" ucap Helena sambil menatap Rexana lekat.
"haha iya aku juga merasa seperti itu" ucap Rexana terkekeh pelan.
"kurasa lebih baik kita berbicara ditempat yang lebih sepi, aku tidak mau orang lain melihat dan akan heboh" ucap helena.
Rexana pun mengerti walaupun dia seorang model, dia tetap benci menjadi pusat perhatian.
"jadi kita akan kemana? aku masih tidak daerah ini karena aku berasal dari Korea, aku disini untuk berlibur" ucap Rexana dengan wajah bingung.
"aku tau karena dari lahir aku tinggal disini" ucap Helena, sambil mencepol lagi asal rambutnya dan memakai kacamata agar tidak ketahuan kembar sama orang lain.
ucapan Helena membuat Rexana tambah penasaran tentang gadis ini.
setelah selesai membereskan buku buku nya yang berserakan di meja, Helena pun mengajak Rexana keluar dari cafe tersebut.
"ayo kita ke toko buku yang memang ingin kudatangi tadi setelah dari cafe itu" ucapnya sambil berjalan cepat dengan sneakers berwarna abu miliknya.
Rexana pun mengikuti Helena, tak lama mereka sampai di toko buku yang lumayan sepi, padahal tempat ini begitu banyak dipenuhi buku buku pengetahuan dan ada tempat membacanya juga.
"mengapa disini sepi sekali" tanya Rexana pada Helena sambil melihat penjaga toko itu yang terlihat tenang membaca buku juga.
"bukan kah toko buku emang sepi apalagi terletak ditempat hiburan seperti ini" ucap Helena datar.
mereka berdua pun memilih tempat duduk dan mulai mengobrol.
"apakah kau memiliki keluarga asli orang Amerika?" tanya Helena tanpa basa basi dia sungguh penasaran, pikirnya Rexana adalah keluarganya yang mungkin pindah ke Korea.
"tidak, hanya saja ayahku campuran antara Korea dan Australia" ucap Rexana jujur dan sambil mengambil buku yang ada di meja itu, jadi lah dia melihat buku itu sambil mengobrol dengan Helena.
"lalu mengapa kita sangat mirip?" tanya Helena dengan bingung.
"aku tidak tahu" ucapan polos Rexana dengan tatapan yang seperti tidak tahu apapun membuat Helena memutarkan bola matanya malas, dia pun berdiri untuk mencari buku yang ada di rak belakang nya, sedangkan Rexana membaca buku novel yang didapat dimeja nya tadi.
saat sedang memilih buku tiba tiba ada yang tak sengaja menabraknya karena jalan terburu buru.
brakk
"maaf maaf saya tidak melihat jalan karena sedang terburu-buru" ucap orang yang menabrak Helena yang ternyata seorang gadis, Rexana juga menyaksikan itu.
gadis itu memakai rok hitam selutut dengan almameter putih atasannya seperti dokter, gadis itu mengucapka maaf sambil berjongkok untuk mengambil bukunya, setelah menyusun 3 buku tebal itu dia pun menenteng ditangannya sambil berdiri.
Dan betapa terkejutnya Helena dan Rexana melihat wajah gadis itu, "kembar lagi" ucap serentak mereka berdua, gadis itu Sakin terkejutnya menjatuhkan bukunya lagi tanpa disengaja tapi kali ini dibantu oleh Rexana yang segera ikut berjongkok untuk membantu sedangkan Helena masih mengamati mereka yang berjongkok didepannya.
"kalian siapa? kok wajah kita bertiga mirip?" tanya gadis itu dengan wajah penasaran, sambil berdiri dengan buku buku yang sudah terkumpul dilengannya lagi, Rexana juga ikut berdiri.
"lebih baik duduk dulu" ucap Helena sambil duduk dengan buku yang sudah dipilihnya telah diletakkan di meja depannya.
"namamu siapa" tanya Rexana lembur.
"aku Jazelyn, kalian?" tanya nya balik.
"aku Rexana dan dia Helena" ucap Rexana sambil memperkenalkan Helena yang masih mengamati Jazelyn dengan seksama.
"kalian anak kembar ya?" tanya Jazelyn.
"tidak bahkan kami baru bertemu 15 menit yang lalu didekat cafe sekitar sini.
"istilah kita memiliki 7 kembaran didunia, kurasa itu nyata bukan hanya mitos" ucap Jazelyn.
"aku juga berpikir seperti itu, terkadang aku juga penasaran apa yang terjadi jika ketujuh nya berjumpa" ucap Rexana.
"apapun yang terjadi pasti bukan hal yang baik" ucap Helena dengan nada dingin juga tatapan tajam kearah Rexana dan Jazelyn didepannya.
"mengapa seperti itu?" tanya Rexana penasaran.
"entahlah firasatku mengatakan seperti itu" ucap Helena dan melihat bukunya kembali.
Rexana dan Jazelyn saling menatap dan mengedikkan bahu masing masing pertanda mereka tidak tahu.