9

580 Kata
“Apa?” Khair tercengang, dia tidak mengetahui apa yang terjadi. Chandra yang raut wajahnya penuh kekesalan, sepasang kakinya juga bergetar. Bima dan beberapa orang satpam yang lain juga tercengang. Bukankah Pak Chandra akan memecat Sean? Apa sekarang maksudnya? Sean memandang Chandra yang marah besar kepada Khair, lalu menyeringai. Semua terjadi begitu tiba-tiba, sehingga membuat Khair mereka tidak sadar. “Untuk apa terdiam? Segera minta maaf kepada Sean!” Hati Chandra sangatlah panik. Dia juga tidak menyangka bahwa orang di belakang Sean adalah Roby, orang terkaya di Kota Bandung. Setelah Sean keluar dari kantornya, dia langsung menerima telepon dari Roby. Roby langsung menjelaskan bahwa dia telah mencari masalah dengan Tuan Mudanya. Demi menenangkan amarah Tuan Mudanya, harus membuat perusahaannya bangkrut sebelum pukul empat sore. Tujuan Roby menghubunginya adalah agar dia mengetahui jelas apa saja yang telah dia lakukan. Ucapan ini memang terdengar sangat angkuh. Tapi orang terkaya alias Roby memiliki modal untuk angkuh. Roby saja sudah mulai turun tangan, untuk apa dia tak percaya? Di hadapan Roby, dia hanyalah semut kecil, bahkan tidak berhak dipandang setingkat olehnya! Jadi dia dengan tergesa-gesa mengejar. Tak ada cara lain, selain meminta maaf kepada Sean, siapapun juga tidak bisa menolongnya. Khair tercengang dan melihat tatapan Pak Chandra yang tegas, seketika dia mengalah. “M-maafkan aku, Sean. Aku yang salah, mohon kamu maafkan kebodohanku!” Khair menggertak giginya dan akhirnya mengakui kesalahan kepada Sean. Khair mengerti, kalau hari ini dia tidak meminta maaf, mungkin dia akan dipecat. Pelanggannya sangat, sedangkan hanyalah Kota Bandung yang memproduksi produk tersebut secara besar. Kalau dia dipecat, selain dia inisiatif meninggalkan Kota Bandung, kalau tidak dia hanya bisa berkeliaran di luar. Lagi pula dia mendapat komisi sebanyak lima puluh juta lebih setiap bulan disini, sehingga dia juga tak rela untuk pergi. Bima dan beberapa satpam lainnya juga menundukkan kepala mereka, tidak berani menatap tatapan Pak Chandra, juga takut disuruh untuk meminta maaf kepada Sean. “Sean, kamu lihat...” Chandra berbalik badan melihat Sean, seketika memasang wajah penuh senyuman. Khair mereka melihat ke arah Sean. Sean menyipitkan matanya dan berpikir sesaat. “Begini sudah cukup.” Sean tahu kalau Khair terpaksa untuk meminta maaf, tidak ada sedikitpun ketulusan dari hatinya. Kalau begitu, pelan-pelan saja untuk bermain dengannya! “Tidak pergi bekerja?” Chandra menghela nafas, setelah mendengar kata-kata Sean, berarti dia masih ada jalan lain. “Baik, aku segera pergi kerja!” Khair juga menghela nafasnya, seperti tikus bertemu dengan kucing, segera kabur. Bima juga sibuk membawa beberapa petugas keamanan pergi dari resepsionis. “Tuan Muda Sean, maaf sekali. Aku dulu terlalu percaya dengan ucapan Khair, sehingga terjadinya kesalahpahaman terhadap masalahmu. Mohon kamu berikan kesempatan untukku.” Setelah Khair mereka pergi, Chandra langsung bermohon kepada Sean dengan tulus. Sekarang keselamatan perusahaannya bergantung kepada satu kalimat Sean. Kalau Sean ingin dia berlutut untuk meminta maaf, maka dia juga harus melakukannya. Sean menatap Chandra lama, hingga hati Chandra tidak merasa tenang. Dia baru tertawa berkata, “Baik, mari kita bahas di kantormu.” Akhirnya Chandra bisa kembali tenang dan segera membawa Sean ke kantornya. “Pak Khair, apa maksudnya Pak Chandra? Padahal dia yang setuju untuk memecat Sean. Mengapa tiba-tiba dia langsung membantu Sean?” tanya Bima curiga di kantor Khair. Khair berkerut alis dan tidak berbicara. Dia juga tidak mengerti apa saja yang terjadi. Hari ini dia dipaksa untuk meminta maaf kepada Sean. Meskipun tidak banyak orang yang melihatnya, tapi itu cukup membuatnya malu. Dia juga ingin tahu sihir apa yang diberikan Sean untuk Pak Chandra sehingga membuatnya berubah begitu banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN