Isha membuka pintu kamarnya lebar-lebar, ia melangkah masuk dengan sangat hati-hati takut menginjak sesuatu yang mungkin itu ular atau sejenisnya. Ia memandangi kasur yang tadi di jamah oleh seekor ular yang sudah dibuang oleh Adhit. Kemudian ia duduk di sofa, sesekali menengok ke pintu berharap akan datang seseorang yang bisa membuatnya tidak takut, tapi sedari tadi menunggu tak seorang pun datang. Ia mulai mengantuk karena malam semakin larut, tapi sebisa mungkin menahan kantuknya, tapi ... kalau hanya duduk pasti juga akan tertidur, dan ketika dia tertidur ada ular masuk dan memanjatnya, oh ... tidak!
Isha berdiri dan berjalan ke pintu, bersandar di sana.
Adhit keluar lift dan berjalan ke kamar, ia melihat Isha menggelayut di tepian pintu dengan mata setengah tertidur.
"Hei, apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya membuat Isa tersentak dan membuka matanya, ia menemukan Adhit di hadapannya.
"Kau!" katanya lesu.
"Kenapa kau tidur pintu, kau sudah gila?"
"Aku tidak bisa tidur di dalam, aku takut ularnya datang lagi saat aku tertidur!"
"Kau benar-benar takut rupanya!" serunya memasuki kamar Isha.
"Eh, kau mau apa?" Isa mengikutinya masuk, Adhit duduk di sofa dan berbaring di sana, "Apa yang kau lakukan?" tanya Isha.
"Aku akan menemanimu, itu yang kau mau kan!"
"Aku tidak bilang kau harus menemaniku tidur di kamarku!"
"Kalau kau tidak mau ya sudah, aku kembali ke kamarku, aku sangat ngantuk!" katanya seraya hendak berdiri.
"Baiklah, kau tidur di sini saja!" cegah Isha, "Dari pada aku ketakutan!" sambungnya lagi.
"Tutup pintunya!" suruh Adhit, Isha menoleh ke pintu yang masih terbuka, ia berjalan ke pintu dan menutupnya lalu ia melangkah ke ranjang dan bersembunyi di balik selimut. Ia melirik Adhit yang berbaring di sofa, tangannya di atas dadanya, nafasnya panjang, kelihatannya ia sudah tertidur, sekarang malah dirinya yang tak bisa tidur, jika ia tertidur nanti yang merayap bukannya ular malah pria yang tertidur 2 meter darinya itu. Rakha bilang Adhit itu seorang womanizer, kemungkinan itu bisa terjadi kan?
Tapi akhirnya ia terlelap juga, rasa kantuknya mengalahkan ketakutannya, mereka tertidur hingga pagi menjelang. Isha membuka mata lebih dulu, ia membuka korden jendela, mentari bersinar jingga . Ia menghampiri Adhit yang masih tertidur, ia menunduk dan mengamati wajah pria itu. Adhit memakai kaos merah dengan jacket kulit hitam dan jeans hitam pula, membuatnya terlihat lebih muda dan tampan, jika sedang tidur ternyata wajahnya terlihat lebih lembut , ketimbang saat dia marah-marah. Saat memakai busana kantor pria ini terlihat dewasa dan karismatik, dilihat dari sisi mana pun ternyata dia memang tampan, tak heran kalau dia memiliki banyak pacar, jika apa yang dikatakan Rakha itu benar.
Isha mengangkat tangannya untuk meraba wajah Adhit, sentuhan jemarinya ternyata membuat Adhit terbangun, ia bergerak pelan, Isha langsung menurunkan tangannya kembali. Adhit membuka mata dan menemukan Isha di dekatnya, bahkan sangat dekat. Itu menciptakan getaran yang membuat seluruh tubuhnya terasa ... tak berdaya. Membuatnya ingin merengkuhnya ke dalam dekapan, ditambah lagi wajah manisnya yang masih sayu karena bangun tidur.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adit.
"Hanya ingin membangunkanmu!" jawabnya gugup.
Adhit bangkit dan duduk, "Sudah pagikah?" tanyanya memandang wanita itu lagi,
Lagi-lagi mereka bertatapan, tatapan yang bisa membuat keduanya terlena dan menepis ego masing-masing. Tapi Adhit rupanya tak ingin terlena lebih lama. Ia pun bangkit dan berjalan keluar pintu. Isha mengikutinya dan melihatnya masuk ke kamarnya sendiri. Setelah itu ia menutup pintu dan bersandar,
"Kenapa dia bisa bersikap seperti itu? Dia bisa begitu lembut, apakah itu sifat aslinya? Aduh, aku ini kenapa, kenapa malah memikirkannya seperti itu!" keluhnya seraya berjalan ke kamar mandi.
Adhit mengguyur tubuhnya di bawah air hangat, itu membuatnya kembali segar. Ia teringat wajah Isha di depan matanya, wajah sayu yang sangat manis. Ia mencoba untuk menepis itu tapi rupanya tak berhasil.
*********
Isha mendatangi galeri yang akan digunakan untuk acara pameran nanti , ia bahkan membantu membuat konsepnya. Sementara Adhit menemui rekan bisnisnya, mereka melihat lahan yang sedang di bangun, mereka akan membangun sebuah apartement, di sana. Adhit berbicara dengan sekretaris dan staf lapangan yang baru sampai jam 4 pagi tadi. Tentu saja mereka membicarakan bisnis proyek mereka itu. Selepas itu Adhit memilih jalan kaki dalam perjalanan pulang, ia menelusuri jalanan kota Yogyakarta yang sangat kental dengan kebudayaan jawa itu.
Di tengah perjalanan ia melihat seornag kakek penjual buah yang sednag di jaili oleh tiga anak muda, mereka memakan buah-buahan dan melemparkan buahnya ke jalanan, memberantakinya bahkan mendorong kakek itu hingga terpental.
Adhit menghampiri mereka, "Hai anak muda, jangan mengganggu seorang kakek tua, jika berani ganggulah aku!" katanya menawarkan diri.
Ketiga anak muda itu menoleh, dengan seringai mengejek salah satunya menjawab, "Memange kamu punya apa?"
"Aku punya banyak uang, dan jika kalian ingin kalian harus mengalahkan aku dulu!" tantangnya, ketiganya mendekat dan mengamati Adhit dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari segi penampilan Adhit memang sudah terlihat berkelas, semua yang menempel di tubuhnya adalah barang mewah dan mahal, bahkan yang menjadi alas kakinya saja bisa mencapai harga puluhan juta. Ketiga anak kuda itu berpandangan lalu menyerang Adhit, tapi ternyata mereka hanyalah preman ingusan yang mudah dibekuk. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk membuat mereka kocar-kacir. Setelah semua pergi Adhit membantu kakek itu membereskan barang-barangnya, sepertinya hampir semuanya rusak dan membuat kakek itu rugi besar. Dari jauh Isha melihat kejadian itu, awalnya ia ragu dengan apa yang dilihatnya tapi setelah sedikit mendekat ia percaya dengan pemandangan itu. Adhit mengambil dompet dari saku belakang celananya, ia mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet itu dan meletakkannya di tangan kakek itu.
"Semoga ini bisa membantu, Kek!"
"Terima kasih Nak, ini terlalu banyak!"
"Tidak apa-apa!" katanya lalu pergi, kakek itu memandang uang di tangannya lalu menoleh punggung Adhit yang kian menjauh. Isha mengikutinya hingga masuk ke sebuah toko cindera mata.
Adhit melihat dan menyentuh banyak barang, Isha mendekat.
"Kau mau beli oleh-oleh untuk pacarmu?" tanyanya,
Adit menoleh, "Kau lagi!" jawabnya datar.
"Kau cukup berbeda hari ini, sedikit membuatku kagum dengan aksimu!"
"Kau ini bicara apa?"
"Ya ... kau membuatku sedikit kaget!"
"Kaget!" Adit menoleh Isa yang memandangnya, "Kau yang membuatku kaget, tiba-tiba saja memelukku seperti itu, lain kali jangan sembarangan memeluk orang!"
"Kurasa kita sudah tak membahas itu. Lagipula itu hanya refleks, kau yang tiba-tiba muncul di sana!"
"Jika orang lain yang muncul?"
"Tapi kan kau yang muncul, eh, mau kau atau orang lain apa urusannya, kalau pun aku memeluk orang lain itu tak ada hubungannya denganmu kan!"
"Aku hanya ...," Adhit tak melanjutkan kata-katanya, ia sendiri tak tahu harus menjelaskan apa, Isha benar ia tak punya urusan wanita itu mau memeluk siapa, kenapa malah dirinya yang sewot. Ia pun pergi keluar dari tempat itu.
"Kenapa dengan orang itu, kenapa dia jadi aneh begitu?" herannya.
Adhit berbelok ke pantai, memandang deburan ombak yang dahsyat memecah di bebatuan. Sedahsyat debaran di hatinya yang tak mau dikalahkan ketika berada tak jauh dari Isha. Entah kenapa ia tak bisa melawan perasaan itu, perasaan yang membuatnya merasa nyaman saat bersama wanita itu, yang membuat tubuhnya bergetar.
Rasanya baru kali ini ia merasa tak berdaya seperti itu oleh seorang wanita, dan wanita itu terlalu baik untuknya, dia bahkan tak tahu siapa dirinya sebenarnya. Mungkin jika wanita itu tahu, wanita itu akan menjauhinya dan sebelum itu terjadi seharusnya ia menjauhinya lebih dulu. Isha kembali ke kamarnya, ia harus mempersiapkan diri untuk besok.
Saat Adhit membuka laptopnya ada seseorang yang mengetuk pintu, ia pun membukanya dan seorang OB ada di depan pintunya.
"Ada surat buat Nona Ishabelle!"
"Surat, Ishabelle, Anda salah kamar!"
"Ini benar kamar nomor 42 kan?" tanya pria itu.
"Iya!" jawab Adit.
"Nona Ishabelle terdaftar berada di kamar nomor 42!" Adhit melihat nomor kamarnya sendiri, lalu a melihat nomor kamar di depannya, memang seharusnya ia berada di kamar 24, jadi kamar mereka tertukar.
Adhit mengambil surat dari tangan OB itu lalu memberinya uang tips, "Terima kasih nanti akan aku sampaikan, kau boleh pergi!" suruhnya.
Setelah OB itu menghilang, Adhit mengetuk pintu Isa, Isa membukanya, ia sudah mau tidur karena sudah memakai gaun tidur.
"Ada apa?"
"Ada surat nyasar ke kamarku katanya untuk Ishabelle, itu kau ya?"
"Oh, berikan padaku?" katanya mengambil surat itu tapi Adhit mengangkatnya tinggi, itu membuat Isha tak bisa meraihnya.
"Berikan padaku?"
"Ambil saja sendiri kalau bisa!" godanya.
"Kau ini, berikan padaku!" Isha meloncat untuk meraihnya tapi Adhit semakin menjauhkannya, Isha meloncat lagi dan kali ini ia terpeleset hingga menubruk tubuh Adhit, membuat keduanya jatuh ke lantai, Isha menindih tubuh Adhit.
Mereka kembali berpandangan, tatapan itu mengirimkan getaran yang lebih dahsyat ke hati keduanya, membuat jiwa mereka bergejolak. Hal seperti inilah yang tak diinginkan oleh Adhit, tapi anehnya ia malah selalu terjebak dalam situasi yang selalu berbahaya bagi hatinya, dan ia tak mampu melawan itu.
Sepertinya keduanya mulai menyadari perasaan masing-masing, saat itu suara langkah kaki mendekat ke arah mereka mebuat lamunan mereka buyar. Isha bangkit duduk di atas salah satu kaki Adit.
"Isha!" seru seseorang, Isa pun menoleh ke arah suara itu.
**********