58. Kemungkinan Terburuk

1405 Kata
"Dokter tahu aku sama Alan?" Mentari bertanya bahkan ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di ruangan milik Erwin. "Duduk dulu. Kita ngobrol santai aja, ya. Saya juga lagi gak ada pasien kok." Erwin lagi-lagi hanya menarik kedua sudut bibirnya. Ia berjalan ke balik sebuah meja yang ada di sana lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia tempati. Mentari mendudukkan tubuhnya di kursi yang berseberangan dengan Erwin, sesekali kedua matanya berkeliling ke sekitar. "Dokter tahu aku dan Alan?" Mentari mengulangi pertanyaannya tadi saat tak kunjung mendapatkan jawaban. Kepala Erwin mengangguk, "Tentu saja saya tahu Alan. Dia pasien saya," ujarnya. Ia menatap perubahan raut muka gadis yang duduk di hadapannya. "Pasien?" Mentari membeo. Ia berusaha keras memutar otaknya dan menggali satu per satu memorinya, berusaha menemukan sebuah kalimat yang sepertinya berhubungan dengan ucapan Erwin barusan. "Soal saya yang bisa tahu kamu, Chandra cukup sering cerita." Mentari terdiam setelahnya. Chandra, katanya. Itu artinya ... "Dokter ayahnya Pak Chandra?" Kedua pupil mata milik Mentari melebar. "Oh, kayaknya Chandra udah cerita ke kamu, ya." "H-hm. Gak begitu banyak, tapi tetep aja aku kaget. Berarti selama ini, aku sama Alan selalu pergi ke rumah sakit yang sama tapi kami gak pernah ketemu." "Mungkin karena jadwal saya dan Wira berbeda. Yang saya tahu, Alan memang sebelumnya pernah menemui Wira beberapa kali. Kayaknya sebelum dia pindah sekolah, atau mungkin beberapa tahun lalu, ya? Pokoknya agak lama, saya lupa." Erwin tertawa pelan. Dokter yang duduk di hadapan Mentari saat ini, adalah ayahnya Chandra sekaligus dokter yang menangani alzheimer milik Alan yang tak lain adalah sosok yang sempat dibicarakan oleh Chandra sewaktu di lab. Jika saja Mentari tahu lebih awal tentang hal itu, mungkin saja ia dan Alan bisa pergi bersama ke sana, mengingat mereka berkonsultasi dengan orang yang hampir sama, hanya saja Mentari tak memiliki kepentingan khusus dengan Erwin yang merupakan neurolog. "Kondisi Alan sudah sempat membaik dan dia rutin meminum obat dari saya. Tapi akhir-akhir ini, dia memang jarang datang ke sini padahal sudah beberapa kali saya peringatkan agar tidak terlalu santai dengan kondisinya. Karena bagaimana pun, penyakit yang dideritanya itu tak bisa disembuhkan." Kedua bahu Mentari perlahan semakin merosot. Ia termenung, berusaha mencerna kalimat yang keluar dari mulut Erwin "Ma-maksud Dokter?" "Asal kamu tahu, Mentari, alzheimer milik Alan itu tak bisa disembuhkan. Mungkin, ada kesempatan untuk dia sembuh tapi kemungkinannya sangat kecil karena saat ini belum ada satu pun pengobatan yang benar-benar bisa membuat seorang penderita alzheimer sembuh total. Penyakit ini mungkin sebagian besar menyerang para lansia, namun tak jarang juga menyerang orang-orang yang berusia muda karena alasan tertentu. Seperti Alan, misalnya. Anak itu sudah memiliki gangguan kognitif sejak lama dan kondisinya semakin parah saat ada sebuah endapan protein yang terdapat di dalam otaknya dan itu sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikirnya. Menurut keterangan ibunya, beberapa anggota keluarganya terdahulu ada yang mengalami hal serupa dan faktor genetik itu kemungkinan besar yang jadi salah satu penyebab gangguan kognitif itu berasal, karena Alan memang tak memiliki trauma berat sebelumnya." Erwin menjelaskan. Di depannya, Mentari tampak mendengarkannya dengan saksama namun fokus yang terdapat pada kedua mata miliknya memudar secara perlahan. "Nasib kamu sebagai seorang pengidap heliofobia mungkin masih bisa dibilang beruntung, karena fobia itu perlahan bisa disembuhkan. Namun, keberuntungan itu saya rasa itu tak berpihak kepada Alan. Sebagai seorang dokter saraf, saya sendiri menyayangkan karena tak bisa menyembuhkan Alan sepenuhnya. Saya hanya memberikannya obat dan beberapa tes laboratorium maupun fisik, serta memberinya masukan untuk membuatnya semangat bertahan. Obat yang saya berikan itu memang hanya bisa meredakan gejalanya, namun selama dia dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu memberinya semangat, dia pasti akan mendapatkan kekuatan." "Tapi— bagaimana jika ternyata kondisi Alan tetap memburuk?" Mentari meremas kuat jemari tangannya. "Seperti yang saya bilang tadi, adanya endapan protein itu membuat kemampuan berpikirnya terganggu. Mungkin saat itu terjadi, ada kemungkinan Alan akan membuat beberapa reminder kecil di sebuah kertas atau benda-benda di sekitarnya untuk membantunya mengingat, karena penyakit ini mempengaruhi hampir seluruh bagian otak beserta fungsinya, termasuk saraf-saraf yang berfungsi memproses memori di dalamnya. Dia akan kesulitan mengambil keputusan dan berkonsentrasi. Daya ingatnya juga perlahan menurun, membuatnya sering melupakan tempat-tempat yang biasa dia kunjungi dan juga orang-orang terdekatnya. Kemungkinan terburuknya, dia bahkan bisa lupa ibunya sendiri dan juga termasuk kamu sebagai orang terdekatnya." Saat ini, Mentari berharap kalau pendengarannya tengah bermasalah. Atau paling tidak, Erwin keliru memberikan penjelasan padanya. Mungkin saja orang yang sedang mereka bicarakan itu bukanlah Alan yang setiap hari bertemu dengannya. Mengingat bagaimana bibir milik Erwin bergerak mengatakan kalimat terakhir yang entah kenapa terdengar begitu mengerikan. Alan melupakan dirinya, itulah yang neurolog itu katakan. Mentari seketika menyesal telah bertanya lebih jauh. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu menyesal telah datang ke sana. Mungkin ada baiknya kalau dirinya tak tahu tentang hal itu. Tapi, tak mengetahuinya bukan berarti hal mengerikan itu tak akan terjadi, kan? "Mungkin kamu tak seharusnya mendengar ini. Tapi kamu mungkin lebih bisa menguatkan Alan ke depannya," ujar Erwin setelahnya. "Oh, iya. Saya dengar dari Chandra, katanya kamu sudah mulai masuk sekolah lagi, kan? Semoga fobia kamu bisa sembuh secepatnya, ya. Sering-seringlah datang menemui Wira. Bukan hanya untuk berobat, tapi juga untuk bercerita tentang banyak hal. Dia itu psikiater, pasti dia akan menjadi pendengar yang baik." Kedua sudut bibir Mentari seolah terasa berat untuk digerakkan. Gadis itu hanya menatap Erwin tanpa bisa mengatakan apa-apa. Erwin memutar kursinya menghadap ke jendela, di mana awan-awan kelabu mulai bermunculan. "Ngomong-ngomong Chandra gak bikin kamu kesulitan, kan? Saya sudah peringatkan agar tak terlalu memaksa kamu untuk mengikuti materi di luar. Kalau dia keterlaluan, bilang saja sama saya. Biar nanti saya marahi dia," guraunya. Air muka lelaki itu terlihat begitu kontras berbanding terbalik dengan Mentari saat ini. Awan-awan kelabu yang berada di luar sana, seolah ikut menyelimuti tubuh gadis itu. "Sepertinya kamu juga sudah tahu kalau Chandra sama Alan itu sudah saling kenal sejak lama. Saya awalnya tidak tahu kalau Alan itu teman Chandra. Anak saya dulu hanya bilang kalau dia punya temen baru yang aneh dan juga gak punya banyak temen. Tapi gak lama setelahnya, saya harus pindah ke rumah sakit lain dan siapa sangka kalau anak yang pernah dibicarakan oleh Chandra itu akan menjadi pasien saya selang beberapa tahun setelahnya." Erwin tiba-tiba tertawa pelan, "Saya ingat sekali dia dulu kepengin banget jadi dokter saraf biar bisa bantu Alan. Tapi ternyata dia sempat dihadapkan dengan pilihan cukup sulit, sampai akhirnya dia harus melepas impiannya itu. Dan— saya terkejut dengan keputusannya." Di saat itulah pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan seseorang di baliknya. Chandra menatap gadis berjaket merah muda yang tengah bersama dengan ayahnya. Kedua alisnya bertaut, "Mentari?" panggilnya hingga si pemilik nama itu menoleh padanya dengan raut wajah yang terlihat begitu menyedihkan. Chandra menatap sang ayah, mencoba meminta penjelasan tentang Mentari yang tiba-tiba bisa berada di sana. "Kebetulan sekali. Bisa kamu antar Mentari pulang? Kayaknya bentar lagi mau hujan." Chandra menatap ayahnya selama beberapa saat dan beralih pada Mentari yang bergeming di posisinya. Tak lama setelahnya gadis itu bangkit dan berpamitan pada Erwin, lalu pergi dari sana. Chandra bergerak menyusul gadis itu yang sudah berjalan terlebih dulu. Lelaki itu menahan salah satu tangan Mentari tepat sebelum gadis itu mencapai lift. "Papa ngomongin apa aja sama kamu?" tanya Chandra. Wajah Mentari benar-benar terlihat berbeda dari biasanya, menandakan kalau gadis itu tak baik-baik saja. "Enggak banyak kok." Mentari mencoba menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan menatap Chandra, "Pak Chandra pasti tahu semuanya sejak lama. Dilupakan oleh orang terdekat itu ... rasanya pasti tidak nyaman," ujarnya kemudian. Tepat ketika Mentari berniat melepaskan tangannya, ia kembali menatap Chandra yang masih terdiam, "Apa aku boleh bertanya?" Chandra menganggukkan kepalanya pelan. Seluruh atensinya kini mengarah pada Mentari, begitupun sebaliknya. "Apa aku boleh tahu alasan Pak Chandra melepas impian itu? Harusnya, saat ini Bapak sudah jadi seorang dokter saraf yang hebat dan membantu Alan, kan? Tapi— kenapa Bapak melepaskannya? Hal seperti apa yang membuat Bapak malah memilih meninggalkan impian itu?" Suasana di antara mereka berdua seolah berubah senyap. Mentari menatap sorot mata Chandra yang perlahan berubah sendu. "Kalau Bapak merasa keberatan buat jawab, aku gak akan maksa kok." Mentari memutuskan kontak mata mereka. Ia lalu melepaskan tangan Chandra darinya, "Pak Chandra gak perlu nganterin saya pulang. Saya bisa pulang sendiri." Ia kemudian berjalan memasuki lift. Tepat setelah Mentari menekan salah satu tombol yang ada di sana, ia mendengar Chandra memanggil namanya. Membuat ia harus kembali menatap sepasang manik amber itu. "Apa kamu ... benar-benar gak ingat sama saya?" Netra milik Mentari perlahan melebar. Namun bersamaan dengan itu, pintu lift menutup. —TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN