"Apa perlu gue tanyain, ya?" batin Mentari seraya membuang naas pelan. Gadis itu menatap sepiring nasi goreng di hadapannya. Asap-asap tampak masih mengepul di atasnya, menandakan kalau masakan itu belum lama matang.
Rupanya helaan napas itu terdengar oleh Mala yang selesai mencuci peralatan memasak. Wanita itu mendengar helaan napas putrinya usai ia mematikan keran air di wastafel.
"Kenapa, Tar? Kamu gak enak badan?" tanya Mala. Ia mengelap kedua permukaan tangannya dengan sebuah serbet kering secara bergantian seraya berjalan mendekati kursi yang diduduki Mentari.
"Enggak kok, Bu," ujar Mentari pelan. Ia mulai meraih sendoknya dan memakan nasi goreng buatan ibunya.
"Dari semalam Kak Mentari ngelamun terus. Palingan mikirin pacarnya yang kemarin nganterin pulang." Tiba-tiba Galang yang duduk berseberangan dengan Mentari itu menceletuk tanpa ragu.
"Pacar?" Mala seketika menatap putra bungsunya itu dengan kedua alis yang bertaut, lalu beralih pada Mentari yang tampak sudah memelototi sang adik dengan sebuah sendok yang diangkat ke udara sebagai bentuk ancaman.
"Jadi yang kemarin itu, beneran pacar kamu?" Mala melanjutkan. Ia meletakkan serbet tadi di sandaran kursi yang akan ia duduki.
"Bukan kok, Bu! Itu bukan pacar aku!" bela Mentari. Ia tak mau ibunya salah paham, apalagi jika lelaki yang Galang sebut pacar itu adalah Chandra, yang tak lain adalah orang yang mengantarnya pulang kemarin.
"Ibu sih gak masalah kalau kamu punya pacar, asalkan dia bisa ngerti kondisi kamu aja dan dia bersikap baik sama kamu, itu udah cukup kok buat Ibu." Mala mendaratkan tubuhnya di kursi dan menatap putrinya dengan seulas senyuman tipis.
"Tapi itu emang bukan pacar aku, Bu!" Mentari mendengkus pelan, lalu kembali menatap tajam Galang yang memasang tampang menyebalkan, seolah-olah dia baru saja menang dalam sebuah game. Namun Mentari tak sempat memberi bocah itu pelajaran karena Galang langsung berpamitan usai sarapan.
Mentari sendiri menyusul tak lama setelahnya. Gadis itu terlebih dulu ke luar sementara ibunya pergi mengambil kunci mobil. Di luar, Mentari yang sudah menutupi kepalanya dengan topi jaket itu diam-diam menatap ke rumah Alan dan di sana tampak motor milik pemuda itu sudah terparkir di halaman.
"Semalam dia beneran pergi, ya?" gumam Mentari. Perlahan gadis itu bergerak mendekati pagar besi yang menjadi pembatas antara rumahnya dan Alan. Samar-samar ia mendengar suara Alan dan di detik berikutnya lelaki itu tampak keluar rumah dengan tas yang tersampir di salah satu bahunya.
Kedua mata Mentari mengerjap lalu gadis itu refleks berjongkok dan bersembunyi di balik pohon mangga di depan rumahnya.
"Ngapain kamu jongkok di situ, Tar?" Mala menatap tingkah aneh putrinya dengan salah satu alis naik.
Mentari langsung membulatkan kedua matanya saat tahu kalau ibunya sudah ada tepat di belakangnya entah sejak kapan. Gadis itu buru-buru meletakkan telunjuknya di permukaan bibir, memberi kode agar ibunya tak bicara terlalu keras.
"Kenapa sih?" Mala menatap ke rumah Alan dan wanita itu tersenyum setelahnya, "Anak gadis kok ngintip-ngintip begitu. Gak baik tahu," godanya.
"Ih, Ibu!!"
Merasa mendengar adanya keributan kecil, Alan yang hendak memakai helm itu menatap ke halaman rumah Mentari dan melihat gadis itu mendorong-dorong ibunya menuju ke garasi. Salah satu alis milik Alan naik, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menerka hal aneh apalagi yang dilakukan oleh gadis itu.
Ia segera menaiki motornya dan bergegas ke sekolah. Tepat sebelum melewati rumah Mentari, mobil milik Mala tampak keluar dan melaju tepat di depannya.
"Kalo dilihat-lihat lagi, Alan itu ganteng ya, Tar?" ujar Mala.
Mentari yang sedang menoleh ke belakang itu terkesiap dan langsung membenarkan posisi duduknya kembali menghadap ke depan.
"Ya— kan, dia cowok," jawab Mentari seadanya lalu membuang pandangannya ke luar jendela, tanpa tahu kalau sang ibu yang diam-diam mengintip lewat spion itu menyunggingkan kembali seulas senyuman.
"Anak kecil itu memang gak bisa bohong, ya. Bener kata Galang, kalo Alan itu baik."
"Bu, Galang udah bukan anak kecil." Mentari mengkoreksi.
"Tetep aja, dia masih anak-anak. Tubuhnya mungkin agak tinggi dibanding temen-temennya, tapi dia tetep anak-anak yang baru menginjak usia sepuluh tahun. Dia masih pandai berbicara apa adanya." Mala lalu melirik spion dan menatap sepeda motor yang melaju di belakangnya. Padahal mobilnya tak melaju dalam kecepatan yang tinggi, namun Alan seolah tak berniat menyalip dan malah membiarkan orang-orang di belakang mendahuluinya.
Di saat itulah ia sadar kalau putrinya tak menjawab kalimatnya yang terakhir. Mala kian tersenyum lebar. Baginya, bukan hanya Galang yang masih anak-anak. Namun Mentari juga, hanya saja gadis itu sudah cukup pandai berbohong, walau sesekali masih bisa bersikap jujur. Hanya saja ia tak mengutarakannya secara langsung persis seperti yang sering Galang lakukan.
Mentari hanya diam, seolah memberi tanda kalau gadis itu juga menyetujui ucapan ibunya.
***
Mentari menurunkan topi jaketnya setelah kedua lakinya berhasil mencapai lantai koridor. Gadis itu menyeka permukaan dahinya yang berkeringat dengan punggung tangan. Walau bukan hal yang baru, namun memakai jaket hampir setiap waktu saat di luar tetap membuatnya merasa kepanasan.
"Gerah, ya?" ujar seseorang.
Mentari refleks menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Alan yang sudah berjalan di belakangnya. Gadis itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali meluruskan pandangannya ke depan.
"H-hm. Udah biasa sih." Mentari tertawa renyah setelahnya seraya membuka resleting jaket yang ia kenakan.
Alan bergerak menyusul langkah Mentari hingga mereka berdua berjalan bersebelahan.
"Kayaknya tadi sebelum berangkat gue denger ada ribut-ribut di halaman rumah lo. Ada apa?"
Pertanyaan Alan seketika membuat Mentari mengerjap pelan. "Eng-enggak kok." Ia membuang pandangannya ke arah lain. "Oh, iya, semalem lo— pergi?"
"Iya. Lo lihat?"
"Hm. Gue gak sengaja liat mobil Tante Dewi. Lo ke rumah sakit?" tanya Mentari hati-hati. Ia tak mau merusak mood Alan di hari yang masih pagi ini.
"Iya, agak males sih. Tapi ya udahlah, emang udah lah. Emang udah agak lama juga gak periksa."
"Terus dokter bilang apa?"
Mendadak Alan diam usai mendengar pertanyaan Mentari. Lelaki itu sempat melirik gadis di sebelahnya yang tampak menunggu jawaban. Ia lalu berdeham pelan, "Gak ada yang aneh sih. Dokter cuma bilang kalo gue harus balik ke sana kalo obatnya udah abis." Ia menarik kedua sudutnya ke atas.
Entah benar atau tidak yang dikatakan Alan itu, namun Mentari berharap kalau lelaki itu tak sedang berbohong.
Mentari manggut-manggut dan kembali membuang pandangannya ke arah lain, lalu tanpa sengaja menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Kedua alisnya seketika bertaut.
"Tangan lo ... " Mentari menggantungkan kalimatnya.
Sadar ke arah mana tatapan Mentari, Alan mengangkat salah satu telapak tangannya dan lelaki itu tertawa pelan. "Ah, ini? Gue tadi agak buru-buru nulis kelas sama nama-nama temen kelas gue. Tapi kayaknya tangan gue agak keringetan, jadi tulisannya gak begitu jelas." Pemuda itu kembali tertawa.
"Kenapa lo ngelakuin itu?" tanya Mentari. Ia masih menatap telapak tangan Alan yang dipenuhi coretan.
"Gue khawatir pagi ini nyasar, hehe." Alan menggaruk lehernya yang tak gatal, "Tadi aja gue sengaja gak nyalip mobil nyokap lo karena khawatir nyasar lagi kayak waktu itu, haha. Aneh, ya?" Ia kembali menujukkan telapak tangannya.
"Lo bilang itu nama-nama temen sekelas lo, tapi, kenapa ada nama gue di situ? Gue kan ... bukan temen sekelas lo," ujar Mentari. Walau tulisannya hampir kabur, namun ia masih bisa melihat namanya ada di sana, di bagian paling atas.
"Ini, ya? Soalnya, gue tadi pas nulis ini, orang pertama yang gue inget itu cuma lo." Alan tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. Lelaki itu lalu berusaha membaca kembali tulisan di telapak tangannya.
Sebuah reminder milik pengidap alzheimer.
Alan mulai menuliskan reminder untuk membantunya dalam beraktivitas, atau lebih tepatnya mungkin untuk membantunya mengingat sesuatu.
"Anak kecil itu memang gak bisa bohong, ya. Bener kata Galang, kalo Alan itu baik."
Andai saja ibunya tahu, seperti apa sosok baik yang tadi dibicarakannya. Saking baiknya, ia hampir mengabaikan kondisi dirinya sendiri.
—TBC