found out

1065 Kata
tak lama kemudian Jazelyn datang dengan mobilnya. "kamu naik mobil sendiri Jaz? malam seperti ini?" tanya Rexana kagum, kalau Caecilia mungkin sudah biasa naik motor sportnya tapi sang dokter magang dan lemah lembut seperti Jaz itu luar biasa. "ini yang pertama kali sih" jawab Jazelyn jujur tersenyum tipis, mungkin Sakin inginnya ia bertemu dengan para kembarannya jadi keberanian pun muncul pada dirinya. Rexana pun mengangguk mengerti, "nanti mau kutemani? searah juga kan" ujar Rexana tersenyum manis. "halah alasan bilang saja kau mau menumpang kan" ujar cae dengan sinis menatap Rexana, bukannya sakit hati tapi gadis itu menyengir sambil mengiyakan pernyataan Caecilia. "yaudah gak papa kok, nanti Rexana bareng aku saja" ujar Jazelyn lembut membuat Rexana senang. "oh iya Val, aku turut berduka cita ya" ujar gadis yang masih memakai jas putih kedokteran itu dengan wajah yang tulus. "iya, makasih ya" ujar Valerie tersenyum tipis. sedangkan Quella yang sudah sampai tapi masih 10 meter lagi menuju rumah neneknya Valerie, jadi ia memutuskan untuk turun dijarak itu agar 7 kembaran tidak ketahuan oleh James. "Quella turun disini saja" ujar Quella membuat James otomatis menghentikan mobilnya. "coba kulihat alamatnya" ujar James mengabaikan pernyataan gadis itu, sambil tangan yang ingin meraih ponsel Quella tapi ditepis oleh gadis itu langsung. "sudah dekat kok, makasih ya James" ujar Quella dengan ramah membuat James bingung dengan sikap gadis itu yang berbeda dengan sebelumnya. "aku akan menunggumu, jarang ada taxi jika sudah larut malam nanti" ujar James membuat Quella berpikir keras tentang alasan apalagi yang harus dibuatnya. mengingat Helena, Jazelyn yang mengatakan bawa mobil di chat grup tadi, gadis itu akhirnya punya ide untuk membuat alasan. "teman Quella ada kok yang naik mobil, nanti Quella numpang sama dia aja" ujar gadis itu masih dengan senyuman manisnya. James mengerutkan dahinya, aura gadis itu sekarang seperti yang diceritakan oleh sang ibu, tapi aura gadis itu yang sebelumnya berhasil membuatnya penasaran dan tertarik. "kau kenapa jadi seperti ini, bukan kah kemarin kau sangat kasar dan tidak sopan?" ujar James dengan senyuman miringnya membuat Quella panik harus jawab apa. "hm itu" gadis itu menggantungkan kalimatnya sambil berpikir keras. "aduh, Quella udah telat kayaknya, Quella pergi dulu ya James" ujar gadis itu dengan panik membuka pintu mobil ternyata James mengikutinya keluar dari mobil tersebut. "James tidak usah ikut" ujar Quella panik mendorong d**a pria itu agar menghentikan langkahnya, menuju satu satunya rumah yang ada disana, Quella yakin itulah rumah neneknya Valerie. James mengabaikan gadis itu sambil berusaha melangkah kerumah itu yang juga diyakininya adalah rumah yang akan dikunjungi gadis itu. melihat keributan kembaran lainnya yang sedang duduk di teras langsung terkesiap apalagi mendengar suara Quella dengan seorang pria. "aduh James jangan" ujar gadis itu panik tapi sudah terlambat pria itu melihat langsung di depan matanya 6 gadis yang serupa, melihat ke sampingnya ada Quella tengah menunduk ketakutan. "bodoh, sudah kuduga pasti kau takkan bisa kemari sendirian" ujar Caecilia dengan tatapan tajam ke arah Quella yang tengah menangis. Rexana dan Jazelyn menghampiri gadis itu dan menenangkannya. "kau lagi pasti kau yang memaksa kan?" ujar cae sambil menunjuk James, pria itu masih bingung tentang apa yang terjadi, apakah ini mimpi itulah dipikirannya sekarang. "tunggu dulu, kenapa wajah kalian mirip semua?" tanya pria itu dengan ragu akan penglihatannya. "takdir" ujar Valerie menghampiri James diikuti Caecilia, sedangkan Helena hanya menatap tajam pria itu di tempatnya berada. "jangan beritahu siapapun" ujar Caecilia dengan suara datar menatap tajam ke arah James. Valerie menepuk pelan bahu Caecilia agar tidak emosian, setelah itu menghampiri Quella yang mulai tenang. mereka membawa gadis polos itu ke teras untuk duduk dan menceritakan apa yang terjadi. bahkan James diabaikan, rasanya pria itu ingin pingsan melihat keenam gadis serupa di depannya tapi rasa keingintahuan membuatnya tetap sadar. "kalian sudah lama bertemu?" tanya pria itu penasaran. "bukan urusanmu" ujar Helena pada akhirnya gadis itu angkat bicara walaupun langsung tajam kalimatnya. melihat Quella masih menunduk takut, pria itu tidak tega. "aku yang memaksanya agar aku ikut, awalnya khawatir karena sudah larut malam tidak terduga kejadiannya seperti ini". ujar pria itu menatap iba ke arah Quella. "dia memang ceroboh, ingin sekali kujadikan polisi tidur untuk balapan ku nanti" ujar Caecilia gemas melihat Quella yang menatapnya memelas tapi ada rasa takut juga di mata basahnya itu. "jangan dong huaaaa, Caecilia jahat, Quella mau pulang, takut sama Caecilia" ujar gadis itu akhirnya menangis lagi. Helena memutarkan bola matanya malas, sedangkan Valerie menatap tajam ke arah Caecilia, Jazelyn mengisyaratkan pada cae untuk jangan mengganggu Quella karena gadis itu cengeng sekali dan juga polos pasti ia mengira menjadi polisi tidur sungguhan. Rexana melihat Quella pun kasihan jadi ia memeluk gadis itu dari samping sambil menenangkan nya. "tunggu dulu sepertinya aku mengenal ancaman itu" ujar James menatap Caecilia dengan senyuman miringnya. gadis bar-bar itu pun mengerti dan mengangguk pasrah. "iya, aku yang menjumpai mu beberapa hari yang lalu, dan memakai baju dari neraka itu" ujar Caecilia membuat senyuman puas dari James yang sudah tahu tentang apa yang terjadi. "hm bisakah kamu menyimpan ini semua?" tanya Jazelyn sopan pada pria itu. "tenang saja aku tidak akan memberitahu siapapun" ujar James dengan wajah antusias. tak lama terdengar suara motor membuat degup jantung keenam kembaran itu cepat berdetak, ya karena siapa lagi orang terakhir datang selain Aleandra, dan gadis itu takkan pernah mau naik motor sport kecuali ia bersama teman masa kecilnya itu. ternyata sesuai dugaan Aleandra datang dengan Adrian, wajah gadis itu santai tapi bergumam maaf sambil menghampiri mereka di teras. sedangkan pria bersama Aleandra masih terbengong melihat pemandangan didepannya. "sampai kembar berapa?" tanya James santai memecah keheningan. "dia yang terakhir" jawab Valerie mengarahkan pandangannya ke Ale. "Ale, ini maksudnya apa?" tanya Adrian dengan susah menelan salivanya. "kembar 7" jawab Ale santai mengambil cemilan lalu mengunyahnya. "mengapa kau juga membawa dia?" tanya cae frustasi. "kepala batu dia mah" ujar Ale santai. "Adrian sini duduk biar kami jelaskan" ujar Rexana sopan. akhirnya Adrian pun duduk dan mendengar penjelasan dari mereka semua bahkan Jazelyn yang menggantikan tempat Aleandra beberapa hari yang lalu juga diberitahu. akhirnya pria itu mengerti dan berjanji takkan memberitahu ke media tentang mereka. ketujuh kembaran dengan dua pemuda saling berkenalan walaupun sulit bagi dua pria itu membedakannya, tapi aura khas dari masing-masing gadis itu terlihat jelas. Seperti bar-bar nya Caecilia, polos dan cengeng Quella, sopan dan lembut tentu saja Jazelyn, cuek dan paling santai Aleandra, Helena yang paling dingin, dan Valerie seperti yang paling tua diantara mereka semua ya gadis itu bersifat dewasa, terakhir naif dan lugu tentu saja Rexana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN