9. Bertengkar

2055 Kata
Farhat sudah menasihati Fia agar tak mengulangi kejadian yang sama yaitu bertengkar dengan temannya, Fia pun juga sudah menurut dan hal itu benar-benar membuat Farhat lega. Farhat yakin kalau Fia merupakan anak yang baik dan penurut, selama ini Fia tidak pernah menyusahkan Farhat. Semua itu karena didikannya dan Eliza yang menginginkan agar Fia menjadi anak yang baik dan juga berbudi pekerti yang luhur. Mungkin kejadian waktu itu, sama seperti apa yang Fia ceritakan padanya di mana Fia begitu kesal karena teman anak itu mengejek Farhat. Sebenarnya Fia tak sepenuhnya salah, Fia hanya tak suka saja karena temannya yang mengejek Farhat. Namun, cara Fia lah yang salah yaitu mendorong temannya itu hingga jatuh. Farhat kira kalau hari ini tak akan terjadi lagi masalah, di mana ia akan bekerja dengan tenang untuk mengumpulkan uang demi kebutuhan hidup mereka dan pembayarannya sekolah Fia. Namun, tiba-tiba saja Bu Guru yang bernama Kenanga kembali menelepon Farhat dan mengatakan kalau hari ini Fia kembali berbuat ulah. Fia bertengkar dengan teman perempuannya, Kenanga mengatakan kalau temannya Fia itu sampai masuk rumah sakit karena ulah Fia. Farhat jelas saja tidak akan bisa konsen bekerja, jadi ia memutuskan segera pergi ke sekolah Fia. Ia khawatir putrinya saat ini merasa tertekan karena disalahkan. Sebenarnya bisa saja Eliza yang datang ke sekolah menghadap pada wali kelas Fia dan juga ibu dari teman anak mereka, tetapi Farhat tak ingin Fia terkena marah Eliza karena ia sedikit peka kalau beberapa hari terakhir suasana hati Eliza sedang tidak baik-baik saja. Hanya karena masalah kecil, seringkali Eliza marah-marah tak jelas. Memperbesar sebuah masalah yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa harus menaikkan nada suara. Farhat hanya bisa sabar dan mengalah pada saat itu karena ia tidak ingin semakin menyulut emosi Eliza. Kemungkinan saja Eliza sedang ada masalah dan pastinya suasana hati istrinya itu akan kembali baik setelah masalah itu selesai. "Ayah! Fia nggak salah, Ayah. Maafin Fia! Fia nggak sengaja!" Fia berteriak memanggil ayahnya, ia langsung memeluk Farhat begitu sang ayah memasuki ruangan Kenanga. "Iya, Sayang. Kamu tenang ya, Nak." Farhat berlutut, ia mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya. Tak menyangka kalau Fia yang biasanya selalu kuat itu kini menangis, ia yakin kalau masalah hari ini pasti cukuplah berat bagi putrinya. "Bu Kenanga, bisa minta tolong jelaskan mendetail kejadian antara Fia dan temannya?" pinta Farhat menatap Kenanga dan seorang ibu muda yang sepertinya keturunan dari keluarga kaya itu dengan tenang. "Jadi begini, Pak—" "Biar saya saja yang menjelaskan!" Belum sempat Kenanga menjelaskan, ibu muda itu langsung memotong perkataannya. "Iya, Bu Anes. Silakan," ujar Kenanga mempersilakan ibu muda bernama Anes itu untuk berbicara. "Sedikit banyak Pak Farhat sudah tahu apa yang terjadi, karena saya yakin kalau Bu Anga pasti sudah mengatakan inti masalahnya pada Bapak. Saya tidak ingin berucap panjang lebar, saya hanya ingin mengatakan kembali inti masalah dan juga solusi yang saya akan katakan pada Bapak." BuAnes menatap Farhat sekilas kemudian mengalihkan pandangannya. "Fia putri Bapak telah mencelakai putri saya hingga dia harus berada di ruang operasi! Beruntung putri saya selamat karena dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Fia mendorong putri saya hingga jatuh ke jalan aspal, putri saya banyak kehilangan darah di kepalanya. Pokoknya kalau sampai terjadi apa-apa pada putri saya, kalian harus bertanggung jawab. Tapi sebelum itu, saya minta sedikit saja rasa tanggung jawab Bapak sebagai orang tua Fia. Saya menginginkan ganti rugi, saya minta Anda lah yang membayar semua biaya rumah sakit putri saya!" Bu Anes mengatakan hal yang ia inginkan dari Farhat membuat Farhat terdiam, Farhat sama sekali tidak mempunyai uang sebanyak itu. Bagaimana bisa ia membayar semua bentuk tanggung jawab yang dibebankan Bu Anes padanya yang berupa uang? "Maaf, Bu. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Kita jelas tahu kalau Fia juga tidak sengaja mendorong Melati hingga kepalanya terbentur aspal. Menurut saya ini terlalu tidak fair, Bu," ujar Kenanga membuka suaranya. "Mengapa saya rasa Bu Anga ini berat sebelah ya? Ibu membela mereka. Sudah jelas-jelas kalau di sini saya adalah ibu korban dan mereka adalah pelakunya! Sudah bagus saya meminta ganti rugi dan bukannya memenjarakan Pak Farhat untuk menggantikan Fia yang masih di bawah umur!" teriak Bu Anes marah. "Sabar, Bu, tenang. Jangan marah-marah." Kenanga akan memegang lengan Bu Anes, tetapi wanita itu langsung menepis kasar. "Solusi ini menurut saya sudah sangat tepat, saya minta mereka ganti rugi biaya operasi melati atau saya akan laporkan polisi!" ancam Bu Anes menatap tajam orang-orang yang ada di ruangan itu. "B-baik, saya pasti akan mengganti rugi biaya operasi Melati. Saya selaku ayah Fia meminta maaf yang sebesar-besarnya, Bu." Farhat membungkuk. "Huh, saya tidak butuh maaf kamu. Saya minta kamu ganti rugi secepatnya!" ujar Bu Anes angkuh. "Apa boleh saya meminta waktu? Karena jujur saya tidak memiliki uang sebanyak itu saat ini." "Saya beri Bapak waktu satu minggu! Satu minggu ke depan, uang itu sudah harus bapak berikan kepada saya!" Setelah mengatakan itu tepat di depan wajah Farhat, Bu Anes pergi dari ruangan itu. "A-ayah, maafin Fia hiks ... hiks .... hiks." Setelah kepergian Bu Anes, Fia langsung menangis dalam pelukan ayahnya. Merasa bersalah karena telah membuat ayahnya susah karena kelakuannya. "Jangan nangis, Sayang. Udah enggak apa-apa, Fia nggak salah. Fia nggak sengaja jadi jangan nangis lagi, Sayang." Farhat mengusap pipi Fia dan juga punggungnya. "Bu, saya boleh izin bawa Fia pulang? Kondisinya saat ini sepertinya tidak memungkinkan untuk kembali belajar," ujar Farhat pada Kenanga. "Boleh, Pak. Silakan, semoga saja setelah hari ini Fia bisa tenang dan besok sudah bisa belajar lagi." Farhat mengangguk, pria itu membawa Fia dalam gendongannya kemudian keluar dari ruangan Kenanga setelah ia mengangguk singkat. "Pak Farhat!" Belum sempat Farhat pergi dari sekolah Fia, Kenanga memanggil nama Farhat membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Iya, ada apa, Bu?" tanya Farhat ketika Kenanga menghampirinya. "Eum, kalau Pak Farhat membutuhkan bantuan saya jangan sungkan untuk mengatakannya. Saya tahu kalau Bapak pasti merasa sangat berat membayar biaya operasi Melati." Farhat terdiam mendengar bantuan yang Kenanga tawarkan "Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin membantu Fia saja. Sebenarnya ini juga merupakan tanggung jawab saya juga karena Fia dan Melati adalah murid saya, saya yang lalai," ujar Kenanga melanjutkan. "Terima kasih atas tawaran Bu Kenanga." Farhat tersenyum. "Tapi untuk saat ini saya sedang tidak membutuhkannya, saya yakin sekali kalau saya bisa membayarnya dengan hasil kerja keras saya. Kebetulan ada uang tabungan yang sudah lama saya kumpulkan, saya berpikir setidaknya itu sudah cukup untuk membayar biaya operasi Melati. Saya tidak menyangka kalau Fia memiliki guru yang begitu peduli seperti Ibu. Sekali lagi terima kasih ya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, mari!" Kenanga hanya mengangguk dan membiarkan Farhat pergi dari hadapannya sambil menggendong Fia. "Ayah, kita mau ke mana?" tanya Fia ketika keduanya sudah naik di atas jok motor. "Kita mau pulang, Sayang. Fia istirahat ya sampai rumah nanti." Fia hanya mengangguk hingga Farhat menjalankan motornya menuju rumah kontrakan mereka. Farhat menaruh motornya di depan, tepatnya di dekat kaca jendela rumah kontrakan yang sudah beberapa tahun ini ia dan keluarga kecilnya tinggal. Pria itu menurunkan Fia dari jok depan kemudian mengajak putrinya itu masuk, tetapi saat diajak masuk Dia tak mau berjalan. Tubuhnya kaku seakan begitu takut masuk ke dalam sana. "Fia, ada apa? Ayo kita masuk, Nak." Fia menggelengkan kepalanya, dia tidak mau masuk karena takut. "Fia nggak mau masuk, Yah. Fia takut nanti Ibu marah sama Fia," ujar Fia. Jujur saja Fia merasa takut karena beberapa hari yang lalu, Fia sempat dimarahi oleh Eliza karena mengacaukan rumah dengan kertas koran saat Fia tengah mengerjakan tugas membuat sebuah kerajinan dari koran. "Nanti kalau Ibu marah, biar Ayah yang jelasin. Kamu jangan takut, ayo masuk!" Farhat menarik pelan tangan Fia, mengajak putrinya memasuki rumah meskipun Fia masih sedikit enggan dan takut. "Loh? Mas sama Fia kok udah pulang? Tumben cepat," ujar Eliza ketika melihat keberadaan suami dan putrinya. "Eum, kamu itu pakai apa, Sayang?" tanya Farhat ketika melihat wajah Eliza yang aneh itu. "Pake masker wajah, Mas, biar muka aku ini tetep glowing, tambah cerah dan lembab. Soalnya aku perhatiin ini wajah aku udah lama nggak dapat nutrisi, udah kusam dan dekil banget. Sesekali lah dapat perawatan, seharusnya sih ini aku perawatan langsung ke spa atau salon kecantikan. Tapi aku tahu kalau uang kamu nggak cukup menuhin gaya aku, jadi aku cuma bisa perawatan seadanya aja ini." Eliza terus mengoceh sambil menepuk-nepuk face mask agar cepat meresap ke dalam kulitnya. "Kamu nggak pake apa-apa aja udah cantik, Sayang. Buat apalagi harus pakai yang aneh-aneh begitu?" "Mas kalo nggak ngerti mending diem aja deh! Bikin aku kesel aja tahu nggak sih!?" ujar Eliza ketus. "Fia Sayang, kamu masuk ke kamar dulu ya?" pinta Farhat pada putrinya. Beruntung Fia menurut, anak itu dengan patuh langsung memasuki kamarnya. "Sayang, ada yang mau Mas omongin. Ini hal yang begitu penting, Mas harap kamu mau lepas dulu benda aneh di wajah kamu sebelum Mas mulai bicara," ujar Farhat pada Eliza. "Mas, ini tuh namanya face mask, bukan benda aneh! Sembarangan aja kamu bilang gitu." Farhat tak menanggapi, pria itu lebih memilih duduk di sofa buluk yang sudah lama berada di sini. "Duduk." Eliza pun mau tak mau duduk, wanita itu keukeh tidak mau melepas face mask di wajahnya karena takut nutrisi masker yang akan menyerap di kulit wajahnya hilang jika dilepas belum saatnya. "Kita harus lebih irit lagi untuk beberapa bulan ke depan," ujar Farhat. "Apa, Mas? Maksudnya gimana? Emangnya selama ini kita nggak irit? Bagi aku kita ini udah sangat irit banget! Makan seadanya, aku nggak pernah ke salon, beli skincare juga harga standar, aku nggak pernah belanja aneh-aneh. Bagian mananya itu disebut boros, Mas?" tanya Eliza tak habis pikir. "Lagian aku tuh baru ngerasain sedikit aja rasa nyaman waktu gaji kamu agak bertambah semenjak punya motor, aku cukup bebas belanja kebutuhan aku, kebutuhan Fia, kebutuhan dapur dan lain-lain. Aku nggak mau kalau sampai semua kesenangan yang dikatakan sederhana itu dirampas, Mas!" Padahal, Eliza belum mendengar perkataan Farhat secara rinci, tetapi wanita itu terus menyerocos tanpa memberi kesempatan Farhat berbicara. "Sayang, dengerin Mas dulu!" Farhat menaikkan nada suaranya ketika Eliza tak berhenti membicarakan hal yang tidak penting itu. Sepertinya berhasil karena saat Farhat berucap dengan nada sedikit tinggi itu, Eliza langsung terdiam. "Kita wajib berhemat karena Mas harus membayar biaya operasi Melati, teman Fia di sekolah. Fia nggak sengaja dorong temennya itu sampai kepalanya terbentur aspal di jalan, beruntung nyawa anak itu selamat. Orang tua dari anak itu minta Mas tanggung jawab dengan membiayai seluruh biaya operasi Melati, Mas nggak punya pilihan lain karena dia mengancam akan menjebloskan Mas ke penjara sebagai ganti Fia. Kebetulan Mas ada tabungan yang mungkin cukup, tapi kalau tabungan itu diambil otomatis impian kita buat punya rumah sendiri harus tertunda dulu. Mas harap kamu mau ngerti ya, ini semua demi Fia." Farhat berucap panjang lebat, berharap kalau sang istri mengerti dan memaklumi semua yang terjadi. "Jadi, maksud Mas gara-gara Fia kita batal punya rumah sendiri?" tanya Eliza tak percaya. "Jangan salahkan Fia, Fia nggak salah apa-apa." Eliza menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jelas aja Mas tadi bilang kalau Fia ngedorong temennya sampai jatuh ke lantai! Udah jelas ini semua salah Fia! Dasar anak itu!" Terlihat Eliza begitu emosi. "Mas bilang kalau Fia nggak sengaja?" balas Farhat. "Walau Fia enggak sengaja juga orang tua anak itu tetap minta tanggung jawab ke kita, Mas! Aduh, aku benar-benar pusing. Masa iya kita selamanya tinggal di kontrakan kecil ini? Semua ini gara-gara, Fia. Anak pembawa sial! Beberapa kali dia bikin kita kena masalah, Mas." "Eliza!" teriak Farhat ketika kata-kata Eliza terdengar begitu menyakitkan. Farhat takut kalau Fia mendengar perkataan Eliza, maka putrinya itu akan sakit hati. "Kenapa? Yang aku bilang juga bener kok, Mas. Terbukti 'kan sekarang Mas harus ngeluarin uang banyak gara-gara ulah nakalnya itu. Harusnya biarin aja dia di penjara, Mas nggak usah gantiin. Biar dia tahu rasa dan nggak nakal lagi, anak kecil juga butuh dikasih pelajaran, Mas!" Meskipun sudah dibentak, Eliza tetap tak bisa menjaga perkataannya hingga keduanya pun saling berucap dengan nada tinggi. "ELIZAAA!" Kali ini suara Farhat begitu menggelegar, ia begitu emosi sekaligus kecewa mendengar perkataan istrinya. "Enggak usah kamu teriak-teriak gitu, Mas. Aku udah capek terus nyimpen uneg-uneg di hatiku! Selama ini aku selalu sabar nerima kamu apa adanya, nerima hidup sederhana kita. Baru aja kita mau ngerasain senang dikit aja dan berani punya impian besar, anak síalan itu malah mengacaukan semuanya! Seharusnya Fia nggak usah ada aja di kehidupan kita!" Sebelum Farhat membalas kata-katanya, Eliza sudah lebih dulu pergi dari hadapan Farhat menuju kamarnya dan mengunci kamar itu dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN