**** Dimas berjalan santai menyusuri lorong menuju kelasnya yang lumayan jauh dari gerbang utama. Langkah kakinya terasa begitu ringan sekarang. Tak ada lagi rasa sakit karena di selingkuhi. Omanya bilang jika Dimas beruntung putus dari Vina. Karena jika tidak, mungkin dia akan merasakan sakit yang lebih mendalam. "Dimas!" Dimas menghentikan langkah ketika seseorang menyerukan namanya dari belakang. Dia menoleh ke asal suara yang dia yakini seorang perempuan. Dan ternyata benar, tak jauh dari tempat Dimas berdiri seorang gadis menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. Perlahan gadis itu berjalan menghampiri Dimas, hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa meter. "Ada apa?" tanya Dimas sedatar mu

