"Hai wanita hebat!" Mia menatap wanita kuyu yang baru saja membuka pintu kamar, menunjukkan kedua mata yang sembab. Penampilan Zilka tak bisa dibilang baik. Wajahnya pucat, kulit bibirnya retak-retak, matanya cekung, dan pipinya terlihat semakin tirus. Mia merasa nyeri melihat penampilan Zilka. Dia ingin memberikan simpati langsung, tetapi segera ia tahan. Mungkin akan lebih mudah bagi Zilka bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. "Aku membawakanmu beberapa dress koleksiku! Kuharap kau mau menerimanya!" Mia mengangkat paper bag, membiarkan bagian atasnya terlihat. "Aku … oh!" Suara Zilka serak. Dia menatap paper bag yang dibawa Mia, menggeleng lemah. "Dressmu terlalu istimewa. Saat ini aku tak bisa menerimanya!" Zilka tahu perkiraan harga masing-masing potong dress yang dides

