Tak terasa sudah lima tahun berlalu, itu berarti usia putri pertamanya sudah menginjak empat tahun. Farhat merasa sangat bahagia dengan keluarga kecilnya yang hidup sederhana apa adanya dalam keadaan damai serta bahagia. Farhat berhadap semoga saja ia tetap bisa menerima kebahagiaan yang telah Tuhan berikan ini. Meskipun pekerjaannya sama sekali tidak ada perubahan yaitu tetap menjadi pekerja serabutan, tetapi Farhat tetap bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan. Baginya, tak mengapa harta sedikit asal hidup tenang dan bahagia ketimbang memiliki harta banyak, tetapi tidak bahagia. Memiliki Eliza sebagai istrinya dan putri cantik bernama Fia menurut Farhat sudah lebih dari cukup, apalagi kedua perempuan kesayangannya itu sangat mengerti kondisinya dan tak pernah menyusahkannya.
Farhat merasa senang sekaligus semangat dalam memperhatikan tumbuh kembang Fia. Fia begitu cerdas dan mudah ketika ia minta belajar, putri kecilnya itu selalu cepat tanggap dan maksud dengan apa yang ia ajarkan. Farhat dan Eliza sama-sama berbagi tugas dalam urusan rumah tangga, hal itu sudah dilakukan sejak lama saat pertama kali mereka menikah dulu. Sampai hari ini, Eliza sama sekali belum pandai memasak. Namun, Farhat sama sekali tidak mempermasalahkannya karena memang ia yang meminta agar Eliza menjadi ratu di rumahnya dan bukan seperti pembantu yang serba bisa.
"Mas, sarapannya udah siap!" teriak Eliza dari arah dapur.
Eliza memang tidak pandai memasak, tetapi jika hanya menggoreng telur saja tentu ia bisa. Itu saja ia meminta bantuan Farhat agar suaminya mengajarinya.
"Iya, Sayang!" Farhat langsung menghampiri sang istri yang sedang menaruh nasi di atas meja.
"Fia mana, Mas?" tanya Eliza.
"Ada di kamar, lagi siap-siap ke sekolah dia. Mas mau bantuin tadi nggak boleh, katanya mau belajar mandiri," jawab Farhat.
"Mandirinya nurun dari kamu itu, Mas. Padahal masih kecil begitu," ujar Eliza menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalo cantiknya nurun dari kamu, Sayang." Eliza hanya tertawa mendengar rayu gombal suaminya.
"Bisa aja kamu, Mas. Pagi-pagi udah ngegombal."
"Selamat pagi, Ayah, Ibu!" Fia yang sudah siap dengan seragam sekolah TK-nya itu langsung menyapa ayah dan ibunya.
"Pagi juga, Sayang."
"Pagi, putri cantiknya Ayah. Sini duduk di samping Ayah." Farhat mengangkat tubuh Fia dan mendudukkannya di atas kursi sampingnya.
"Wah sarapan apa kita hari ini, Bu?" tanya Fia begitu antusias.
"Telur mata sapi, Sayang, mau makan?" Fia mengangguk dengan antusias.
Eliza tersenyum, ia menyiapkan piring berisi nasi dan telur mata sapi untuk sang suami dan Fia. Melihat kedua orang yang disayanginya itu menikmati sarapan sederhana dengan suka cita membuat Eliza merasa bahagia karena kerja kerasnya diterima dengan baik.
"Eum, ini enak banget. Sering-sering masak telur mata sapi ya, Bu, Fia suka banget makannya!" ujar Fia.
"Iya, Sayang. Dihabisin ya." Eliza mengusap lembut rambut Fia dengan penuh perasaan sayang.
"Sayang, ayo duduk. Kamu juga harus makan," ujar Farhat pada sang istri.
"Iya, Mas." Eliza duduk di samping Farhat.
Keluarga kecil itu pun menikmati sarapan mereka dengan suka cita. Hingga tak terasa kalau mereka telah menghabiskan sarapan sederhana dengan lauk hanya telur mata sapi.
"Bu, Fia berangkat ke sekolah sama Ayah ya." Fia berpamitan pada sang ibu.
"Iya, hati-hati ya, Nak. Harus belajar yang pinter, jangan nakal di sekolah." Fia mengangguk mendengar nasihat ibunya.
"Siap, Bu!" Anak itu menaruh tangannya di atas dahinya, berlagak seperti hormat di depan riang bendera.
"Sayang, aku berangkat sekarang ya." Farhat keluar dari kamar menghampiri Eliza dan juga Fia.
"Iya, Mas. Hati-hati ya." Eliza mencium punggung tangan suaminya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ayo putri kecil Ayah, kita naik motor sekarang." Farhat menggendong Fia dan mendudukkannya di atas jok motor bagian depan.
Motor yang saat ini berada di depan rumah Farhat merupakan motor bekas yang Farhat beli, ia mendapat uang untuk membeli motor itu dari hasil tabungannya bekerja selama dua tahun. Meksipun motor bekas, setidaknya Farhat bersyukur karena dengan adanya motor ini ia jadi bisa menambah penghasilan dengan menjadi tukang ojek. Saat pergi ke pasar pun lebih mudah dan efisien ketimbang naik angkot.
"Berangkat, Ayah!" teriak Fia sambil menunjuk ke arah depan.
"Siap, si kecil kesayangan."
Farhat langsung menjalankan motornya melewati jalan raya ibukota. Sekolah Fia cukup jauh dari rumah kontrakan mereka, butuh waktu kurang lebih lima belas menit baru sampai.
"Sini Ayah bantu turun." Farhat turun terlebih dulu dari motornya kemudian mengangkat tubuh Fia dan menurunkannya dari jok motor.
"Makasih, Ayah."
"Sama-sama, Sayang. Belajar yang rajin ya, jangan nakal." Fia mengangguk dengan wajah polosnya.
"Ayah, sini!" Fia meminta agar Farhat menunduk, tentu saja pria itu langsung menuruti keinginan putrinya itu.
"Ada apa, Sayang?"
Cup
"Ayah semangat kerjanya ya, cari uang yang banyak biar Fia bisa beli boneka yang buanyak banget!" ujar Fia setelah mencium sekilas pipi ayahnya.
"Iya, Fia. Ayah pasti akan giat bekerja, kamu juga belajar yang rajin ya. Jangan bertengkar sama teman-teman kamu." Fia mengangguk.
"Fia masuk ke dalam ya, Ayah. Dadah!" Fia melambaikan tangannya sambil berjalan memasuki gerbang sekolahnya, Farhat balas melambai sambil tersenyum ketika melihat Fia yang sudah memasuki gerbang sekolah TK-nya.
"Baik-baik ya, Nak, di dalam," gumam Farhat.
Pria itu menjalankan motornya pergi dari sekolah Fia menuju pasar. Memiliki motor mempermudah Farhat dalam mencari uang, meski kini sudah menjadi tukang ojek, Farhat juga masih tetap membantu mengangkut barang-barang pembeli. Kali ini tak sampai pada kendaraan mereka saja, terkadang Farhat ditugaskan oleh beberapa pembeli untuk mengantar barang itu ke rumah mereka. Jelas saja hal itu menambah penghasilan Farhat. Dengan penghasilannya yang semakin bertambah ini, Farhat berharap dapat membahagiakan istri serta putrinya. Meskipun tak seberapa dibanding para pekerja perusahaan, tetapi setidaknya uang yang ia dapatkan sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan kedua perempuan yang paling ia sayangi itu.
"Mas Farhat, bisa anterin barang-barang Ibu ke rumah?" pinta salah seorang ibu-ibu langsung menghampiri Farhat.
"Boleh, Bu. Barangnya ada di mana? Biar sekalian saya angkat," ujar Farhat.
"Barangnya ada di sana, Nak. Ibu minta tolong banget ya." Ibu-ibu itu menunjuk letak barang beliannya yang tidak bisa dikatakan sedikit.
"Baik, Bu."
Farhat langsung melaksanakan pekerjaannya itu, yaitu mengangkat barang-barang itu dan menaruhnya di atas motornya kemudian pergi ke alamat rumah ibu itu. Dia tak perlu bertanya lagi karena sudah mengetahui rumah ibu itu, beberapa kali Farhat memang mengantar barang belanjaan ibu yang bernama Bu Halimah itu. Farhat memang sudah hafal jalan-jalan rumah ibu-ibu yang sering memintanya mengantar barang. Tinggal di kota besar ini dalam jangka waktu yang sudah lama alias bertahun-tahun membuat Farhat tidak takut tersesat di jalan karet jelas saja ia sudah hafal di luar kepala arah jalan pulang.
Di tengah ia yang sedang mengantarkan barang, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring pertanda ada sebuah panggilan masuk. Farhat langsung menghentikan laju motornya, menyangga barang-barang itu dengan kakinya agar tak terjatuh kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
"Hallo?" Farhat langsung menyapa nomor yang tak dikenali itu.
"Hallo, apa ini dengan Pak Farhat? Aslinya Fiana?" tanya wanita suara di seberang sana.
"Iya benar, ini siapa ya?"
"Saya Kenanga, Pak, wali kelas Fiana di sekolah," jawab wanita bernama Kenanga itu.
"Ah ternyata Ibu Guru, ada apa ya Bu? Apa terjadi sesuatu dengan putri saya di sekolah?" tanya Farhat.
"Bisa Bapak datang ke sekolah sekarang? Ada yang ingin saya bicarakan mengenai Fiana, Pak," ujar Kenanga.
"Ada apa ya, Bu? Apa terjadi sesuatu pada Fia?" Farhat malah jadi panik karena Kenanga tidak memberitahunya mengenai Fia.
"Fiana tidak apa-apa, Pak. Hanya saja temannya terluka karena tadi Fiana sempat bertengkar dengan temannya, saya meminta Bapak datang sebagai wali Fiana karena ibu dari anak itu ingin bertemu dengan Bapak." Sebenarnya Kenanga tidak ingin membahasnya di telepon, tetapi Farhat terlalu memaksa sehingga mau tak mau ia membahasnya juga.
"Ah, baik, Bu. Saya akan segera ke sana."
"Baik, Pak." Tut.
Farhat segera menjalankan kembali motornya menuju rumah pemilik barang yang akan ia antar ini. Farhat harus cepat karena setelah ini dia akan pergi ke sekolah Fia. Sama sekali tidak terbesit di pikiran Farhat kalau Dia bertengkar dengan temannya, dia sangat mengenal putrinya itu. Farhat yakin kalau ada sesuatu penyebab yang membuat Fia dan temannya itu bertengkar. Setelah barang-barang itu diantar selamat sampai tujuan, Farhat segera tancap gas menuju sekolah Fia. Rasa khawatir mulai mengganggu pikirannya, takut kalau Fia saat ini merasa sendiri dan takut di sana karena dihakimi.
"Permisi, maaf saya terlambat." Farhat memasuki ruangan wali kelas itu sambil membungkuk karena sadar ia terlambat.
"Ayah!" Fia langsung menghambur dalam pelukan ayahnya.
"Fia, kamu nggak apa-apa 'kan, Nak?" tanya Farhat khawatir. Pria itu memeriksa seluruh tubuh Fia, kalau-kalau ada luka sekecil apapun di tubuh putrinya.
"Oh jadi ini ayahnya Fia!" ujar suara seorang wanita yang terdengar begitu sinis.
"Ah Ibu, salam kenal, Bu. Saya ayahnya Fia." Farhat mengulurkan tangannya mengajak ibu yang ia yakini wali murid dari teman Fia, tetapi ibu itu sama sekali tidak menerima uluran tangannya membuat ia pun langsung menarik tangannya kembali.
Tatapan dari ibu itu terlihat begitu sinis ketika menatapnya, Farhat sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena sudah banyak orang yang menatapnya seperti ini. Baginya ini sudah biasa sekali, tak akan ia bawa ke dalam hati.
"Pantas saja anaknya kasar, orang tuanya ternyata seperti ini," ujarnya dengan tatapan masih dengan cemoohan.
"Bu Indah, harap dijaga kata-katanya ya, Bu. Tidak baik berbicara seperti itu di depan anak-anak," ujar Kenanga menegur wali murid anak didiknya yang menurutnya kata-katanya sangat keterlaluan.
"Kenapa saya harus menjaga mulut saya sedangkan putrinya itu tidak bisa menjaga sikapnya?" tanya Bu Indah.
"Hei! Kamu tahu! Putri kamu ini telah melukai anak saya, dia mendorong anak saya sampai jatuh ke lantai. Lihat lututnya berdarah! Tak hanya itu saja, kedua sikunya juga lecet-lecet! Memangnya kalau saya minta ganti rugi, kamu mampu membayar biaya rumah sakit untuk anak saya berobat?" Bu Indah menatap tajam ke arah Fia membuat Fia yang ketakutan langsung bersembunyi di balik punggung ayahnya.
"Saya sungguh minta maaf atas kelakuan putri saya, tapi saya yakin putri saya tidak akan melakukan suatu hal tanpa alasan. Pasti ada alasan yang membuat putri saya mendorong anak Ibu, saya sangat mengenal putri saya," ujar Farhat.
"Kamu pikir, anak saya yang berbohong!? Sudah jelas-jelas anak kamu itu yang mendorong anak saya hingga jatuh! Bukti sudah ada di depan mata! Lutut yang berdarah dan siku yang lecet!"
Farhat duduk di lantai, mensejajarkan tingginya dengan Fia. Ia menangkup kedua pipi Fia, menatap putrinya dengan lembut.
"Fia, coba beritahu Ayah. Kenapa kamu sampai mendorong teman kamu sampai jatuh?" tanya Farhat selembut mungkin.
Fia hanya menggelengkan kepalanya, enggan menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya terus melirik ke arah Bu Indah yang melotot padanya, hal itu membuat Fia gemetaran. Anak itu merasa diancam dengan tatapan mata Bu Indah dan sepertinya Kenanga menyadari itu hingga si Bu guru Fia itu langsung mengajak Bu Indah berbincang untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ayo jangan takut, Nak. Ayah nggak akan marah sama kamu, kamu tahu 'kan kalau setiap kita melakukan sesuatu itu harus jujur?" Fia mengangguk.
"Fia marah karena Didi ngeledek Ayah, Didi bilang kalau Ayah sama sekali bukan orang hebat. Didi bilang kalau Ayah orang miskin, nggak bisa kasih Fia mainan yang banyak kayak Didi. Fia nggak terima, Fia dorong Didi karena Fia nggak suka Didi bilang gitu. Bagi Fia, Ayah adalah ayah terhebat. Fia sayang banget sama Ayah, Ayah nggak perlu beliin Fia mainan banyak karena bagi Fia bersama Ayah itu jauh lebih nyenengin daripada main sama boneka." Perkataan Fia yang begitu polos membuat Farhat tersentuh, tak menyangka kalau alasan di balik semua hal yang dilakukan Fia adalah karena ingin membelanya.
"Meskipun Didi salah, tapi Fia nggak boleh nyelakain orang ya, Nak. Fia harus jadi anak yang baik, Fia minta maaf sama Didi sekarang ya?" Farhat mencoba membujuk Fia agar mau meminta maaf pada temannya.
"Iya, Ayah." Eliza selalu menurut dengan semua perkataan ayahnya.
"Didi," panggil Fia pada temannya.
Anak laki-laki yang dipanggil Didi itu menoleh pada Fia dengan enggan.
"Fia minta maaf udah dorong Didi, Fia janji nggak akan ngulangin lagi. Maafin Fia," ucap Fia.
"Hmm, lain kali jangan ulangi lagi." Didi membalas acuh.
"Nah, berhubung masalah sudah clear. Jadi tidak perlu diperpanjang ya, Bu Indah." Kenanga angkat suara.
"Untung anak saya yang baik hati ini mau memaafkan putrimu yang nakal itu, jadi kalian terbebas dari saya yang minta ganti rugi. Lagian saya juga kasihan kalau mau minta ganti rugi, uang dari mana kalian!? Beruntung saya begitu baik hati tidak minta ganti rugi. Lain kali tolong itu anaknya dididik dengan benar ya, jangan diajarin nakal. Masih kecil udah kayak gitu, apalagi kalo udah gede?" Setelah mengucapkan itu, Bu Indah mengajak Didi keluar dari ruangan Kenanga.
"Jangan dimasukkan hati perkataan Bu Indah tadi ya, Pak. Beliau sedang emosi jadi kata-katanya yang keluar tidak bisa dikontrol," ujar Kenanga.
"Ah iya, tidak apa-apa, Bu Guru. Terima kasih banyak karena sudah membantu Fia," balas Farhat sambil tersenyum sekilas.