“Apakah Pak Chandra memiliki hubungan dengan istrinya Sean, sehingga begitu melindunginya. Harus diketahui bahwa Mega merupakan orang tercantik di perusahaan kita. Banyak orang yang tertarik kepadanya.” Tatapan mata Bima tiba-tiba bersinar.
Khair tercengang. Benar juga, mengapa aku tidak memikirkan itu? Dia baru saja berusia dua puluh sembilan tahun, bahkan begitu tergila-gila kepada Mega, maka Pak Chandra juga pasti tergila-gila kepadanya.
Berpikir ini, hati Khair mencelos. Ternyata dia dan Pak Chandra saling merebut wanita yang sama, bukankah dia mencari mati?
“Seharusnya benar. Tapi tenang saja, kalau hubungan mereka seperti ini, tunggu Pak Chandra mulai bosan dengan Mega, maka jalan Sean juga akan berakhir. Kita juga tidak telat menghukumnya di saat itu.” ucap Khair.
“Manusia itu juga jahat sekali. Demi mendekati Pak Chandra, dia rela memberikan istrinya. Sungguh brengsek.” sindir Bima.
Khair tertawa dingin. Dia berbalik badan dan melihat jendela, akhirnya dia juga mengerti mengapa Mega begitu menjauh darinya.
“Mega… Mega, kukira kamu adalah seorang wanita suci, ternyata kamu adalah seorang jalang!”
Khair sungguh kesal. Sebelumnya dia hanya kesal kepada Sean, tetapi sekarang dia juga semakin kesal kepada Mega.
“Memang ada apa kalau kamu adalah wanita Pak Chandra? Kalau kamu tidak keluar dari divisi pemasaran, aku juga memiliki berbagai cara untuk menyusahkanmu.”
Khair menyeringai, kalau Chandra tidak memindahkan Mega ke divisi lain, maka berarti Chandra juga tidak ingin orang lain mengetahui masalah ini. Kalau dia ketahuan Chandra karena menyusahkan Mega, maka Chandra juga tidak akan banyak berkata.
Sean akhirnya merubah pikiran untuk membuat Perusahaan Arthaguna bangkrut.
Setelah kembali ke kantor bersama Chandra, dia langsung mengeluarkan pendapatnya untuk membeli Perusahaan Arthaguna. Akhirnya atas permohonan Chandra yang begitu tulus, dia tidak langsung menjatuhkan Chandra. Dia hanya membeli delapan puluh persen saham Grup Arthaguna dan menjadi Bos Perusahaan Arthaguna yang sebenarnya.
Setelah semuanya selesai diatasi, Sean langsung kembali ke rumah sakit.
“Apakah membutuhkan begitu banyak waktu untuk mengundurkan diri?” Mega memandang Sean tak bersahabat.
Meskipun sekarang mereka membutuhkan uang, tetapi setidaknya salah satu dari mereka harus merawat anaknya. Kalau tidak mereka sering minta ijin, hanya bisa mengganggu pekerjaan. Jadi setelah Sean bilang mengundurkan diri hari ini, Mega juga tidak banyak berkata. Lagipula gaji Sean yang begitu sedikit juga tidak berguna. Tapi alasan ia begitu marah adalah Sean pergi begitu lama.
“Ada hal lain yang mengganggu, sehingga aku telat.” ucap Sean.
“Ada hal apa yang lebih penting dibanding menjaga Andin?” ucap Mega dingin.
Awalnya Sean ingin bilang bahwa dia membeli saham Perusahaan Arthaguna. Tapi dia tertawa dan malas menjelaskan lagi setelah melihat ekspresi Mega yang begitu kesal. Hatinya tiba-tiba muncul harapan. Bagaimana dengan reaksi Mega jika mengetahui bahwa dirinya adalah Bos Perusahaan Arthaguna?
“Rawat Andin dengan baik. Kalau terjadi sesuatu pada Andin, aku tidak akan memaafkanmu.” Mega mendengus untuk terakhir kali dan mengambil tas selempangnya untuk kerja.
Sean tidak peduli dengan Mega dan berjongkok melihat wajah anaknya yang semakin kurus. Entah anaknya yang tertidur nyenyak sedang mimpi buruk atau penyakitnya kambuh, sehingga raut wajahnya menunjuk sedikit kesakitan.
Sean memberi kecupan pelan diatas dahi anaknya. Akhirnya dia tidak memanggil anaknya lagi. Melihat raut wajah anaknya yang pelan-pelan tenang, Sean menghubungi Roby, menyuruh untuk segera menemukan sumsum, lalu dia juga merubah kamar anaknya menjadi kamar VIP.