Terdengar suara rintihan Sisil. Spontan Nathan yang sedang duduk di ruang kerja, bergegas berlari secepat kilat. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bila Sisil sudah bersimbah darah. Lantai penuh cairan merah. Lantas Nathan bergegas membopong tubuh Sisil. Tampak wajah sang istri pucat pasi. "Anak kita, Beb." "Semoga tak apa-apa," lirih Nathan melangkah lebar beranjak keluar dari rumah. Dia lekas menaruh Sisil di dalam mobil. Raut khawatir jelas tersirat dari wajah Nathan. Dia tak mau jika terjadi sesuatu pada Sisil serta anak yang masih berada di dalam kandungannya, dengan kecepatan tinggi dia menembus jalanan. Cahaya lampu jalanan menyorot tajam. Untungnya jalanan lenggang, maka dengan leluasa Nathan berpacu dengan waktu demi menyelamatkan Sisil. Tiba di rumah sakit. Sisil pun se

