10. Hasutan

2045 Kata
Terjadi perang dingin antara Farhat dan Eliza, setelah pertengkaran beberapa hari yang lalu itu mereka tidak lagi saling bicara. Eliza seakan tak mau menatap Farhat lagi, wanita itu terus menghindar. Farhat sendiri bingung ingin melakukan apa, sebenarnya dia ingin mengajak Eliza berbicara, tetapi sejujurnya ia masih marah karena kata-kata Eliza waktu itu benar-benar keterlaluan. Jadilah akhirnya semuanya saling diam dan menghindar, jika Farhat masih mencoba bersikap biasa saat di hadapan Fia karena tidak ingin putrinya itu tahu kalau mereka sedang bertengkar. Namun, Eliza tidak begitu, Eliza tetap enggan menyapa Fia dan Farhat. Wanita itu benar-benar marah dan kecewa karena Farhat akan memberikan uang tabungannya untuk membayar biaya operasi teman Fia. Fia sendiri sepertinya menyadarkan kalau hubungan kedua orang tuanya tak membaik lagi, setiap kali ia bertanya Farhat pasti menjawab kalau tidak ada apapun yang terjadi. Eliza jadi lebih sering keluar rumah, entah ke mana Farhat sama sekali tidak tahu arau tujuan sang istri. Ingin bertanya jelas saja dia tidak akan mau karena dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Eliza. Mungkin saja dia dan Eliza butuh waktu untuk menenangkan diri masing-masing, Farhat masih berharap kalau Eliza akan menyesal dan meminta maaf atas perkataannya waktu itu baik padanya dan juga Fia yang sudah dihina oleh Eliza sendiri. "Sarapannya sudah sia, Tuan Putri!" Farhat menaruh wadah berisi nasi goreng kecap dan juga piring berisi telur mata sapi di atas meja. "Wah, Fia suka sarapannya, Ayah." Mata Fia berbinar-binar melihat makanan yang ada di hadapannya. Fia memang tidak pernah memilih makanan, semua Fia makan asalkan itu adalah masakan ayah dan ibunya. Farhat merasa sangat beruntung akan hal itu, jadi ia tidak perlu susah payah membujuk Fia makan makanan yang telah disediakan. "Ayah, Ibu mana? Kok nggak pernah ikut kita sarapan?" tanya Fia ketika beberapa hari ini ibunya tak pernah lagi menemaninya dan sang ayah sarapan. "Ibu masih di kamar, Nak, mungkin sibuk. Sekarang Fia makan aja ya, sama Ayah. Kan harus berangkat sekolah, nanti terlambat loh." Fia mengangguk patuh, hingga akhirnya keduanya pun sarapan dengan tenang. Keduanya menghentikan makan ketika melihat Eliza keluar dari kamar. Rumah kontrakan ini terlalu kecil sehingga semua kegiatan pun akan terlihat kecuali di dalam kamar yang tertutup, dari ruang tamu dan dapur semuanya terhubung, tak ada sekat tembok. "Eliza, kamu mau ke mana?" tanya Farhat ketika melihat istrinya sudah cantik dengan baju dan dandanannya serta ada sebuah tas selempang yang tersampir di bahu sebelah kirinya. "Mau keluar, ada urusan!" jawab Eliza ketus. Fia berdiri, anak itu menghampiri Eliza kemudian menarik ujung baju Eliza hingga membuat Eliza menatap ke bawah. "Ibu, ayo kita sarapan sama-sama. Ayah udah masak makanan kesukaan kita, nasi goreng dan telur mata sapi. Fia kangen sarapan sama Ibu," ujar Fia menatap penuh harap Eliza. "Ish, apaan sih!? Lepass!" Eliza mendorong tubuh Fia hingga membuat anak itu terjatuh ke lantai. "Eliza!" teriak Farhat langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Fia. Farhat membantu Fia bangun, juga memeriksa apakah ada luka lecet di lengan serta lutut putrinya. "Kamu jangan keterlaluan! Fia ini anak kamu, Liza!" bentak Farhat. Farhat tak pernah membentak Eliza, tetapi saat ini ia tidak bisa menahan dirinya karena Eliza sudah benar-benar keterlaluan. Mungkin jika Eliza mengakui kesalahannya kemarin di mana Eliza yang mengatakan hal buruk mengenai Fia, maka Farhat akan memaafkannya. Namun, tidak untuk saat ini, Farhat tidak akan memaafkan Eliza karena Eliza sudah menyakiti putrinya. Farhat memang mencintai Eliza, tetapi rasa cintanya pun sama besarnya dengan cintanya pada Fia. Farhat mencintai, tetapi tidak untuk membela kesalahan. Jika Eliza salah maka harus disalahkan. "Iya tahu! Dan kamu tahu, Mas!? Aku menyesal punya anak seperti Fia! Dia pembawa sial! Kamu juga, bisa-bisanya kamu memberikan uang tabungan kita itu pada ibu temannya Fia!? Aku belum setuju, Mas!" balas Eliza berteriak. "K-kamu tahu dari mana?" Farhat terkejut karena perasaannya ia belum memberitahu Eliza kalau uang itu sudah diberikan pada Bu Anesa. "Mas pikir karena Mas nggak ngasih tahu aku, maka aku enggak akan cari tahu sendiri? Aku tahu, Mas! Dan aku semakin kesal sama kamu!" ujar Eliza. "Kamu juga! Dasar anak enggak tahu diri, udah dibesarin susah payah masih aja cari masalah!" Eliza menatap Fia dengan tatapan penuh kebencian, Fia yang mendengar perkataan ibunya pun hanya bisa menangis. "Liza, jangan keterlaluan! Fia masih kecil, Fia enggak tahu apa-apa!" Mendengar itu, Eliza hanya bisa memutar kedua bola matanya malas. "Enggak tahu apa-apa kata kamu, Mas?" tanya Eliza sambil tertawa. "Iya, emang enggak tahu apa-apa tapi dia pengacau! Udahlah, aku capek bertengkar terus sama kamu, Mas! Minggir, aku mau pergi!" Eliza menubruk bahu Farhat keras kemudian pergi dari hadapan Farhat dan Fia tanpa berpamitan ataupun mengatakan apa-apa lagi. "Hiks ... hiks ... hiks ... Ibu marah sama Fia. Ayah bertengkar sama Ibu karena Fia, semua salah Fia. Maafin Fia, Ayah." Fia menangis ketika melihat ibunya pergi dari hadapannya, apalagi tadi ada tatapan kebencian dari Eliza padanya dan hal itu membuat hati Fia benar-benar sedih. "Cup cup, jangan nangis, Sayang. Masih ada Ayah di sini." Farhat langsung menggendong Fia, menenangkan putrinya yang menangis sambil sesekali mengusap lembut punggung serta kepalanya. "Kita lanjut sarapan ya? Kan Fia mau sekolah," ucap Farhat ketika Fia sudah lumayan tenang. "Nggak mau! Fia nggak mau sekolah, Ayah!" Fia menggelengkan kepalanya. Farhat menghela napasnya, pria itu berjalan sambil menggendong Fia menuju meja makan. Dia mendudukkan Fia di kursi tempat semula tadi Fia makan. "Ayo, sekarang Fia harus makan. Sebentar lagi Ayah antar kamu ke sekolah," ujar Farhat. "Fia nggak mau sekolah, Ayah!" teriak Fia. "Fia, putri Ayah. Ayah pernah cerita 'kan kalau sekolah itu penting? Fia harus sekolah ya, Sayang. Jangan karena ada masalah di rumah, Fia jadi nggak mau sekolah. Ayah jadi sedih kalau Fia ngambek dan nggak mau berangkat," ucap Farhat memasang mimik wajah sedih membuat ekspresi Fia seketika berubah. "Ayah, maafin Fia. Ayah jangan sedih, Fia enggak mau sekolah karena Fia takut nanti cari masalah lagi terus nyusahin Ayah dan Ibu. Fia nggak mau, tapi Fia nggak tahan kalau ada orang yang ngeledekin Fia karena punya bapak seperti Ayah. Padahal, Fia bangga punya Ayah yang baik dan sayang sama Fia. Fia beruntung punya Ayah." Fia mengutarakan isi hatinya dan hal itu membuat Farhat tersentuh. "Fia sayang 'kan sama Ayah dan Ibu?" tanya Farhat. "Tentu Fia sayang kalian, Ayah." Fia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Kalau Fia sayang, maka Fia harus sekolah ya, Nak? Kalau ada yang nakalin Fia lagi, Fia lapor sama Ayah biar Ayah yang kasih pelajaran. Fia janji jangan pernah dorong mereka lagi ya? Kasihan mereka, biar bagaimanapun mereka teman Fia. Ya, Nak?" Sekali lagi, Fia mengangguk. "Bagus, ini baru putri Ayah. Ayo dihabiskan sarapannya." Farhat mengusap lembut kepala Fia. "Iya, Ayah." Fia pun akhirnya menghabiskan makanannya hingga tandas. Tak perlu membujuk Fia lagi karena Fia sudah benar-benar mau pergi ke sekolah. Farhat segera mengunci pintu rumah kontrakannya setelah itu mengajak Fia menaiki motor karena seperti biasanya, sebelum berangkat kerja maka Farhat akan mengantarkan Fia ke sekolah. Meskipun suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja karena perubahan sikap Eliza yang terlalu drastis itu, tetapi sebisa mungkin Farhat terlihat kuat di depan putrinya. Farhat tidak ingin masalahnya dengan Eliza mempengaruhi Fia. Eliza yang keterlaluan membuat Fia bersedih, hal itulah yang Farhat lihat. "Dengar pesan Ayah ya, Nak. Fia nggak boleh lagi bertengkar sama teman-teman. Harus jadi anak baik ya, Sayang." Fia mengangguk patuh. Mereka saat ini sedang berada di depan gerbang sekolah TK Fia, sebelum pergi Farhat memberi pesan pada putrinya itu. Farhat tidak mau Fia kembali mencari masalah apapun alasannya karena Farhat tidak mau hubungan Fia dan Eliza memburuk karena hal itu. Farhat ingin Fia belajar dengan tenang. Bukannya Farhat perhitungan atau apa, tetapi jika Fia terus saja terkena masalah, yang ditakutkan Fia akan dikeluarkan dari TK karena dianggap sebagai murid pengganggu. Demi masa depan Fia yang cerah, apapun akan Farhat lakukan. Farhat rela banting tulang, itu semua demi keluarga kecilnya. "Ya sudah, Fia sekarang boleh masuk." Sekali lagi, Farhat mengusap lembut kepala Fia. "Salim, Ayah!" pinta Fia sambil mengulurkan tangannya. Farhat tertawa, pria itu mengulurkan tangannya hingga akhirnya Fia mencium punggung tangan sang ayah dengan hormat. Farhat merasa sangat beruntung karena memiliki putri seperti Fia, karena didikannya Fia menjadi seorang anak yang sopan dan juga baik. Terlepas dari beberapa hal yang membuat Farhat terkena masalah karena ulah Fia yang tak terima ayahnya dikata-katai búruk oleh teman-temannya. "Kalau gitu Ayah pergi dulu ya, Nak. Itu Bu Guru ada di depan, kamu salim dulu sama Bu Guru. Sampaikan salam Ayah ya nanti," ucap Farhat. "Baik, Ayah." Fia melambaikan tangannya pada sang ayah, Farhat hanya tersenyum kemudian memilih menjalankan motornya meninggalkan sekolah Fia. Setelah selesai dengan tugasnya yaitu mengantar Fia ke sekolah, maka Farhat saat ini akan pergi ke pasar. Tidak untuk menjadi pengangkat barang lagi, melainkan menjadi tukang ojek. Pasar hari ini sedang ramai-ramainya sehingga hal itu memberi banyak kesempatan bagi Farhat untuk mendapatkan penumpang yang banyak. Pertengkarannya dengan Eliza sama sekali tidak membuat Farhat malas dan kepikiran, justru karena hal itu ia malah menjadi lebih semangat lagi dalam mencari uang yang halal. Memang uang yang didapat tak bisa membelikan barang-barang mahal untuk kedua perempuan tercintanya, tetapi ia pastikan bahwa Fia dan Eliza tidak akan kekurangan dalam hal sandang karena ia tak pantang menyerah dalam bekerja keras mengais rezeki demi keluarga. "Semoga hari ini menjadi ladang rezeki yang berkah untukku dan keluarga," doa Farhat saat telah tiba di pasar. Di tempat lain, Eliza memasuki sebuah restoran mewah. Beberapa hari ini Eliza sering keluar untuk menemui seseorang itu, seseorang yang masih menghubungi dan menyayanginya hingga saat ini. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung Eliza sendiri. Meskipun Pak Rendi sudah memutuskan hubungan dengan putrinya lima tahun yang lalu, tetapi Bu Aru yang begitu menyayangi putrinya jelas saja tidak akan memutuskan hubungan itu. Baginya Eliza tetaplah putri kandungnya, putri kesayangannya sampai kapanpun itu. "Mama!" Eliza langsung menghampirinya Bu Aru yang sudah duduk di sebuah meja yang berada di pojok dalam restoran. "Hai, Anak Mama. Kok terlambat datangnya?" tanya Bu Aru ketika mereka sedang cipika-cipiki. "Fyuhh, biasalah, Ma." Eliza menghela napas panjang kemudian duduk di samping mamanya. "Kamu bertengkar lagi sama suami kamu?" Eliza mengangguk. Semuanya memang sering Eliza ceritakan pada sang mama, karena Eliza tidak bisa menyimpan perasaan itu sendirian. Jadilah ia membaginya pada seseorang yang sangat ia sayangi dan percayai. "Kali ini bikin ulah apalagi suami kamu?" tanya Bu Aru. "Tadi sebelum ke sini kami sempat bertengkar, Ma, jujur aku udah capek banget karena Mas Farhat sama sekali enggak bisa ngertiin aku. Bisa-bisanya dia ngasih uang tabungan itu buat bayar biaya rumah sakit temennya Fia, padahal punya rumah sendiri adalah impian aku. Aku udah capek hidup miskin, selama lima tahun ini aku udah sangat sabar. Nyatanya Mas Farhat malah seenaknya gitu," ujar Eliza memulai langsung sesi curhatnya. "Mama dengar cerita kamu juga kayak ngerasain kesalnya kamu. Mama tahu perasaan kamu sekarang ini, kamu juga pasti mau senang-senang. Apalagi selama ini kalian hidup susah terus. Udahlah, Liza, kamu tinggalin aja itu suami kamu." Eliza terdiam mendengar perkataan mamanya. "Maksud Mama?" tanya Eliza. "Kamu minta cerai aja sama si Farhat itu, tinggal lagi sama Mama dan Papa. Papa pasti suka rela nerima kamu, Nak. Asal kamu tahu, meski Papa nggak berbuat apa-apa, tapi Papa berharap kamu bisa kembali ke rumah. Untuk urusan suami, biar Papa yang nyariin suami kaya buat kamu. Mama enggak mau kamu terus hidup susah kayak gini, apalagi selama lima tahun terakhir sampai kamu punya anak sama sekali nggak ada perkembangan." Bu Aru berkata begitu untuk menghasut Eliza agar segera bercerai dengan Farhat karena sejujurnya dari dulu pun ia juga tak suka dengan Farhat, Farhat hanya menyusahkan putrinya saja. Sama sekali tidak bisa memberi kebahagiaan untuk putrinya. "Mana ada laki-laki yang mau sama Liza kalau Liza bercerai dengan Mas Farhat, Ma, apalagi Liza udah punya anak sebesar Fia," ucap Eliza. "Kata siapa? Kamu itu cantik, Liza, masih banyak laki-laki kaya yang mau sama kamu. Tinggalin Farhat dan Fia, mulai hidup baru dengan menikahi laki-laki kaya. Mama yakin hidup kamu akan lebih baik dan mendapat kebahagiaan. Percaya sama Mama." Eliza menatap mata mamanya, sama sekali tidak ada raut wajah bercanda. Mamanya begitu serius mengatakan itu dan hal itu membuat Eliza bimbang. Di lain sisi Eliza masih ingin mempertahankan pernikahannya, tetapi di sisi lain ia tak tahan hidup seperti ini terus-menerus. "Liza pikir-pikir dulu ya, Ma, berat bagi Liza mengambil keputusan," ucap Eliza. Manakah yang harus Eliza pilih? Cinta tulus dan keluarga lengkap tanpa harta ataukah cinta baru dengan harta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN