Meminta Maaf

1041 Kata
Tidak ada yang tahu akan seperti apa dan bagaimana. Yang pasti semua berawal dari mimpi. Dan saat manusia itu ingin mewujudkan mimpi. Saat itulah pasti ada jalannya yang akan diciptakan oleh Tuhan. Jalan yang paling tidak terduga. Jalan yang hampir sulit dipercaya. Jalan yang bisa sulit untuk dilalui. Tapi, yakin semua akan indah pada waktunya. ** Melangkah dengan pasti. Tapi, langkah itu begitu berjalan perlahan. Keringat dingin terasa di telapak tangan. Ririn takut, tapi lebih takut lagi jika adiknya tidak segera kembali bersamanya. Ia berusaha bersikap tenang, berpikir baik. Mungkin saja pria yang diketahui bernama Ariel itu sebenarnya pria menyenangkan yang hatinya penyayang. Buktinya, adiknya, Rika mau duduk satu meja dengannya. "Permisi! Assalamualaikum!" ucap Ririn yang sudah sampai di meja Ariel. Ia berdiri mematung dengan senyuman yang memaksa. "Kamu!" sapa Ariel sangat terkejut. "Kakak!" ucap Rika. Ia segera turun dan memeluk erat kakaknya. "Kakak dari mana aja sih. Dari tadi Rika cari tapi nggak ada." "Kakak kan udah bilang, tunggu dulu di meja," ucap Ririn. "Tapi Kak, es krim Rika udah abis. Untung Kak Ariel tadi nolongin Rika. Kalau nggak pasti Rika udah diusir sama pemilik cafe." "Apa!" keget Ririn mendengar penuturan adiknya. Ariel kemudian menarik bahu teman kecil yang baru dikenalnya itu. "Minumannya dihabiskan dulu. Kan udah kakak belikan," ucap Ariel meminta. Rika tersenyum. "Iya Kak, aku minum dulu. Sini kak Ririn duduk aku nggak mau kak Ririn menghilang lagi." Mendengar itu, dan seretan dari tangan Rika. Ririn pun terpaksa mengambil kursi yang ada di depan Ariel. Ia merasa canggung dengan situasi itu. Tapi, melihat adiknya yang seperti sedang bahagia. Ia pun memberanikan diri untuk mengatakan sepatah dua kata pada Ariel sebagai ucapan terima kasih. "Sebelumnya aku minta maaf," ucap Ririn memulai pembicaraan. Rika yang tadinya sibuk minum minumannya. Kini sepasang matanya ikut memperhatikan dua orang dewasa yang sedang berada dalam satu meja dengan dirinya. 'Kak Ririn, ngomongin apa sih? Kok kelihatan serius banget,' batin Rika. Ariel mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Ia melihat ke arah Ririn. "Minta maaf buat apa?" tanya Ariel dengan begitu dingin. "Buat waktu itu. Pas kita pertama kali bertemu di pasar," sahut Ririn. Tanpa menunjukkan ekspresi senangnya karena mendengar permintaan maaf dari Ririn. Ariel kembali melihat ke arah tampilan layar laptopnya yang menyala. "Kenapa minta maafnya baru sekarang?" "Iya kan, pas aku ketemu kamu pertama kali. Kesan pertamanya, kamu kayak orang jahat," jelas Ririn lebih lanjut. Rika yang sedang menikmati minumannya, langsung menyela perkataan kakak perempuannya itu. "Dia nggak jahat kok Kak, dia pria yang baik. Buktinya aja, Rika seneng bisa minum bareng sama kakak ganteng ini." Ariel pun tersenyum puas mendengar ucapan dari Rika. Terdengar begitu jujur dan polos. Ia pun mengusap kepala gadis kecil itu dengan sangat gemas. Sementara lirik hanya bisa melotot kesal kepada sang adik. Ia merasa tidak mendapat dukungan dari adik kecilnya itu. "Dia emang baik kok Kak. Sebenarnya tadi pas aku cariin kak Ririn, aku nabrak pelayan cafe yang lagi bawa gelas terus gelasnya pecah. Aku dijewer, dimarahin, habis itu kakak Ariel ini bantuin aku, nolongin aku biar nggak di jewer atau dimarahin lagi. Terus aku dibeliin minuman ini. Biar diam dan tenang, tadi juga sempet ditawarin es krim, tapi aku nggak mau. Pokoknya dia baik banget kak. Oh iya,gelas yang aku pecahin juga udah diganti rugi sama Kak Ariel lho." Rika mengatakannya sambil menatap ke arah Ririn. Ia menunjukkan sorot mata yang seperti biasa, tidak pernah berbohong dan berkata yang sebenarnya. Rasanya Ririn sedikit malu. Apalagi ia melihat Ariel begitu santai dan juga melempar senyum kepada Rika. tidak bisa dibayarkan ekspresi Ririn seperti apa ia hanya menunduk menatap meja yang kosong. Ada penyesalan dan bingung menjadi satu. Tampaknya kali ini,ia memang harus meminta maaf dengan tulus dan berharap tidak bertemu lagi dengan sosok yang bernama Ariel itu. "Aku bener-bener salah menilai kamu. Sekali lagi aku minta maaf. Kamu boleh kok tendang benda apapun dan kena kepalaku. Itupun kalau kamu tega sih buat melakukannya," ucap Ririn. "Ya aku maafin, tapi apa kamu beneran mau aku tendang sesuatu terus kena kepalamu," sahut Ariel yang masih sibuk memandang ke arah laptop. Ririn mengerutkan kedua alisnya. "Jadi, kamu beneran mau nimpuk aku. Aku udah minta maaf dengan tulus lho." "Ya mau gimana lagi kalau aku emang mau nimpuk kamu. Katanya tadi, aku boleh tendang apapun. Terus kena kepala kamu," ucap Ariel sambil menatap tajam ke arah Ririn. Ia menunjukkan wajahnya yang serius seperti sedang menghadapi klien penting. "Tapi kan aku nggak berharap kayak gitu," ucap Ririn tidak percaya. Ia kini, justru malah merasa kesal kepada pria yang ada di depannya. "Terus kenapa tadi kakak bilang begitu kalau nggak salah kan minta maaf aja udah cukup," sela sang adik, tampaknya Rika benar-benar lebih memihak kepada Ariel. "Yang dibilang Rika itu benar. Atau kalau kamu nggak mau aku timpuk balik. Kamu bayar aja uang yang aku keluarin buat Rika tadi," tambah Ariel, kali ini ia bergerak mematikan laptopnya dan menutup alat canggih tersebut. "Tambah juga bayarin sekalian, uang yang aku pakai buat beli obat untuk mengobati kepalaku yang pusing, gara-gara kena timpuk kamu tadi pagi," tambah Ariel. "Apa! Kok jadi gitu sih," ucap Ririn terkejut. Ia tiba-tiba ingat dengan perkataan teman kerjanya tadi siang. Ia tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan masalah rumit seperti ini jika benar-benar bertemu dengan Ariel sekali lagi. Sementara adiknya ternyata lebih memihak pada Ariel. Terlihat mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain. ** Sebuah lapangan yang ada di perkampungan kecil itu tampak sepi. Ada mobil yang mulai menepi ke bagian pintu masuk lapangan, dan terparkir di sana. Seorang pria lalu turun, disusul seorang gadis dan juga seorang bocah perempuan kecil. "Lihat Rika, Ariel beneran bawa kakak ke lapangan. Kamu juga tega banget sih sama kak Ririn. Kenapa tadi kamu di meja kafe bukannya belain kakak sendiri, malah ikutan nyalahin. Sekarang Kak Ririn beneran mau ditimpuk sama abang itu," ucap Ririn pada Rika. "Iyakan Rika pikir Kak Ariel tadi cuma bercanda," sahut Rika. Saat ini, Ariel sudah berada di tengah lapangan. Ia sedang membuka minuman kaleng yang sejak tadi dibawa. Tampak pria itu mulai meneguknya hingga habis minuman kaleng tersebut. "Kalau nanti kakak sampai pingsan. Tolong ya! Jangan ditinggal pergi. Bantuin kakak bangun dulu," ucap Ririn pada Rika. Ia pun mulai berjalan mendekat ke arah Ariel yang siap untuk menendang kaleng kosong itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN