Zilka dibawa ke sebuah rumah berdesain klasik. Dia melewati jalan setapak menuju bangunan utama, menatap tumbuhan menjalar yang dipotong rata. Zilka menaiki undakan tangga teras, menatap dua tiang besar dengan ukiran bermotif rumit. "Silakan masuk, Miss. Tuan Morales telah menunggu di ruang duduk!" Helaan napas terdengar dari Zilka. Dia tampak resah. Rumah besar ini tampak anggun, tetapi terasa dingin. Seperti istana emas yang dibangun di tengah neraka. Siapa yang sudi menghuni? Langkah-langkah Zilka semakin berat saat ia masuk ke ruang tamu. Dinding-dindingnya bercat krem, dengan banyak lukisam abstark. Vas-vas mahal tertata indah di lemari kaca. Joe dan Juan terus membimbing Zilka, hingga tiba di sebuah ruang duduk dengan perapian manual dan sofa lembut berlapis beludru. "Sir,

