Kesalahan (Kedua)

1153 Kata

Theodore berdiri di balkon kamar, menghisap cerutu di antara celah jemarinya dengan gerakan lambat. Malam selalu tampak sama. Dengan atau pun tanpa bintang. Dengan atau pun tanpa rembulan. Langit pun tampak tak pernah berubah. Sekalipun terang, sekalipun mendung. Atau bahkan hujan badai. Namun, malam ini tampak berbeda. Theodore merasa tenang menatap rembulan setengah purnama di langit sana. Cahayanya yang lembut tertumpah ke dunia, menjadi sesuatu yang Theodore nikmati. Bibir Theodore melengkung membentuk senyuman samar. Kelopak matanya sedikit terpejam, menghadirkan gambaran Zilka. Ya Tuhan. Sosok itu membuat Theodore melupakan banyak hal. Dua jam sebelum ini, dia terpaksa keluar demi mencari wanita lain sebagai pelampiasan. Nyatanya, baru setengah jalan, ia memilih kembali. Suasan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN