***
"Oma buka pintunya Oma!"Aksa masih menggedor pintu kamar sang omah di temani ketiga saudaranya.
"Masa Oma cemburu sama abg sih!malu sama dijjah yellow dong Oma"teriak Caca.
"Gak mungkin gadis itu selingkuhan Opa, itu mah pantesnya buat Dimas Oma,"ucap Dimas.
"Enak aja lo, lo kan udah punya Vina. Mau gue bilangin hah, biar lo di putusin?"ancam Devan.
"Ish jangan Van, lo mau gue di gantung di tiang bendera ampe gosong?"
"Itu pacar apa emak tiri sih, galak amat."Caca angkat bicara di sela-sela perdebatan adiknya.
"Kaya sendirinya gak galak,"gumam Devan
"Gak galak kak, cuman sadis dikit,"jawab Dimas
Terlalu menunggu lama,akhirnya sang Opa datang menghampiri cucu-cucunya di depan kamar. Dia tak habis pikir sang istri akan mengira yang tidak-tidak pada gadis yang dia bawa.
"Kalian kok malah ngerumpi disini, katanya mau bujuk Oma."
"Asa udah gedor Opa,tapi gak di buka-buka pintunya."
"Jangan-jangan Oma loncat dari balkon!"ucap Dimas sekenanya.
Caca menghadiahi pukulan di bahu sang adik karena ucapannya. Dimas itu terkadang seperti perempuan, bicara seenak jidat tanpa di pikir terlebih dahulu. Padahal pepatah mengatakan,ucapan adalah do'a.
"Ngomong gitu sekali lagi, gue sunat lo sampe abis!"
Dimas pun hanya menunjukan cengiran kudanya pada Caca, di lengkapi tanda v yang dia bentuk dengan tangannya.
Sesekali Aksa melirik jam tangan digital yang melingkar di tangan kirinya. Sudah pukul 06.50 mereka masih di rumah,padahal 10 menit lagi bel di sekolahnya berbunyi. Tapi dia tak mungkin meninggalkan rumah tanpa tahu keadaan sang Oma.
Aksa pun pergi dari depan pintu meninggalkan kakak-kakaknya.
Di ruang tamu, seorang gadis tengah duduk dengan gelisah. Aksa mengamati gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut,tak ada tampang selir pikirnya.
"Hai kak,"sapa Aksa saat dia menghampiri gadis itu.
Terlihat raut kaget di wajah gadis berambut hitam panjang sebahu itu saat Aksa mendekatinya.
"Tenang aja kak, Asa jinak kok."
"Eeeh, nggak bukan gitu maksud aku,"ucap gadis itu gugup.
Aksa pun menyimpan tas yang sejak tadi dia gendong. Setelah itu dia duduk di samping gadis yang menurutnya mirip dengan Natasha willona itu.
"Nama kakak siapa?"tanya Aksa lembut.
"A..aku Syabilla, panggil aja Billa."
"Billa teringat tentang dia,jauh di mata dekat dihati."Aksa bernyanyi sambil menyentuh dadanya.
Gadis itu tersenyum melihat tingkah Aksa yang baik, berbeda dengan lelaki tampan yang sering dia temui di luar sana.Andai Aksa seumuran dengannya,mungkin dia akan mempunyai perasaan suka pada pandang pertama.
"Nah gitu dong senyum, kelihatan cantik kan kalo senyum."
"Kamu bisa aja."
"Ekhem!"
Suara seseorang mengalihkan pandangan Aksa dari gadis itu. Dia menoleh dan menyaksikan keluarganya sudah berdiri di belakang,di sertai sang Oma pula.
"Pantes aja nyelonong, orang mau pdkt,"ucap Caca.
"Wah lo nyolong start Sa." Devan menghampiri Aksa dan Billa lalu duduk di tengah-tengah mereka.
"Hai neng, kenalin babang Devan." Devan mengulurkan tangannya pada Billa.Namun barusaja Billa hendak menyambut jabatan tangan Devan,Dimas langsung menjabat tangannya.
"Dimas Adika Pribawa, cowok paling ganteng di kompleks ini,"ucapnya.
"Syabilla,"ucap Billa lembut.
"Namanya cantik kaya orangnya,"ucap Devan.
"Jiah, gombal lama!"celoteh Caca.
Widi dan Pribawa hanya tersenyum melihat tingkah kocak cucu-cucunya.Jika tidak ada mereka mungkin rumahnya tidak akan seramai ini.
"Oma udah gak ngambek kan?"tanya Aksa pada Omanya
"Nggak."
"Lagian Oma kalian ada-ada aja, Masa Opa selingkuh sama abg. Memang sih wajah Opa handsome banget,tapi kan Opa setia,"ucap Pribawa yang langsung mendapatkan cubitan kecil di pinggang dari sang istri, membuat dia meringis.
"Dasar tua bangke!"
"Opa kok pengen muntah ya,"ucap Dimas.
"Opa kok mules ya?"timpal Devan.
"Opa-"ucap Aksa yang langsung di potong oleh sang Opa.
"Kenapa kamu mau protes juga?"
"Nggak kok, Opa emang ganteng. Tapi Asa pengen beli laptop baru,beliin ya Opa?"ucap Aksa yang langsung disambut tawa dari semua orang disana.
***
Setelah Pribawa menceritakan semuanya pada Devan, Dimas, Aksa dan Caca bahwa Syabilla adalah anak dari teman alm Papa mereka yang ingin melanjutkan kuliah di Jakarta,mereka pun mengerti.
Mereka bahkan begitu antusias jika Syabilla akan tinggal bersama mereka selama dia kuliah.
Widi juga meminta maaf pada Syabilla karena telah salah paham dan mengira yang bukan-bukan.
Dia bahkan berjanji akan memperlakukan Syabilla sama seperti dia cucu-cucunya.
"Kak Billa baju ini bagus deh,beli ya?"tanya Aksa saat dia melihat sebuah dress biru selutut di sebuah pusat perbelanjaan.
Mereka sengaja mengajak Billa belanja karena dia hanya membawa beberapa saja pakaian ganti. Orang tuanya yang barusaja meninggal membuat dia harus pergi dari rumah karena rumahnya yang di sita pihak bank.
"Hehe nggak Sa, Kakak gak biasa pakai baju pendek segitu."
"Noh Sa,Billa gak suka pakaian kek gitu. Dia sukanya yang kaya gini,iyakan Bill?" Devan menunjukan sebuah abaya hitam yang begitu panjang lengkap dengan cadar.
"Lo pikir Billa mau pengajian bang,"celetuk Dimas.
Dimas pun mengambil sebuah kaos lengan panjang dan celana jeans yang senada lalu membawanya pada Billa.
"Yang gini suka?"tanya Dimas
"Iya suka."
Setelah mendapatkan beberapa pakaian untuk Billa,mereka pun mencari sebuah restaurant karena perut mereka yang sudah keroncongan.
Saat mereka sedang menikmati makanan,tiba-tiba Dimas merasakan sebuah jeweran di telinganya. Perlahan dia menoleh dan ternyata benar,gadis berambut hitam panjang berdiri di belakangnya dengan wajah murka.
"Gini ya kelakuan lo, bolos sekolah terus jalan sama cewek!"
"Ng...nggak Vina lope-lope,lo salah paham!"ucap Dimas yang menahan sakit akibat jeweran sang kekasih.
"Jewer aja Vin,kalo bisa sampai putus tuh telinga"ucap Devan.
"Iya Vin, jangan kasih ampun!"timpal Aksa.
"Aduh-aduh teh,teteh salah paham."Billa mencoba membantu Dimas melepaskan jeweran Vina namun tetap tak bisa.
"Siapa lo? gue pacarnya ya,jadi jangan macam-macam sama cowok gue!"bentak Vina pada Billa.
"Situasi mulai tak aman Sa,"ucap Devan pada Aksa.
"Iya bang, bertindak kuy!"
Devan dan Aksa pun akhirnya membantu melepaskan jeweran Vina di telinga Dimas,meskipun susah akhirnya mereka berhasil.
"Sabar Vin sabar, orang sabar pantatnya lebar,"ucap Devan.
"Astazim telinga gue."Dimas mengelus-elus telinganya yang merah seperti cabe.
"Dia bukan selingkuhan Dimas Vin,dia kak Billa sepupu kita,"ucap Aksa.
"Se..sepupu?"tanya Vina tak percaya.
"Iya Vina lope-lope dia sepupu gue,bukan selir."
"Aaaaah sorry Dim, gue udah salah paham. Maaf ya Dimas sayang hehe."Vina mengelus-elus telinga Dimas dengan ekspresi bersalahnya.
"Iya-iya, lagian telinga gue belum putus kok."
Tbc.