57. Tentang Alan

1519 Kata
Lala beberapa kali melirik Mentari di saat mereka membereskan buku yang ada di atas meja. Ia merasa Mentari lebih banyak diam setelah bertemu dengan Chandra dan juga Alan di lab fisika tadi. Bahkan begitu istirahat kedua, gadis itu tak merengek lapar dan juga mengajaknya ke kantin seperti biasanya. Sesuatu pasti terjadi di antara mereka bertiga, Lala berpikir demikian. Mentari yang biasanya sewot tiap kali berhadapan langsung dengan Chandra, justru menurut bak anak kucing yang tengah diberi makan. Namun kenyataannya, justru anak kucing itulah yang meminta makan pada Chandra. Lala menyentuh bahu Mentari saat sahabatnya itu sudah selesai lebih dulu. "Tar, lo ... baik-baik aja, kan?" Mentari mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Gue baik-baik aja kok. Kenapa emang?" "E-enggak kok. Gue ngerasa lo dari tadi banyak diem." "Perasaan lo aja kali." Bibir Mentari menyunggingkan seulas senyuman tipis. "Oh, iya, gue duluan, ya? Nyokap udah nungguin." "Eh?" Lala mengerjap pelan. Ia hendak memanggil kembali Mentari namun teman sebangkunya itu sudah menghilang di balik pintu. Ia menatap jam tangan yang melingkar di salah satu pergelangan tangannya, "Tumben Tante Mala jemputnya cepet," gumamnya. Sementara itu Mentari kini sudah mencapai lantai dasar. Ia menatap bayangan pepohonan yang ada di sekitar koridor lalu segera menaikkan topi jaket bertelinga kucing miliknya. Dengan sedikit berlari, gadis itu pergi menuju gerbang dan bersembunyi di baliknya, menghindari sengatan sang surya. "Bagus." Mentari bergumam seraya mengatur napas. Denyut jantungnya meningkat namun ia mencoba tak menghiraukannya. Kedua matanya kemudian berkeliling, menatap ke kanan dan kiri. Ia sempat menatap sebuah angkot yang berhenti di seberang jalan, namun kedua kakinya terasa seperti terkunci di sana. Otaknya seolah memerintahkannya untuk tetap berada di sana. Mentari mengecek ponselnya dan tak lama setelahnya, sebuah mobil berhenti di depannya. Gadis itu menatap sang sopir usai salah satu kaca jendelanya diturunkan. "Mbak Mentari, ya?" tanya seorang pria paruh baya di dalam sana. Mentari sedikit menundukkan badan hingga ia bisa melihat lawan bicaranya. Gadis itu mengangguk, lalu segera memasuki mobil. "Saya langsung bisa tahu Mbak karena tadi Mbak bilang pakai jaket pink yang ada telinga kucingnya." Sopir itu melirik spion, menatap gadis yang duduk di belakang. Mentari yang sudah menurunkan topi jaketnya itu pun hanya tersenyum tipis. * "Gue ngomong itu karena dia yang minta. Dia datang sendiri nyamperin gue, dan dia nanya tentang kondisi lo." Kedua kaki milik Alan sempat berhenti, membiarkan Eric berjalan mendahuluinya dan mengoceh sendirian tanpa tahu kalau lawan bicaranya tertinggal di belakang. Mentari menanyakan kondisinya pada Chandra. Gadis itu sudah tahu kalau dirinya dan Chandra saling mengenal satu sama lain. Alan menatap salah satu telapak tangannya yang sudah bersih, lalu menggenggamnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan berbelok ke koridor lain, mengabaikan Eric yang mungkin akan mengomelinya karena ditatap aneh oleh orang-orang di sekitar. Belum juga kakinya menyentuh anak tangga, Alan sudah bertemu dengan Lala di sana. Gadis itu menatapnya dengan salah satu alis naik, seolah bertanya— Ngapain lo di sini? "Mentari mana?" tanya Alan to the point. Lelaki itu menatap ke belakang Lala, lalu matanya menelusuri hingga anak tangga paling atas. "Udah pulang. Nyokapnya udah jemput." Alan terlihat mengulum bibir sejenak sebelum akhirnya ia berpamitan dari sana. Namun suara Lala menginterupsi, membuat Alan berhenti bahkan sebelum lelaki itu mencapai langkah pertama. "Gue denger katanya lo ... punya alzheimer." Lala berujar pelan. Alan memutar tubuhnya hingga kembali berhadapan dengan Lala. "Kenapa lo— bisa tahu?" Lala menuruni anak tangga yang terakhir dan membiarkan orang-orang di belakangnya lewat. "Mentari yang bilang sama gue sewaktu lo tersesat kemarin. Sori ya, gue beneran gak tahu soal itu. Harusnya gue gak marah sewaktu lo salah nyebut nama gue." Mendengar itu, Alan sempat terdiam. Selama ini ia berpikir kalau Lala hanyalah teman dekat Mentari yang galak dan hobi marah-marah. Namun, rupanya sosok seperti Lala memang cocok bersama dengan Mentari. Lala sepertinya cenderung lebih peka terhadap situasi di sekitarnya. Gadis itu meminta maaf padanya dalam waktu yang cukup singkat usai mengetahui kebenarannya. "Soal itu, ya. Gue gak apa-apa kok. Wajar kalo lo marah, ingatan gue emang kadang agak kacau." Alan menunjuk kepalanya kemudian tertawa renyah. "Tetep aja, gue ngerasa gak enak sama lo." Lala menambahkan. Ia dan Alan berjalan bersama namun gadis itu tak menanyakan apa-apa tentang kejadian di lab fisika. "Emm ... ngomong-ngomong kalo boleh tahu, lo sejak kapan punya alzheimer?" Dengan pandangan lurus ke depan, Alan kemudian berkata, "sejak kecil gue punya gangguan kognitif dan itu makin parah setiap harinya, sampe saat ini. Jadi, ya, cukup lama." Lala dibuat tertegun setelahnya. Bahkan di saat mengatakannya, Alan masih menyunggingkan seulas senyuman, seolah apa yang dideritanya itu tak ada apa-apanya. Padahal, Lala tahu. Sesuatu yang diderita oleh Alan itu, tak seharusnya disepelekan. Jika ia berada di posisi Alan, mungkin dirinya akan merasa frustrasi setiap hari. Mereka berdua berpisah setelahnya. Alan pergi ke parkiran sementara Lala pergi menuju gerbang usai melihat mobil jemputannya. * Mentari mengetuk pelan pintu di depannya, kemudian membukanya saat si pemilik ruangan yang berada di dalam memberinya akses untuk masuk. Seorang pria yang mungkin usianya hampir mencapai setengah abad itu terlihat sibuk dengan beberapa lembar kertas di atas meja, sebelum akhirnya ia menatap sosok yang baru saja masuk dan tersenyum setelahnya, lalu mempersilakannya duduk. "Kamu ke sini sendirian?" Mentari mengangguk, "Aku langsung ke sini setelah jam terakhir beres. Jadi gak sempat ganti baju, hehe." "Udah pinter naik kendaraan umum, ya. Bagus sih." Pria yang duduk di hadapan Mentari tersenyum bangga layaknya seorang ayah yang mendengar kalau putri kecilnya sudah pandai menaiki sepeda. "Masih agak deg-degan sih. Tapi sekarang udah gapapa kok. Tangan juga enggak tremor parah kayak waktu itu, mungkin karena aku yang kekeh ke sini kali ya," jawab Mentari terus terang seraya tertawa. Ia langsung disodori kotak tisu setelahnya, membuatnya kembali tertawa pelan lalu menggumamkan terima kasih seraya menarik beberapa lembar tisu dari dalamnya. "Tapi ibu kamu tahu, kan? Udah bilang sama ibu kamu?" Wira kemudian bertanya. Ia meletakkan kembali kotak tisu itu di tempat semula. Mentari yang sedang mengelap dahi itu mendadak berhenti. Ia mengerjap pelan, "I-iya, udah kok." "Jadi, apa yang membuat kamu kekeh datang ke sini sendirian? Ada masalah?" tanya Wira. Hal itu membuat Mentari sempat terdiam. "Sebenernya ... aku ke sini bukan buat periksa sih. Aku mau tanya soal sesuatu." "Oh, ya? Apa itu? Ngeliat dari raut wajah kamu, kayaknya itu cukup penting, ya." Mentari berkedip dua kali. Penting, katanya. Apakah itu memang penting buatnya? Gadis itu menelan ludah. "Jadi, salah satu temenku punya gangguan kognitif sejak lama dan di usianya saat ini dia— didiagnosis alzheimer. Aku gak tahu harus tanya ke siapa, karena Dokter Wira itu dokter, pasti lebih tahu dari aku meskipun sedikit." "Alzheimer?" Otak Wira berputar dengan cepat, lalu pria itu mengangguk pelan, seolah memahami situasi yang sedang dialami Mentari. "Apa yang mau kamu tanyakan?" "Awalnya aku pikir kalau alzheimer itu cuma penyakit pelupa biasa, tapi ternyata makin hari dia makin aneh. Dia pernah nyasar beberapa kali, bahkan jalan pulang ke rumahnya sendiri pun lupa. Kadang dia agak lambat bertindak, lupa sama nama orang-orang di sekitarnya. Dan yang terakhir, tadi pagi aku liat dia nulis reminder di tangannya." "Jadi, kamu khawatir sama temenmu, ya?" Khawatir? "Sebenernya saya gak begitu tahu tentang alzheimer itu, karena saya bukan berada di bidang yang menanganinya. Seperti yang kamu tahu, saya ini hanyalah psikiater. Saya hanya membantu mendiagnosis dan merawat pasien-pasien yang memiliki keluhan pada kondisi mentalnya. Tapi, saya beberapa kali mendapat pasien yang mengidap alzheimer, seperti yang barusan kamu katakan." Wira menjelaskan. "Benarkah? Terus gimana? Apa itu artinya, penyakit itu juga berpengaruh sama mentalnya?" Mentari menegakkan tubuhnya dan gadis itu mengarahkan atensi sepenuhnya pada Wira, membuat sosok di depannya menyadari seantusias apa gadis itu mendengar jawaban yang akan ia dengar. "Cukup berpengaruh. Karena gangguan kognitif yang dialaminya membuat dia kesulitan beraktivitas, bahkan berkomunikasi dengan orang lain. Saya membantu memberinya beberapa obat untuk mencegah adanya kecemasan yang lebih parah. Tapi, akhir-akhir ini dia tidak datang menemui saya, jadi saya pikir kondisi mentalnya mungkin sudah membaik." Netra milik Mentari masih menatap lawan bicaranya. Di saat yang bersamaan ia dan Wira menoleh saat mendengar suara ketukan dari arah pintu dan usai Wira menyuruhnya masuk, seseorang terlihat di balik pintu itu. "Oh, ada pasien, ya? Maaf ya, saya enggak tahu," ujarnya seraya tersenyum, membuat kerutan samar di sekitar bibirnya ikut tertarik ke atas. Ia menatap sosok yang bersama dengan Wira. "Bukan konsultasi serius kok." Wira balas tersenyum, kemudian ia menatap Mentari. "Kalau kamu mau tahu yang lebih lengkap, kamu bisa tanya ke dokter yang ada di sana. Namanya Dokter Erwin, karena beliau dokter saraf, jadi beliau lebih bisa menjawab setiap pertanyaan kamu tadi," ujarnya. "Kenapa tiba-tiba bahas saya? Kan, saya gak salah apa-apa." Erwin yang masih berada di ambang pintu itu bergurau, membuat Mentari berasumsi kalau kedua dokter itu adalah teman sebaya yang biasa bertukar gurauan. "Dia nanyain tentang Alan. Mungkin, kamu bisa bantu dia." Wira berujar tanpa ragu, lalu ia menyadari perubahan raut wajah Mentari. "Alan?" Erwin menatap gadis yang memakai jaket berwarna merah muda itu, kemudian tersenyum, "Mentari, ya? Kalau begitu ayo ke ruangan saya, kita bisa ngobrol di sana," ujarnya kemudian. Ia menatap Wira sejenak kemudian berlalu, mengabaikan keterkejutan Mentari. Apalagi saat gadis itu menatap Wira seolah meminta penjelasan, namun sang psikiater hanya memberi kode agar dirinya segera menyusul langkah Erwin. —TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN