Chapter 10

1054 Kata
                                                                               **** Bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu namun Aksa belum beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Dia masih setia menemani kakaknya yang tertidur pulas sejak pelajaran fisika tadi. Hobi Devan yang selalu tidur di kelas membuat Aksa lama-lama terbiasa pulang terakhir. Dia harus menunggu sampai kakaknya itu bangun,karena jika tidur sang kakak di ganggu dia akan marah-marah tak jelas. "Astaga Sa, lo belom balik?"tanya seseorang di ambang pintu. Aksa pun menoleh kearah pintu kelasnya.Terlihat Dimas sudah menggendong ransel, tanda bahwa kelasnya sudah bubar. "Kak Devan belom bangun, mana bisa pulang gue,"ucap Aksa malas. Dimas pun menghampiri sang adik lalu duduk di sampingnya.Dia menggelengkan kepalanya melihat Devan yang tertidur sangat pulas tanpa merasa terganggu sedikitpun. Padahal di rumah tidurnya cukup, tapi tetap saja tidur di sekolah. "Kayanya si Devan perlu di ruqyah deh,kebonya kebangetan,"ucap Dimas. "Kaya sendirinya gak perlu di ruqyah aja,"celetuk Aksa. "Lah kenapa gue harus di ruqyah?gue ganteng, gak kebo, pacar punya, gak kaya kalian berdua jones!" "Iya punya, tapi lebih mirip emak tiri!" "Apa lo bilang?!" Seorang gadis berambut hitam panjang yang diikat dengan rapi berdiri di ambang pintu dengan buku paket di tangannya. "Eh Vina, sejak kapan lo disana?"tanya Aksa kikuk. "Sejak jefri nichol datang kerumah ngelamar gue terus ngajakin kawin!"jawab Vina judes. "Kok gitu sih Vina lopelope,lo kan punya gue. Masa mau kawin sama si Jefri,"rengek Dimas. "Gue becanda anjir! lagian mana mau dia sama gue." "Yaiyalah mana mau, orang lo kaya emak lampir,"ucap Aksa pelan namun terdengar oleh Dimas "Bukan emak lampir bege, tapi emaknya emak lampir,"timpal Dimas. Melihat Dimas dan Aksa cekikikan tak jelas Vina pun menghampiri dan memukul kepala mereka menggunakan buku paket yang dia bawa membuat kakak-beradik itu meringis kesakitan. "Ngomongin gue lo ya hah?!" Dengan sigap Aksa dan Dimas membentuk huruf V agar tidak mendapat amukan dari Vina. Meskipun wajahnya cantik dan manis, tapi hampir semua pria kelas XI segan untuk mengusiknya karena sikap Vina yang galak melebihi ibu tiri. "Huaaah."Devan menggeliat, perlahan kelopak matanya terbuka. Dia menerawang untuk memastikan dimana dia berada sekarang. "Akhirnya nih kebo bangun juga,"ucap Vina. "Lah kalian ngapain disini?"tanya Devan heran melihat Dimas dan Vina ada dikelasnya, padahal yang sekelas dengannya hanya Aksa. "Menurut lo?"tanya Dimas. "Mereka berdua nemenin gue Kak. Lo pikir gak bete apa nungguin orang tidur,"ucap Aksa. "Oh hehe, berasa special banget ya gue. Tidur aja di tungguin sama tiga orang."Devan menggaruk tengkuknya malu-malu. "Pengen muntah gue,"ucap Vina. "Muntah aja Vin, noh ada ember."Aksa menunjuk sebuah ember kecil di pojok kelas. "Ih adik ipar jahat sama dede!"ucap Devan. Mereka pun beranjak keluar dari kelas. Hari sudah menjelang sore, sang surya pun sudah mulai turun dari peradabannya. Di parkiran mereka berpisah. Sebagai kekasih yang baik Dimas harus mengantar Vina pulang. Dia tidak mau sang pujaan hati harus berdesak-desakan di dalam angkot. "Awas lo, abis nganterin Vina langsung pulang jangan mangkal!"ucap Devan memperingati. Meskipun usia mereka sama tapi bagi Devan, Dimas dan Aksa tetaplah adik yang harus dia lindungi. "Iya Van iya, lo pikir gue banci taman lawang apa pake mangkal segala!" "Pura-pura polos!"celetuk Aksa yang sedang menstarterkan motornya. "Emang gue polos, napah sirik lo?"tanya Dimas pada Aksa. "Duluan Kak." Aksa melajukan motornya tanpa menghiraukan ucapan sang kakak. Kadang Dimas bingung dengan sikap Aksa yang bisa berubah kapan saja seperti power ranger.Kadang ramah, kadang dingin. "Yaudah deh gue duluan. Tuh anak gak bisa di biarin bawa motor sendiri,"ucap Devan yang langsung melajukan motornya meninggalkan Dimas dan Vina. *** Bau masakan yang begitu menggoda membuat Aksa terbangun dari tidur sorenya. Dia beranjak dari tempat tidur untuk mengikuti asal dari aroma yang begitu menggoda. Dia terus berjalan sampai akhirnya dia bertabrakan dengan sang kakak. "Asa ah, masker gue rusak nih!"teriak Caca sambil memunguti timun yang jatuh dari kelopak matanya. "Eh maaf kak maaf, Asa lagi fokus nih,"jawab Aksa. "Fokus apaan idung lo ngendus-ngendus kaya anjing pelacak!" Aksa menjentikan jarinya membenarkan ucapan sang kakak.Dia memang sedang fokus mengendus sesuatu. "Bener banget kak!" "Beneran lo kaya anjing pelacak?"tanya Caca bingung. "Ish muka ganteng gini mana ada kaya anjing pelacak. Maksud Asa, bener kata kak Caca kalo Asa lagi fokus mengendus aroma yang sangat menggiurkan." Caca memutar bola matanya malas. Mungkin yang di maksud Aksa aroma enak itu adalah aroma masakan yang sedang di masak Syabilla. Entah mengapa semenjak ada Syabilla, Caca merasa dirinya sedikit di abaikan oleh adik-adiknya. Devan memilih untuk menemani Syabilla ke toko buku saat dia mengajaknya pergi ke bioskop. Dimas, tak menolak sama sekali saat Syabilla memintanya mambantu mengerjakan tugas kampus padahal Dimas type orang yang sangat malas belajar.Aksa, dia sekarang tak pernah lagi memintanya membantu mengerjakan pr karena selalu ada Syabilla yang membantu. "Noh, Billa lagi masak di dapur,"ucap Caca. "Wah pantes aja aromanya enak!Aksa nyamperin dulu kak Billa ya kak, babay."Dengan antusias Aksa berlari menuju dapur. "Wih kak Billa jago masak ya,"ucap Aksa saat melihat Syabilla tengah berkutat dengan masakannya. Merasa namanya di panggil, Billa menoleh. "Eh Aksa, bukannya kamu tadi tidur?"tanya Billa. Aksa menghampiri Billa lalu mencokot gorengan yang sudah jadi di piring, dia menatap Syabilla dengan senyuman yang manis. "Asa gak nahan sama aroma masakan kakak, jadi bangun deh." "Yaudah makan dulu, abis itu mandi,"ucap Billa. "Mandiin ya kak,"ucap Aksa dengan senyuman yang menggoda. "Cucu Oma sejak kapan jadi genit gitu ya." Widi datang dengan muka lelahnya lalu duduk di meja makan. Dengan sigap Billa mematikan kompor dan mengambilkan minum untuk sang Oma. "Minum dulu Oma, pasti cape." "Iya makasih ya Billa.Masih remaja kamu udah pinter masak ya, Caca aja gak bisa masak,"ucap Widi seraya meneguk minuman yang di berikan Billa. "Kak Caca bisa masak kok Oma,"ucap Aksa lantang.Dia berjalan mendekati sang oma dengan gorengan yang masih dia pegang. "Masak air tapi, hehehe." "Pada ngapain nih ngumpul di ruang makan?" Devan datang menghampiri, dia barusaja pulang dari tempat gym.Setiap sore dia memang selalu rajin pergi kesana untuk melatih otot-ototnya. "Wih kebetulan nih ada Devan. Sini duduk sayang."Widi menepuk kursi kosong di sampingnya. Devan pun duduk di samping omanya. "Masa Asa gak di suruh duduk Oma?"ucap Aksa dengan ekspresi cemberut yang di buat-buat. "Yaudah sini duduk cakep,"ucap Widi. Aksa pun duduk di samping Billa. Membuat sedikit getaran aneh di hati gadis yang baru menginjak usia 19 tahun itu. "Ah lo nyosor mulu Sa,"ucap Devan. "Apaan sih bang, siapa juga yang nyosor." "Udah-udah! mumpung kalian berdua ada,Oma mau ngomong,"ucap Widi. "Ngomong apa Oma?"tanya Aksa penasaran. "Si Imas gak di ajak Oma?"tanya Devan. "Dia kan udah punya pacar, jadi gak termasuk,"jawab Widi. "Emang Oma mau ngomong apaan sih?"Devan semakin penasaran dengan sang Oma. "Gini ya mumpung kalian berdua masih jones, Opa sama oma sudah sepakat untuk menjodohkan salah satu dari kalian dengan Syabilla." "WHAT?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN