54. Obrolan Rahasia

1189 Kata
Mentari memasukkan sunscreen miliknya ke dalam tas usai mengoleskannya ke kedua tangan dan kaki. Ia menatap ke luar jendela sejenak lalu menelan ludah dengan susah payah. "Lo mau ke mana, Tar?" Lala yang tengah asyik menonton drama Korea itu sampai menjeda kegiatannya dan menatap teman sebangkunya yang tampak berniat pergi ke luar kelas. "Gue mau nyari Pak Chandra. Lo kalo mau ke kantin, duluan aja. Kabarin gue juga, ntar gue nyusul." Mentari menutup resleting tasnya dan pergi dari sana. Lala manggut-manggut dan gadis itu kembali menekan tombol play hingga adegan seru yang dilihatnya tadi berlanjut lagi. Namun belum mencapai detik ke sepuluh, Lala kembali menjeda video yang ditontonnya dan termenung. "Pak Chandra?" Lala mengerutkan dahi, lalu menatap ke arah pintu kelasnya. Gadis itu dengan cepat beranjak dari bangkunya dan berlari keluar, namun Mentari sudah menghilang dari pandangannya. "Apa gue salah denger, ya?" Lala memiringkan kepalanya dengan kedua alis yang bertaut satu sama lain. Rasanya aneh sekali mendengar Mentari berkata seperti tadi. Mencari Pak Chandra, katanya? Dia pasti sedang bermimpi buruk. "Apa Mentari tadi salah makan, ya?" batin Lala. Ia mendadak tak tenang jika ternyata Mentari memang berniat mencari Chandra hanya untuk memukuli wajah guru olahraganya itu. Lala menelan ludahnya kasar dan memasukkan ponselnya ke dalam salah satu saku rok yang ia kenakan. "Gue harus cepet. Apa mungkin kemaren terjadi sesuatu ya, pas mereka berdua nyari Alan?" Lala bermonolog. Kedua kakinya bergerak menuruni satu per satu anak tangga menuju ke lantai dasar. Mendadak ia menyesal karena kemarin tak ikut mencari Alan, terlebih membiarkan Mentari satu mobil bersama dengan Chandra. Namun sebelum ia benar-benar mencapai lantai dasar, ia justru berpapasan dengan Alan yang terlihat pergi ke suatu tempat. "Alan!" panggil Lala hingga si pemilik nama menghentikan gerakan kakinya dan menoleh ke belakang. "Alan ... punya alzheimer." Lala menghentikan langkahnya saat mereka berdua sudah berhadapan. Sekarang ia tahu alasan kenapa Alan cukup sering salah memanggil namanya akhir-akhir ini. Jika dirinya tahu lebih awal tentang kondisi lelaki itu, ia mungkin tak akan memarahinya. "La?" Alan melambaikan tangannya di depan wajah Lala hingga gadis itu terkesiap pelan. "Eh? I-iya, sori. Lo ... lihat Mentari gak? Dia tadi ke luar kelas tapi gue gak sempet nyusul." Lala berujar. "Mentari?" Alan menggelengkan kepalanya. "Sori, ya, gue harus pergi." "Lo mau ke mana?" Lala memberanikan diri untuk bertanya. "Gue mau ketemu Pak Chandra, ada hal yang perlu gue omongin. Ya udah, gue cabut dulu, ya!" Alan tersenyum tipis dan pergi dari sana. "Pak Chandra, katanya. Tadi Mentari juga ngomong hal yang sama, kan? Kenapa mereka berdua tiba-tiba nyariin Pak Chandra?" Lala bergumam. Ia masih menatap punggung Alan yang sudah menghilang di salah satu koridor, lalu perlahan berjalan mengikuti langkah lelaki itu. Mungkin dengan begitu, ia akan tahu perihal hubungan ketiga orang itu. * Chandra menatap ke sisi kanan kirinya saat ia melihat salah seorang murid perempuan yang berteduh di bawah salah satu pohon cemara yang ada di tepi lapangan. Lelaki itu menunjuk wajahnya menggunakan telunjuk, namun gadis di depan sana sudah buru-buru memberi kode dengan tangan agar ia mengikutinya. Beberapa murid yang masih berada di lapangan melayangkan protes pelan saat Chandra berpamitan dari sana. Lelaki itu berjalan mengikuti langkah Mentari yang berjarak beberapa meter di depannya. Helaan napas terdengar sebelum akhirnya kedua sudut bibir Chandra naik. Entah apa yang akan Mentari lakukan saat ini, karena jarang sekali gadis itu datang menemuinya secara terang-terangan seperti sekarang. "Jadi, hal sepenting apa yang mau kamu bicarakan sampai rela membuang tenaga untuk menemui saya?" Chandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku usai ia menutup pintu. Mentari mengajaknya ke lab fisika yang sedang tak digunakan yang artinya, ada sesuatu yang memang ingin dibicarakan oleh gadis itu. Mentari tak langsung memberikan jawaban. Gadis itu masih tampak memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia angkat bicara, "Pak Chandra .... " Ia menggantungkan kalimatnya sejenak, "Sedekat apa sama Alan?" Chandra terdiam usai mendengar pertanyaan itu. Di saat yang bersamaan, ponsel milik lelaki itu berbunyi dan ia segera membuka pesan yang diterimanya. "Bapak bilang kalau kalian berdua itu teman lama, kan? Itu artinya kalian— cukup dekat, kan?" Salah satu sudut bibir Chandra naik. Ia mengetikkan sebuah balasan untuk pesan yang diterimanya dan kembali menatap Mentari, "Hm. Kami berdua cukup dekat. Kenapa kamu tiba-tiba penasaran soal itu?" ujarnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Itu artinya, Bapak cukup tahu banyak tentang kondisi Alan, kan?" Ternyata ini semua soal Alan, ya. Kedua kaki milik Chandra bergerak menyusuri lab. Salah satu tangannya menyentuh sebuah pendulum Newton yang ada di atas permukaan meja. "Kamu bener-bener penasaran, ya?" ujarnya. Mentari memutar tubuhnya perlahan mengikuti pergerakan Chandra. "Itu ... karena akhir-akhir ini ingatan Alan kayaknya agak aneh. Jadi, aku pikir kalau Pak Chandra pasti tahu—" "Kamu jauh-jauh pergi dari kelas, nyariin saya ke lapangan, panas-panasan, cuma mau nanya soal Alan?" Mentari bungkam. Kenapa .... Kenapa dia melakukan itu? "Kamu khawatir?" Chandra meninggalkan pendulum itu dan menatap Mentari sepenuhnya. "Apa yang kamu khawatirkan? Kamu khawatir dengan ingatannya, atau khawatir kalau dia akan lupa sama kamu?" Mentari menahan napasnya sejenak. Alan .... melupakannya? "Dulu, saat sebelum pindah rumah. Kami berteman dekat. Saat itu Alan masih SD dan kami cukup sering bertemu setelah pulang sekolah untuk bermain. Dia itu sudah seperti adik saya sendiri tapi sayangnya saya harus pergi. Karena ayah saya seorang dokter spesialis saraf, saya memutuskan untuk mengambil kedokteran saat kuliah. Yah, sepertinya saya enggak perlu jelasin alasannya." Chandra menghela napas pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke salah satu meja dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Saat itu saya sudah berpikir, mungkin kami berdua gak akan bertemu lagi dan Alan akan benar-benar lupa sama saya dan hal itu pun terjadi saat dia pindah ke sini." Pandangan Chandra mengarah lurus ke luar jendela, "Saat pertama kali ke sini, Alan tidak berhasil mengenali saya sama sekali." Ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sementara Mentari masih bergeming di posisinya. Gadis itu masih setia mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Chandra, terlihat seperti bukan Mentari Putri yang biasanya. "Dan kamu tahu apalagi kejutan yang diberikan Tuhan selain dilupakan oleh Alan? Ternyata, Alan itu pasien ayah saya sendiri dan itu sudah berlangsung cukup lama." Chandra mungkin akan tertawa jika hal itu adalah momen yang memang patut ditertawakan. "Artinya, itu bagus. Kalian bener-bener ketemu, kan? Ayahnya Pak Chandra pasti bisa bantu Alan. " Mentari kini bersuara setelah sekian menit Chandra bicara panjang lebar. Gadis itu benar-benar berniat mendengarkan. Chandra menunduk, menyembunyikan kekecewaan di wajahnya, "Itu memang terdengar bagus. Hanya saja, saya tidak suka saat tahu kalau kondisi Alan justru memburuk." Mentari melebarkan kedua pupil matanya. Suara pintu membuat ia dan Chandra menoleh dan menatap Alan yang berada di ambang pintu, menatap dua orang yang ada di dalam ruangan itu. "Alan?" Mentari mengerutkan dahi. Ia lalu menatap Chandra yang tampak tenang, seolah tahu kalau Alan akan menemui mereka di sana. "Kalian— ngapain?" Alan menatap Mentari dan Chandra secara bergantian. Chandra tersenyum tipis. Ia tak menyangka, kalau dua orang itu akan menemuinya secara bersamaan seperti sekarang. Di salah satu sudut jendela, di luar tampak seseorang yang juga ikut mengintip ke dalam. Kedua pupilnya melebar saat melihat ketiga orang itu benar-benar bertemu di sana. "Mentari sama Pak Chandra? Jadi mereka bener-bener ketemu?" gumam Lala. —TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN