Langkah Sandra sempat terhenti begitu ia melihat seseorang di dekat gerbang. Kevin tampak berada di sana bersama motornya, entah sedang apa dan menunggu siapa. Sandra tidak peduli dan dia tidak mau tahu. Perlahan kedua kakinya kembali melangkah dan ia berjalan melewati Kevin. Sebelum ia benar-benar melewatinya, Kevin dengan cepat menahan lengan Sandra hingga langkah cewek itu kembali terhenti.
Tanpa sepatah kata pun, Sandra melepaskan tangan Kevin darinya dan ia memberhentikan sebuah angkot. Kevin yang melihat itu langsung memakai helmnya dan mengikuti angkot itu. Di dalam angkot, Sandra tak menolehkan kepalanya ke belakang sama sekali sepanjang perjalanan, entah ia sadar atau pura-pura tidak tahu kalau Kevin mengikutinya.
Hingga tidak lama kemudian angkot itu berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Sebelum Sandra benar-benar turun, ia melihat motor Kevin melesat terlebih dahulu memasuki halaman rumah. Setelah membayar, Sandra berjalan menuju rumahnya tanpa memedulikan keberadaan Kevin sama sekali, tidak peduli berapa kali cowok itu memanggilnya.
“Gio, dengerin gue dulu. Gio!” Kevin mengikuti Sandra hingga ke dalam rumah, bahkan cowok itu juga mengikuti Sandra ke lantai dua. Bi Surti yang mendengar suara Kevin pun keluar dari dapur dan melihat ke arah tangga. Kevin tampak memanggil Sandra namun cewek itu benar-benar menulikan pendengarannya.
“Pasti berantem lagi.” Bi Surti menggelengkan kepala. Ia sudah kelewat biasa melihat dua remaja itu tak akur. Padahal beberapa waktu lalu hubungan keduanya tampak membaik, namun entah apalagi yang terjadi kali ini hingga mereka kembali menjadi seperti dulu.
Tepat ketika Sandra hendak menutup pintu kamarnya, Kevin dengan sengaja menahan pintu dengan kaki hingga Sandra menatapnya.
“Gi, please. Dengerin dulu,” pinta Kevin.
“Pergi,” ujar Sandra dingin.
“Gio—“
“Gue gak butuh penjelasan lo dan gue gak peduli. Urus aja diri lo sendiri, lo gak perlu mikirin gue lagi.”
Kevin membuang napas, “Gue emang nutupin keberadaan Daffa dari lo. Tapi, Gi, Daffa juga sebenernya pengin ketemu sama lo. Dia masih harus rehab beberapa kali lagi sekaligus nunggu waktu yang tepat buat ketemu sama lo,” jelas Kevin.
Salah satu sudut bibir Sandra naik, “Lo pikir gue peduli?” Ia menyingkirkan kaki Kevin menggunakan kakinya dan dengan segera menutup pintu.
Tangan Kevin mengepal. Ia sudah bersiap menggedor-gedor pintu di hadapannya namun segera ia tahan karena tidak mau memperburuk mood Sandra. Akhirnya tanpa mendapat hasil apa-apa, Kevin memilih kembali ke bawah. Ia duduk di bangku yang ada di halaman rumah Sandra dan menatap mawar-mawar di sana yang tumbuh dengan baik. Meskipun Irma sudah tiada beberapa tahun lalu, namun mawar miliknya tetap tumbuh subur dengan sangat baik. Sandra dan papanya pasti merawatnya.
Kevin menoleh saat seseorang meletakkan segelas jus di sebelahnya. Ia mendongak dan menatap Bi Surti yang tersenyum padanya.
“Bi, kan aku gak minta-“
“Gak apa-apa, Bibi yakin Mas Kevin pasti ngehabisin tenaga cukup banyak buat ngejar Non Sandra,” canda Bi Surti. Wanita itu mendudukkan dirinya di sebelah Kevin.
“Denger-denger Mas Kevin kemarin kecelakaan, ya? Kok udah pake seragam lagi? Udah bener-bener sembuh?”
Kevin mengangguk setelah meminum jus yang diberikan Bi Surti. “Aku udah sehat kok.”
“Bibi khawatir banget pas dengernya. Non Sandra juga sampe nangis-nangis di hari Mas Kevin kecelakaan itu.”
Mendengar itu, Kevin hanya tersenyum tipis. Sepertinya di hari itu ia benar-benar membuat Sandra khawatir bukan main.
“Oh, iya. Pas Non Sandra jenguk Mas Kevin, dia sendiri loh yang metik bunganya. Bapak aja sampe bengong pas tahu kalo Non Sandra mau jenguk Mas Kevin sampe bawa bunga segala. Dia kelihatan seneng pas Mas Kevin udah sadar, padahal sebelumnya Non Sandra itu murung terus karena cemas.”
Kening Kevin mengerut, “Bunga? Gio bawa bunga pas jenguk aku?” tanyanya. Ia berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali Sandra ke rumah sakit.
“Iya, mungkin tiga hari yang lalu kalo gak salah.”
Tiga hari yang lalu adalah ketika Daffa datang menjenguknya. Di hari itulah Adnan dan Malika berusaha mengalihkan perhatian Sandra dan membawa cewek itu keluar dari arena rumah sakit.
“Oh, iya. Sori, ya. Tadi itu sebenernya gue bawa mawar dari rumah buat lo, tapi gara-gara dua makhlukgak sabaran itu, mawar gur jadi jatoh ke lantai dan pas gue periksa barusan udah gak ada. Kayaknya udah ada yang ngambil. Besok gue kasih yang baru deh.”
Ah, Kevin ingat sekarang. Ya, Sandra memang pernah berkata kalau dia membawa mawar dari rumah.
“Bibi pikir kalian gak bakalan berantem lagi tapi ternyata malah kejadian lagi.” Bi Surti tertawa pelan, “Dari kecil, Non Sandra itu emang sensitif orangnya. Gampang nangis, rapuh, tapi dia itu anak yang kuat. Meskipun kadang Non Sandra bersikap kasar dan keras, tapi dia punya sisi lain yang jarang diketahui oleh orang lain. Dia sebenarnya pribadi yang tenang, bahkan saat pemakaman Ibu pun Non Sandra gak nangis sama sekali, tapi dia sangat terluka, hingga sekarang. Ibu yang waktu itu menyembunyikan penyakitnya membuat Non Sandra benci dibohongi. Ibu selalu bersikap seakan-akan semuanya baik-baik saja, padahal beliau sakit dan selalu ke rumah sakit namun secara diam-diam tanpa sepengetahuan Non Sandra. Bibi sampai sekarang selalu sedih tiap kali ngeliat Non Sandra sedih atau bahkan nangis. Waktu Mas Daffa kena kasus aja Bibi gak tega ngelihat Non Sandra.”
Kevin terdiam mendengar penuturan Bi Surti. Ya, dia pun sependapat dengan wanita paruh baya itu. Sandra memang pribadi yang keras, namun rapuh. Tapi di sisi lain, ia adalah sosok yang tenang. Kevin ingat, bahkan masih sangat ingat. Bi Surti tidaklah asal bicara, karena Sandra memang tidak meneteskan air mata sama sekali selama menghadiri sesi pemakaman mamanya. Untuk anak seumurannya, Sandra terbilang cukup kuat. Namun tetap saja luka tetaplah luka. Sepintar apapun seseorang menyembunyikan lukanya, pasti akan terlihat meskipun hanya dari sorot mata. Saat itu, Kevin bisa melihat dengan jelas seberapa besarnya luka yang Sandra tanggung di umurnya yang masih belia. Tidak lama setelah perpisahan sekolah, Sandra harus menerima kenyataan kalau ia sendirilah yang harus menanggung perpisahan dengan mamanya.
“Aku pasti udah nyakitin Gio, Bi,” lirih Kevin. “Aku beberapa kali bikin Gio nangis.”
Bi Surti menatap Kevin yang menunduk dan ia tersenyum tipis. Salah satu tangannya terangkat dan mengusap bahu Kevin dengan gerakan pelan.
“Mendiang ibu percaya sama Mas Kevin. Beliau percaya kalau Mas Kevin bisa jaga Non Sandra dengan baik,” ujar Bi Surti.
Kevin tersenyum. “Makasih, Bi.”
—Bersambung