Kembali ke Jakarta

1750 Kata

Empat tahun kemudian. "Aku adalah perempuan yang sudah dilatih mentalnya sejak kecil, berdampingan dengan kegagalan. Air mata hanyalah mainan, cacian, dan makian adalah makanan sehari-hariku. Aku tak boleh putus asa," ucap Kanaya untuk sugesti dirinya sendiri. Dia berdiri bergeming mematut diri di cermin. Pakaiannya rapi dan rambut keriting gantung dengan warna cokelat sangat cocok dengan kulit wajahnya yang putih. Tangannya terulur mengambil kacamata. Derit pintu terdengar. Spontan Kanaya melirik ke arah sumber suara. Tampak dua anak kembarnya berlarian menghampiri Kanaya sambil menyebut kata, "Bunda!" Terbit senyum manis dari bibir Kanaya, lalu dia membungkukkan badan untuk mensejajarkan posisi dengan si kembar sambil merentangkan kedua tangannya. Kedua anaknya merengkuh tubuh Kanay

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN