53. Sosok Asli Mentari

1307 Kata
"Dia teman lama saya." Teman lama, ya. Entah kenapa Mentari merasa kalau Chandra tidaklah sedang berbohong padanya. Apalagi saat Lala juga berkata kalau kedua lelaki itu sempat mengobrol layaknya kawan lama. Juga ketika Chandra berada di rumah Alan, hal itu bukanlah kebetulan belaka. "Tapi kenapa mereka kayak yang gak akur, ya?" batin Mentari. Gadis itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya ia terkesiap pelan begitu Galang memanggilnya. "Kakak ngelamunin apa sih?" tanya Galang. Salah satu tangan bocah itu tampak menerima sekantung plastik berisi terang bulan yang baru saja matang. Oh, iya, Mentari sampai lupa kalau ia sedang membeli kue terang bulan di sekitar komplek rumahnya. "Ngelamunin pacarnya, ya?" Galang mendadak menyeringai tipis, membuat sang kakak langsung menatapnya tajam dan mengambil alih kresek berisi terang bulan itu. Alih-alih kapok, Galang justru semakin gencar menggodai kakaknya yang emosian itu. Dengan mulut yang sibuk mengunyah kue cubit langganannya, bocah itu berlari-lari kecil mengimbangi langkah Mentari. "Pacarnya Kak Mentari siapa sih? Kak Alan, ya? Atau jangan-jangan orang yang tadi sore nganterin Kakak pulang?" tebak Galang. "Lo bisa diem gak? Lo bahkan belom lulus SD, ngapain nanya-nanya soal pacar? Belajar dulu yang bener!" Mentari sudah bersiap menghadiahi kepala adiknya dengan jitakan namun bocah itu sudah terlebih dulu lari. Mereka berdua pun tiba di rumah. Namun begitu tiba di halaman, Mentari menoleh saat sebuah mobil melaju menjauhi rumah Alan. Apa lelaki itu pergi? Mentari masih menatap mobil yang baru saja lewat dan mengabaikan Galang yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ia mengerutkan dahi, lalu kembali menatap rumah Alan yang memang terlihat sepi. "Apa mungkin dia periksa ke rumah sakit, ya?" gumam gadis itu. Walaupun hal itu terdengar bagus karena akhirnya Alan mau memeriksakan diri, namun di sisi lain Mentari juga merasa khawatir dengan apa yang akan dokter katakan terkait kondisi Alan. Di mana lelaki itu perlahan mulai kesulitan menjalani aktivitasnya. Helaan napas terdengar. Mentari memang belum lama mengenal Alan, namun rasanya saat ia mengetahui kondisi Alan, ia juga turut merasa khawatir. "Emang gak banyak yang tahu kok. Apalagi Alan kan masih terbilang baru di sekolah. Akhir-akhir ini dia udah makin jarang periksa ke dokter soal kondisinya, padahal dokter bilang—" Apa yang dokter katakan? Dan jika memang Chandra sudah mengenal Alan jauh lebih lama darinya, bukankah itu artinya lelaki itu juga mengetahui kondisi Alan yang sesungguhnya? "Apa gue harus tanya dia, ya?" Mentari bergumam. Gadis itu masih bergeming di posisinya, berdiri di halaman rumah dan membiarkan kue terang bulan yang dibelinya tadi semakin dingin padahal sebelumnya gadis itu begitu antusias membelinya. * "Saya sudah dengar semuanya dari Chandra." Kalimat yang dilontarkan Erwin membuat kedua mata milik Alan beralih pada seseorang yang tengah bersandar di dinding dengan kedua tangan yang dilipat di depan d**a. Sepasang mata monolid itu menatap lurus padanya, seolah berkata— aku sudah melakukan yang benar. "Saya sudah menyuruh Chandra beberapa kali untuk membujuk kamu datang ke sini. Saya juga menelepon mama kamu tapi sepertinya memang kamu yang enggan untuk datang." Erwin kembali berujar. Lelaki yang berusia hampir setengah abad itu lalu melepaskan kacamata miliknya. "Lan, saya tahu kamu mungkin sebelumnya merasa baik-baik saja. Yah, sesekali lupa mungkin memang wajar. Tapi, apa kamu gak inget sama hasil lab kamu waktu itu? Kamu mungkin baik-baik saja, tapi enggak dengan kondisi otak kamu. Saya tahu kamu gak mau dengar ini. Tapi, Lan, semakin hari, endapan protein yang ada di otak kamu semakin banyak dan mengganggu aktivitas neuron yang ada di dalamnya. Kamu mungkin merasa tak ada yang salah, namun di dalam kepala kamu sesuatu telah terjadi. Sinyal-sinyal otak kamu terganggu hingga mereka tak bisa berfungsi dengan baik," ungkap Erwin. Semula ia berpikir kalau Alan akan menyanggah perkataannya namun ternyata pemuda itu hanya diam mendengarkan tanpa adanya ekspresi sama sekali, seolah sudah menduga kalau kalimat seperti itu akan didengarnya. "Kamu tahu, Alan, kerusakan sel itu juga bisa menurunkan kadar zat kimia di dalam otak sehingga koordinasi antar saraf menjadi kacau. Kamu pasti ngerti maksud saya. Gangguan kognitif yang kamu derita itu, sekarang benar-benar sudah sampai tahap alzheimer. Saya tidak mau mengatakan ini, tapi—" Sejenak Erwin menatap Chandra yang masih bergeming di posisinya, sebelum kembali menatap Alan, "Kondisi kamu dan gadis yang mengidap heliofobia itu cukup berbeda," lanjutnya kemudian menghela napas. Kalimat terakhir Erwin membuat Alan mengerutkan dahi. Pemuda itu lalu menolehkan kepalanya pada Chandra yang kini membuang pandangannya ke arah lain, seolah-olah tak ingin ditanya oleh siapapun. "Gadis pengidap heliofobia? Siapa yang Dokter maksud?" tanya Dewi. Selama menemani putranya periksa, tak pernah sekalipun ia mendengar sosok yang dikatakan Erwin tadi. "Anda tidak tahu? Saya rasa gadis itu juga berteman dengan Alan dan mereka cukup akrab." Erwin menjawab. Ia lalu menatap ke arah pintu sewaktu Chandra memutuskan untuk pergi dari sana. "Dokter— kenapa bisa tahu soal Mentari?" ujar Alan. Ia sudah menduga kalau Chandra dan ayahnya mengetahui sesuatu tentang Mentari lebih banyak darinya. "Mentari? Mentari yang putrinya Tante Mala?" Dewi menatap Alan, lalu putranya itu mengangguk. "Heliofobia? Apa itu, Dok? Saya lihat sepertinya gadis itu baik-baik saja." "Dia memang terlihat baik-baik saja, Bu. Tapi mungkin ada sesuatu yang tidak Ibu sadari. Misalnya, membatasi aktivitasnya di siang hari," ujar Erwin. "Yah, memang. Kayaknya saya jarang sekali melihat anak itu keluyuran siang, paling-paling adeknya yang masih SD itu. Saya sering lihat dia pakai jaket kalau siang sampe kepalanya juga ditutup padahal cuaca lagi panas banget." "Itu yang saya maksud. Gadis yang bernama Mentari itu sedikit berbeda dari teman-teman sebayanya. Neneknya dulu mengalami hal yang sama dan itu menurun pada salah satu cucunya. Faktor genetik. Mereka tak bisa bebas beraktivitas di bawah terik matahari apalagi dalam waktu yang lama." Erwin menjelaskan, "Tapi karena Mentari sempat mengalami perundungan selama beberapa kali, serangan panik yang dimilikinya itu semakin parah dan membuatnya semakin trauma keluar dari rumah. Tapi saat ini dia sudah bisa ikut sekolah di luar rumah, dan itu sudah cukup bagus. Mentari memang bukan pasien saya, dia pasiennya Dokter Wira. Dia sesekali membicarakannya jadi saya tahu." "Dokter Wira?" Alan membeo. "Jadi maksudnya selama ini, Mentari banyak konsultasi ke psikiater?" "Tentu saja. Wira bisa membantu kondisi Mentari secara perlahan. Saya hanya dokter spesialis saraf, jadi tak bisa banyak membantu. Karena kamu juga salah satu pasien Dokter Wira, kamu pasti tahu beliau," ujar Erwin. "Oh, iya, Lan. Tolong kembali lagi ke sini jika obatnya sudah habis. Saya mungkin tak bisa sepenuhnya menyembuhkan kamu, tapi saya akan berusaha meredakan gejalanya." Tak lama setelahnya Dewi berpamitan dari sana dan ia bersama Alan bergegas pulang. Alan masih tak banyak bicara begitu keluar dari ruangan Erwin. "Lan, jadi selama ini Mentari punya fobia matahari?" tanya Dewi. Ia masih tak yakin dengan ucapan Erwin tadi. Pasalnya Mentari memang terlihat normal. Agak disayangkan mengingat Mentari adalah gadis baik yang cukup ceria di matanya. Ia tak bisa membayangkan sesulit apa kehidupan gadis itu dengan fobia yang ia derita, mungkin akan sama seperti kehidupan Alan dengan alzheimernya. Alan mengangguk. Bibirnya seolah terlalu malas berbicara, bahkan meskipun itu mamanya sendiri. Setelah ia mendengar informasi yang kurang menyenangkan tentang kondisinya sendiri, ia juga mendengar beberapa hal lagi tentang Mentari Putri. Sekarang ia semakin tahu, kalau kehidupan Mentari memang tak begitu menyenangkan walau tak semengerikan dirinya. "Tapi— dulu Mama pernah nyuruh dia berangkat ke sekolah sama kamu, kan? Terus gimana? Gak kejadian apa-apa, kan?" Wajah Dewi mendadak agak pucat begitu mengingat kesalahannya. Ia hanya berharap gadis itu baik-baik saja saat itu. "Dia ... terkena serangan panik." Alan membuang napasnya pelan. Jika saat itu dia tahu kalau kondisi Mentari berbeda, mungkin ia lebih baik tersesat sendirian daripada harus bersama dengan gadis itu. Namun dari situlah dia melihat bagaimana Chandra dengan sigap menangani serangan panik Mentari dan membawa gadis itu ke UKS dan lelaki itu menginterogasinya di lapangan dengan raut wajah yang begitu tak menyenangkan. Di tengah kekhawatirannya, Dewi menoleh begitu menyadari kalau Alan berhenti dan membuat pemuda itu tertinggal beberapa langkah darinya. "Kenapa, Lan?" tanyanya. Alan terdiam di posisinya. Kenapa Chandra bisa sekhawatir itu? —TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN