Ular?

1286 Kata
Adhit sedang membaca sebuah proposal di ruangan kantornya, tiba-tiba seorang wanita menerobos masuk ke ruangan tanpa ketuk pintu. Adhit mendongakkan kepala untuk melihat wanita itu, dari mimik wajahnya ia tak terlihat terkejut, tentu, itu sering terjadi. Kadang kala beberapa wanita mendatanginya ke kantor di saat ia tak bisa dihubungi. "Kenapa kau datang kemari?" "Aku merindukanmu!" jawab Prisa seraya berjalan ke arahnya dan hendak memeluk dari belakang tapi Adhit melempar tangan wanita itu. "Kenapa, kau sudah bosan padaku?" tanyanya sedikit heran. "Aku sedang sibuk, sebaiknya kau pergi saja!" jelasnya sambil menutup map di tangannya dan meletakkan di meja. Prisa duduk di meja, menaruh kedua tangannya di sisinya, di tepian meja, menatap pria itu yang juga sedang menatapnya. "Kau terlihat duduk diam di sini!" kata Prisa dengan nada sedikit nakal, wanita itu memang cantik, tinggi dan seksi, tapi tetap saja dia tak berarti apa-apa bagi pria yang ada di hadapannya. "Sebentar lagi aku akan ada di meeting!" "Oh ya, mungkin aku bisa menunggu, ehm..., aku dengar kau akan pergi ke Jogja?" "Kau berniat untuk ikut, sayangnya aku tidak suka diikuti!" "Ayolah Dhit!" katanya bangkit dari duduknya dan berpindah ke pangkuan Adhit, "Kau akan membutuhkanku di sana, kecuali kau pergi dengan sekretarismu yang cukup cantik itu!" "Aku tidak mengencani sekretarisku sendiri, dan...!" katanya menyingkirkan wanita itu dari pangkuannya, "Aku ingin kau pergi sekarang, kau cukup mengganggu!" lanjutnya sambil berdiri juga. "Tapi Dhit!" "Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkanmu, sekarang keluar atau aku akan memanggil satpam!" katanya dengan serius, ia mengangkat gagang telepon dan memencet sebuah nomor. Ada suara tut..., setelah itu terdengar bunyi klik dan suara seorang perempuan terdengar dari telepon itu, itu pasti suara sekretarisnya, "Iya, Pak!" "Tolong panggilkan satpam ke ruanganku!" "Adhit!" seru Prisa, ia merasa kesal dengan keseriusan Adhit lalu keluar ruangan tanpa sepatah kata pun, Adhit melirik dan membatalkan perintahnya. Ia menutup teleponnya lalu mengambil map yang tadi dibacanya dan membawanya keluar. Isha sedang mempersiapkan barang bawaannya, ia hendak pergi ke Yogyakarta untuk menghadiri sebuah acara seni rupa, beberapa teman termasuk Rakha juga mendapat undangan yang sama, tapi Isha memilih pergi lebih awal agar bisa istirahat lebih dulu. Selesai dari kantor Adhit juga langsung pergi ke Jogja sore itu, ada proyek baru yang harus ia urus di sana, sebenarnya ia tak pergi sendiri, ia pergi bersama beberapa staf lapangan dan sekretarisnya tapi ia memilih untuk pergi lebih awal sendirian biar yang lain menyusul besok. Ia naik pesawat yang sama yang dinaiki Isha tapi tempat duduk mereka berjarak cukup jauh sehingga mereka tidak bertemu, setelah turun dan keluar dari bandara mereka mencegat taxi dan mencari tempat untuk menginap. Ternyata mereka menginap di tempat yang sama. Adhit sampai lebih dulu, ia memesan sebuah kamar setelah memberikan kartu identitasnya, wanita penjaga resepsionist itu mengurusnya. Isha sampai dan melakukan hal yang sama, "Pesan satu kamar, Mbak!" Mendengar suara yang baginya tidak asing lagi Adhit pun menoleh dan melihat siapa itu membuatnya cukup terkejut, "Kau!" serunya, Isha menoleh dan memberi ekspresi yang sama, "Kau!" "Kenapa kau ada di sini? Jangan-jangan kau mengikutiku?" "Enak saja, kaupikir aku kurang kerjaan!" balas Isha. "Lalu sedang apa kau di sini?" "Bukan urusanmu!" Wanita di balik meja itu menaruh kedua kartu identitas, mereka mengambilnya masing-masing, dan ketika dua buah kunci yang ditaruh di atas meja itu mereka menyambarnya secepat kilat lalu pergi ke kamar masing-masing. Ternyata mereka tak hanya satu lantai tapi kamar mereka berhadapan persis. Mereka menoleh masing-masing sejenak dan masuk ke dalam, Isha melempar tasnya ke atas ranjang, dan duduk di sana, "Kenapa pria galak itu lagi, ternyata dunia ini memang kecil!" keluhnya. Adhit melepas jas dan dasinya, meletakkan di meja, ia berhenti sejenak, "Kenapa bisa ada wanita itu di sini? Apa dunia ini sudah kehabisan stok wanita?" herannya. Mereka mandi dan istirahat sejenak. Adhit keluar untuk mencari makan malam, baru saja ia mengunci pintu dari luar, ia mendengar sebuah teriakan dari dalam kamar di depannya. "Tolong ular..., tolong..., ada ular di sini!" teriaknya sambil meloncat dari ranjang dan membuang buku yang sedang ia baca, ia berlari ke pintu masih sambil teriak, "Tolong ular..., ular...!" pintu itu terbuka dari luar karena memang tidak dikunci, seseorang muncul dari luar, Isha menubruk dan langsung memeluknya erat, "Ular, ada ular...!" teriaknya, ia belum sadar dengan apa yang ia lakukan. "Ular!" desis Adhit, mendengar suara itu Isha terdiam, suara itu jelas ia kenal, ia pun mengangkat kepalanya dan menemukan mata Adhit yang memandangnya. Adbit merasa ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan, sesuatu yang tersirat di dalam hatinya, tanpa sadar terpercik sebuah rasa yang hangat dan indah di antara keduanya. Sebuah rasa yang menciptakan getaran yang hebat di antara keduanya. Dan mereka menyadari itu, maka Isha menurunkan tangannya dari leher Adhit. Adhit pun menyingkir dan berjalan melewatinya, menuju seekor ular yang sedang berlenggak-lenggok di tepian kasur, ia memungut ular itu dan membuangnya keluar jendela, ia menutup jendelanya, "Kalau sudah malam jangan membuka jendela!" larangnya sambil berbalik. "Ombaknya terlihat dari sini, kupikir akan indah jika dinikmati!" jawabnya. Ashit berjalan keluar kamar dan Isha mulai panik, "Kau mau ke mana?" pertanyaannya menghentikan langkah pria itu, pria itu pun berbalik melihatnya, ia melihat sebuah ketakutan di mata indah wanita itu. "Aku mau cari makan malam_" jawabnya, kalimat itu seolah belum selesai seperti ada sambungannya, "kau mau ikut?" tapi tak terucap oleh Adhit. Adhit melanjutkan langkahnya. Isha mengejarnya di belakang, "Aku ikut!" Mereka berjalan keluar penginapan dan memasuki sebuah restoran dengan suasana yang tak diinginkan keduanya. Lampu-lampu bersinar redup, meja dengan kaki pendek dan duduk lesehan di lantai, itu sangat romantis dan perfect untuk sebuah kencan, tapi mereka tidak sedang berkencan. Dan itu sungguh sialan karena mereka malah terjebak di makan malam yang romantis itu. Tapi keduanya tak bercengkerama sama sekali, rasanya malah jadi aneh, sejak tadi mereka berjalan berdua , duduk berdua, dan makan bersama tapi tak sepatah kata pun terucap dari kedua bibir itu selain nama pesanan masing-masing tadi. Isha merasa suasana seperti ini sungguh tidak menyenangkan maka ia pun memecah kesunyian. "Terima kasih, soal yang tadi!" katanya. Adbit meliriknya, melihat wajahnya di bawah keremangan lampu membuat jiwanya bergejolak, wajah wanita itu terlihat lebih cantik dan menawan, kecantikan alami tanpa polesan make up. "Apa jika orang lain yang muncul kau juga akan memeluknya seperti itu?" pertanyaan Adhit membuatnya sedikit tersedak. Isha pun meminum air di samping piringnya. Lalu ia menjawab, "E... Itu, aku tidak tahu, aku sangat gugup dan benar-benar takut dengan ular!" jawabnya. "Apa yang kaulakukan di sini?" "Aku diundang di sebuah acara seni rupa, seharusnya Rakha juga ikut, kenapa dia tak bersamamu?" Adhit menatap wanita itu dalam. "Kau menyukainya?" Isha hampir kesedak, tapi nasib baik sedang berpihak padanya. "Menyukainya, yang benar saja..., dia sudah seperti kakakku sendiri, dan kupikir kau lebih dekat dengannya!" "Dia baru akan datang besok!" "Oh...! Setelah ini apa yang akan kaulakukan?" Adhit meletakkan sendoknya, ia mengelap mulutnya dengan tisu dan memandang Isha dengan dalam, sebuah tatapan yang tak bisa dibaca. Dengan senyum kecil ia menjawab, "Mungkin mencari seseorang yang bisa menyenangkanku!" "Apa!" seru Isha kaget, Adhit memberi sebuah tawa kecil dalam jawabannya, "Kau tak perlu khawatir, kau bukan tipeku, dan sama sekali tak membuatku tertarik !" penjelasan itu membuatnya melotot, membuat matanya semakin lebar, tapi Adhit malah menghindar, ia memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka, ia membayarnya dengan uang Chas lalu berdiri. "Kau benar mau pergi?" "Kau mau ikut?" "Tidak, pergi saja sendiri!" "Jika kembali ke kamar hati-hatilah, siapa tahu ularnya sudah menunggumu di sana!" godanya lalu pergi. Isha membuka mulutnya untuk membalas tapi ia tak mengucap sepatah kata pun , membiarkan pria itu menghilang dari pandangannya, ia menutup mulutnya. Lalu memikirkan apa yang dikatakan Adhit, jika ular itu benar kembali bagaimana? Tapi ia juga tak mungkin duduk di dalam restoran itu sampai pagi, ia juga butuh istirahat untuk menyambut hari besok, maka ia pun beranjak keluar dari restoran dan kembali ke penginapan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN