Devan menelungkupkan wajah dibalik kedua kakinya. Angin malam yang berhembus sedikit kencang tak dia hiraukan. Pikirannnya kini tak karuan, semua terjadi begitu cepat, sampai-sampai Devan masih tak menyangka dengan semua yang baru saja dia dengar. "Harusnya gue sadar selama ini," lirih Devan disela isakan tangisnya. Air Danau perlahan membasahi kaki Devan. Dia memang duduk terlalu dekat dengan Danau. "Kok Lo beda sendiri si Dev sama kembaran Lo?" Devan yang sedang mengerjakan tugas menoleh kearah Riko, teman sebangkunya dikelas VII SMP. "Maksud Lo?" "Ya emang sih kalian kembar gak identik. Tapi Aksa sama Dimas ada mirip-miripnya dikit. Lo mah, dari mata aja udah beda. Mata lo lebih minimalis." Devan yang mendengar ucapan terakhir Riko menoyor kepala temannya itu. "k*****t! Lo pikir

