Jodoh Sekali

1022 Kata
Benar saja, tidak lama berselang. Kakek Anjas ingin ayam goreng yang dibawa oleh Ariel tadi. Ia pun memperhatikan seluruh hidangan yang ada di meja. "Nek, ayam gorengnya kamu habiskan ya?" tanya Kakek Anjas. Sepasang matanya sudah menyapu seluruh sisi meja. Nenek Sarah melotot. Ia merasa seperti diajak ribut mendengar kakek Anjas mengatakan hal demikian. "Kan Kakek yang suka ayam. Kok nuduh nenek sih." "Iya, soalnya yang di sini kan cuma Nenek." "Tapi, Nenek nggak mungkin habiskan ayamnya." "Terus?" *** Ruang keluarga adalah tempat yang paling mungkin bisa didatangi oleh Ariel saat berkunjung ke rumah di kampung milik kakek neneknya. Di tempat itu, ia bisa bernostalgia dengan berbagai hal. Buku album tua, berisi foto lama tentang kedua orang tuanya dan masa kecilnya. Mama Ariel adalah seorang wanita yang pandai sekali memasak. Ia begitu lihai memotong segala sayuran dengan kecepatan di atas rata-rata. Sampai-sampai, Ariel kecil selalu suka menunggu di dapur hanya untuk melihat mamanya memasak. “Mama Papa, aku kangen sama kalian,” ucap Ariel sambil memperhatikan foto kedua orang tuanya yang telah tiada saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Dipeluk oleh Ariel buku album foto tersebut. Ia berusaha merasakan sentuhan sayang dari kedua orang tuanya yang dulu pernah dirasakannya. Terpejam kedua matanya dengan sangat kuat. Ia berusaha menghilangkan kepingan rindu yang berkumpul dalam relung hatinya. Hari-hari indah yang pernah dilalui seorang Ariel bersama kedua orangtuanya masih bisa dirasakan meski hanya dalam imajinasi. “Aku selalu mendoakan kalian, mama papa.” Ariel menghapus bulir bening yang memang akan selalu menetes setiap ingat mereka. Ia hanya bisa seperti ini. Belum ada hal di dunia ini yang bisa membuat Ariel lupa akan duka waktu itu. Bahkan nenek kakeknya sekalipun tak mampu membuatnya bisa tersenyum bahagia seperti dulu. Ariel pun meletakkan lagi album foto kenangan tersebut. Ia kemudian mencari kacamatanya yang seingatnya ditaruh di rak kecil di dekat rak buku album foto. “Itu dia!” ucap Ariel. Tak lupa juga ia meraih laptop yang sejak tadi sudah disiapkan untuk mengecek email masuk dari Darren, seseorang yang dipercayai sebagai asisten sekaligus tangan kanan di perusahaannya. Mencari tempat yang tenang dan nyaman untuk bekerja. Selain di teras baginya tidak ada tempat yang begitu asik dan indah. Karena di sana ada berbagai pot hias berisi bunga kesukaan mamanya. “Rumah ini memang banyak kenangan,’ batin Ariel. Beberapa menit dirinya bergelut dengan laptop. Tak ada yang ia hasilkan. Loading internet yang diterima laptopnya begitu sangat lama. Kesabarannya mulai habis. Tanpa pikir panjang, ia pun mengambil kunci mobil. Tak lupa memberitahu sang nenek yang masih di meja makan. Ia juga membawa tas laptopnya di dalam kamar. "Nek, aku mau ke kafe wifi dulu ya!" ucap Ariel. "Ngapain ke kafe wifi?" tanya nenek. "Ariel butuh jaringan internet buat kerja sebentar,” sahut Ariel. Ia pun segera menuju pintu depan. Tapi belum sampai keluar rumah. Ariel sekali lagi berteriak. "Ayamnya ada di ruang keluarga Nek, sama piringnya. Tadi aku makan sambil lihat foto papa mama." "Apa!" Nenek Sarah lalu berdiri dan mengecek sendiri. Benar ada sebuah piring dengan penuh ayam di sana. Ingin rasanya marah pada Ariel, tapi cucunya itu sudah pergi. "Dasar bocah, bikin Kakeknya naik tensi aja!" Nenek Sarah menggelengkan kepalanya. ** Berhenti di depan sebuah coffe shop, Ariel mencermati sekelilingnya sebelum turun. ‘Rame,’ batin Ariel. Pria dengan tinggi tubuh sekitar 185 cm itu lalu turun dari mobil. Ia muncul dan langsung menarik perhatian para pembeli di warung kopi tersebut. Beberapa pengunjung yang melihat begitu terpesona dengan postur tubuh Ariel. Tinggi, kulit bersih yang tidak hanya ada di wajah. Tapi, juga seluruh kulit tubuhnya. Ariel memang hanya mengenakan kaos hitam dengan celana pendek berwarna abu-abu gelap. Membuat sebagian kulitnya yang tidak tertutup bisa terekspos sempurna. Apalagi ada cahaya temaram dari lampu berbentuk bola pijar menghias di langit-langit warung yang berlatar persawahan itu. Menambah kesan syahdu dan terlihat cahayanya memantul di wajah Ariel. Pria itu bersinar seperti bulan di langit. Ariel mulai berjalan menuju tempat memesan minuman. Beruntung di sana ada cappucino atau jenis kopi ekspresso lainnya. Ariel memesan salah satu yang ada, ditambah chicken popcorn yang katanya menu cemilan andalan di sini. "Bayar nanti atau sekarang?" tanya pelayan yang melayani Ariel. "Nanti!" Ariel kemudian menuju sebuah meja kosong. Meletakkan tas dan mengambil laptop untuk bekerja. Seorang pria yang menjadi pelayan mengirim pesanan sekaligus memberikan sandi kafe wifi tersebut kepada Ariel di mejanya. "Terimakasih!" ucap Ariel. Ia lalu memfokuskan lagi ke layar laptop untuk bekerja. Setelah memasukkan sandi ke laptopnya. Ia pun akhirnya bisa membuka surat elektronik yang sejak tadi lama sekali loadingnya. 'Wah, ada banyak email ternyata,' batin Ariel. Bersamaan dengan itu ada seorang gadis kecil berlari dan tanpa sengaja menabrak pelayan yang sedang membawa minuman. "Pyarrr!" Suara gelas yang terbuat dari beling pecah menjadi berkeping-keping. "Aduhhh, adik kecil ngapain sih di sini. Lihat kan, gelasnya jadi pecah gara-gara kamu tabrak." "Maaf Kak, aku lagi cari kakakku. Tadi, dia ke sini. Tapi, sekarang nggak ada." "Alasan kamu," ucap si pelayan sambil menjewer telinga adik kecil yang tersebut. "Ahhh, sakittttt …." Tidak ada yang peduli atau ingin menolong. Ariel yang sedikit terganggu mulai memperhatikan. "Sama anak kecil gitu amat sih!" gerutu Ariel. Ia pun berdiri dan mendekati gadis keci tersebut. Bersamaan dengan itu, Ririn yang sedang mendatangi seorang temannya sedang kehilangan adiknya. "Aduh, Rika mana sih. Udah aku bilangin buat diam aja di meja. Aku lagi belajar bikin kopi ekspresso, kenapa dia malah pergi. Udah aku belikan es krim juga. Lagian dia kenapa selalu minta ikut aku kemana aja. Tapi, diakan adikku. Temba bermainnya cuma aku,' pikir Ririn sambil terus mencari keberadaan adiknya. Ririn berjalan berputar di sekitar kafe. Hingga tiba di deretan meja para pengunjung. Sepasang matanya yang sedang melakukan pencarian, akhirnya menemukan Rika. "Itu, dia Rika," ucap Ririn sambil mencermati dari jauh. Lalu ia sadar akan sesuatu. "Tunggu, Rika kok bisa sama cowok itu," ucap Rika. Ia tanpa sadar memundurkan langkahnya. Mencari tempat sementara untuk bersembunyi dan berpikir sejenak. 'Ya ampun gimana ini? Jodoh banget sih aku sama dia bisa ketemu terus kayak gini.' Ririn hampir tidak ada ide. Ia tampaknya memang harus menyerah saja dan meminta maaf dengan baik-baik. Tak mungkin adiknya dibiarkan berlama-lama dengan pria yang pernah bertengkar dengan dirinya itu. Lagipula dirinya juga tidak bisa terus menghindar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN