50. Antara Chandra dan Alan

1191 Kata
"Gimana? Udah ngumpulin makalah?" tanya Lala begitu Mentari datang. "Hm." "Pak Chandra ada gak?" "Ada." Lala menatap Mentari yang berjalan mengambil minuman di lemari pendingin. Ia berkedip dua kali, "Kenapa lagi, Tar? Lo dikerjain Pak Chandra?" tanyanya begitu Mentari mendudukkan tubuhnya di depannya. Mentari sempat melirik Lala dan kemudian ia menggelengkan kepala, "Enggak kok," ujarnya. "Lho, enggak pesen makanan, Tar?" Lala menatap Mentari yang hanya meminum minumannya. "Eh, iya. Astaga, gue lupa. Kan gue lagi laper." Mentari kembali bangkit dari posisinya dan gadis itu pergi memesan makanan. Sementara Lala hanya mengerjap beberapa kali menatap kelakuan sahabatnya itu. Usai memesan makanan, Mentari lantas kembali ke tempatnya. "Kayaknya otak gue lagi agak error," ujar Mentari seraya menepuk-nepuk kepalanya pelan. Lala mendadak menghentikan kegiatan makannya dan menatap mangkuknya yang berisi makanan. Ia mendadak teringat saat dirinya melihat Chandra dan juga Alan yang mengobrol. Entah apa yang mereka berdua bicarakan namun mereka terlihat begitu akrab. "Kenapa, La?" tanya Mentari. Gadis itu menyadari perubahan raut wajah Lala. "Eh? Emm ... gini, Tar. Pas lo gak berangkat, gue gak sengaja liat Alan sama Pak Chandra ngobrol bareng di koridor. Tapi— entahlah, mungkin cuma perasaan gue aja. Mereka kayak yang akrab gitu, kayak udah lama temenan," ujar Lala. Mentari berkedip dua kali. Mendengar ucapan Lala, membuatnya kembali teringat kejadian di hari dirinya pergi ke rumah Alan untuk mengantar kue. Dan yah, di sana ada Chandra, entah bagaimana. Ia juga sempat bertanya pada Chandra soal itu namun lelaki itu tak menjawabnya sama sekali. Haruskah ia bertanya langsung pada Alan? "Tar?" panggil Lala. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Mentari hingga sahabatnya itu tersadar dari lamunannya. "Kenapa malah ngelamun? Apa lo tahu sesuatu tentang mereka?" "Eh? Enggak juga sih. Mungkin ... itu cuma perasaan lo aja, La. Atau gak, nanti deh gue coba tanyain sama Alan." Mentari mengambil sendok dan garpu begitu makanannya datang. "BTW selama lo gak masuk kemarin, Alan ada jenguk lo gak? Dia bilang, rumah kalian deket. Beneran? Karena seinget gue, lo juga pernah bilang dulu kalo Alan itu tetangga lo," ujar Lala dengan salah satu pipi yang penuh hingga tampak menggembung. "Enggak ada sih, tapi gak tahu juga. Soalnya akhir-akhir ini Galang lumayan deket sama Alan dan mereka sering main bareng di depan rumah. Mungkin aja Galang ngomong yang aneh-aneh sama Alan. Lo tahu kan, kadang mulut adek gue itu bisa lemes banget." Mentari terkikih, lalu menyeruput mi ayam miliknya. Mendengar itu, tiba-tiba Lala berdeham, "Kayaknya Pak Chandra bakalan ada saingan baru nih," ujarnya. "Ha?" Salah satu alis Mentari naik. "Maksudnya? Lo jangan mulai ya, La. Dari muka lo, kayaknya gue tahu apa yang lagi lo pikirin." Mentari menggelengkan pelan kepalanya kemudian kembali memakan makanannya. "Kalo misalnya suatu saat nanti lo dihadapkan sama dua pilihan di antara mereka, lo bakalan pilih siapa, Tar?" Uhuk! Mentari langsung tersedak di detik itu juga hingga hidung dan tenggorokannya terasa perih. Gadis itu buru-buru mengambil minumannya dan menenggaknya langsung. "Pak Chandra baik sih, Tar. Tapi gue rasa Alan juga gak kalah baik. Dia bahkan sampe rela ikut dihukum lari keliling lapangan sama lo. Iya, kan?" Uhuk! Untuk kedua kalinya, Mentari kembali tersedak bahkan sekarang minumannya ada yang sampai keluar dari hidung, membuat rasa perih yang tadi semakin menjadi. Namun bukannya menolong, Lala justru sibuk menertawakan Mentari. Ada-ada saja memang dia itu, padahal temannya sedang kesulitan tepat di depan matanya. "Astaga, Tar. Gue bercanda kok. Serius amat lo nanggepinnya." Lala terkikih. Gadis itu kemudian mengambilkan beberapa tisu dan memberikannya pada Mentari. "Gak lucu tahu, La." Mentari mengambil tisu yang diberikan Lala padanya dan mengelap hidung juga sekitar mulutnya yang ikut basah. "Iya, Tar, maaf." Lala kembali menahan tawa begitu melihat ekspresi wajah Mentari. "Tapi, mereka beneran baik, kan? Perhatian juga." "La, bisa diem gak? Gue cuma mau makan." Mentari membuang napasnya pelan. "Ya kalau pun mereka perhatian, justru bagus lah. Artinya mereka bisa maklum keadaan gue yang gak normal ini kan. Gue sih gak ambil pusing soal itu." Tiba-tiba kedua mata milik Lala kembali berbinar, "Terus-terus, lo pilih siapa dong? Pak Chandra atau Alan?" "Enggak dua-duanya," tegas Mentari. "Ih, jangan gitu dong. Harus pilih satu." "Enggak ada, Lala. Gue gak pilih siapa-siapa. Puas?" Mentari mengambil kembali sendoknya dan melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda. Lala menyeringai tipis tanpa melepaskan matanya dari Mentari barang sedetik pun, kemudian gadis itu kembali lanjut makan. Namun bagaimana pun, ucapan Lala barusan entah kenapa sedikit mengganggu isi kepala Mentari. Semakin hari, semakin banyak tanda tanya yang hinggap di kepalanya. Mulai dari kedekatan Alan dan juga Chandra, hingga alasan Chandra sendiri yang entah kenapa ia rasa begitu perhatian padanya— tidak, mungkin terlalu perhatian sampai membuat Mentari tak merasa seperti sedang dipedulikan oleh gurunya sendiri. Memangnya siapa Chandra itu? Apa mereka dulunya benar-benar pernah bertemu? * "Belok kanan, lewatin kelas IPS 2, terus lurus, belok kiri—" Bruk! Tubuh Alan terdorong pelan ke belakang saat ia menabrak seseorang begitu ia berbelok ke salah satu koridor. "Sori, gue gak sengaja— lho, Mentari?" Alan menatap gadis yang barusan ditabraknya. "Lo ngapain di sini?" Kini giliran Mentari yang bertanya. Gadis itu lalu melirik sebuah kertas berukuran kecil yang ada di tangan Alan. Namun ia tak sempat mengintip isinya karena Alan dengan cepat memasukkannya ke dalam saku celana. "Ah, gue— mau ke perpustakaan. Mumpung lagi jam kosong. Lo sendiri ngapain?" "Gue baru dari perpustakaan." Mentari sempat melirik ke arah saku celana Alan. "BTW lo mau ke perpus, kan? Ya udah bareng sama gue aja." Mentari berbalik dan ia berjalan mendahului Alan. "Eh, bukannya lo bilang kalo lo abis dari perpus, ya? Kenapa balik lagi?" Alan menyusul langkah Mentari. "Lo kan mau ke perpustakaan. Ya udah, gue tunjukin aja sekalian jalannya. Takut ya lo nyasar," ujar Mentari terus terang, membuat Alan yang berjalan di belakangnya itu pun mendadak diam selama beberapa saat. "O— thanks, ya." "Gue juga lagi ada jam kosong kok. Jadi santai aja. Enggak ada tugas juga." Mentari membuka pintu perpustakaan begitu mereka tiba. "Terus Laila? Kan, dia biasanya sering bareng sama lo kalo ke mana-mana." Kedua kaki Mentari langsung berhenti di detik itu juga hingga Alan hampir saja menabrak punggungnya jika lelaki itu tak buru-buru berhenti. "Laila?" Mentari lantas berbalik, menatap Alan yang lebih tinggi darinya dengan kening yang mengerut. "I-iya, namanya—" Alan tak melanjutkan kalimatnya begitu ia mengingat sesuatu. "Mampus, gue lupa namanya siapa. Lila? Lili? Lala?" batin Alan. Lelaki itu menelan ludahnya dengan susah payah. "Lala." Mentari meralat tanpa melepaskan tatapannya dari Alan barang sedetik pun. "Oh, iya kah? Haha, lupa gue." Alan tertawa renyah seraya menggaruk lehernya yang tak gatal. "Lala lagi nonton di kelas, jadi dia gak ikut ke sini." Mentari melanjutkan. Alan hanya mengangguk pelan sebagai bentuk respon dan lelaki itu kemudian berjalan ke salah satu meja. Mentari lantas ikut berbalik dan menatap ke mana Alan berjalan. "Ngomong-ngomong soal Alan, Galang sempet cerita sama Ibu. Katanya kemarin Alan manggil-manggil dia pake nama Gilang." "Terus katanya sebelum tahu kalo Alan tinggal di sini, Galang pernah bantuin dia nyari jalan pulang. Eh, ternyata rumahnya malah di sebelah rumah kita. Anak itu, dasar. Semoga dia gak kesasar lagi, ya." Entah kenapa, Mentari merasa ada perubahan pada kondisi Alan. Tidak, bukan ke arah yang lebih baik. Namun justru sebaliknya. —tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN