Monyet Jelek

1155 Kata
Hampir tengah malam Adhit baru masuk ke rumahnya, rumah itu cukup sepi karena ia memang hanya tinggal sendiri, di sana hanya ada 2 pembantu, satu satpam dan satu tukang kebun, terkadang hanya tawa mereka yang menghiasi dapur atau halaman belakang. Hingga saat ini Adhit belum berniat menghiasnya dengan tawa seseorang yang berarti dalam hidupnya, apalagi tawa seorang bayi, berfikir ke sana pun tidak sama sekali. Ia memasuki kamar dan tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya, ia hanya diam terpaku. "Kau lama sekali, apa saja yang kau lakukan bersama wanita itu?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya. "Ini sudah terlalu larut sedang apa kau di sini?" Adit balik bertanya. "Aku biasa menginap kan!" jawabnya sambil berjalan ke arah jendela, memandang hamparan gelap di luar sana. Adhit berjalan ke ranjang, duduk di tepiannya dan mencopot sepatunya, "Kau mulai menghindar dariku nampaknya!" seru Rakha seraya berbalik dan menatap Adit. "Aku tidak menghindar!" jawab Adhit tanpa menoleh "Kalau kau merasa tersiksa seharusnya menolakku dari awal, dan jika kau ingin berhenti tinggal bilang saja, aku akan meninggalkanmu!" "Aku tidak ingin kau meninggalkan aku!" Adit membalas tatapan Rakha, "Kau tahu aku hanya membutuhkanmu!" "Oh ya!" sahut Rakha, ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Adhit, Adhit mendongak menatap Rakha yang juga menatapnya. Dengan senyum kecil Rakha melanjutkan kalimatnya, "Lalu kenapa kau masih saja berkencan dengan para wanita itu?" Adit tak menjawab, "Kau tetap saja munafik Dhit, tapi kau tak bisa membohongiku, kau membutuhkan mereka untuk menghiburmu!" Lagi-lagi Adhit diam, Rakha selalu bisa membuatnya terbungkam, memang hanya Rakha lah yang bisa memahami dan membaca pikirannya. "Ini sudah terlalu larut, aku mau pulang saja, besok ada pameran. Jangan lupa datang, awas kalau tidak!" katanya dengan nada mengancam, lalu ia berbalik dan berjalan ke arah pintu. Adhit melihatnya menghilang di balik pintu, ia membenarkan semua perkataan Rakha, sambil membuka dasinya ia merebahkan diri ke ranjang. *** Suasana Galeri sudah dipenuhi oleh para pengunjung ketika Adhit berjalan memasuki tempat itu, selesai meeting ia langsung tancap gas ke galeri, lagipula itu memang sudah waktunya jam pulang kantor. Ia melihat Rakha yang sedang ngobrol dengan Isha dan beberapa orang, ia pun menghampiri mereka. "Hai Dhit, kau sudah datang, kau ingin membeli beberapa? Atau kau tertarik dengan lukisan Isha?" girang Rakha, "Apa, lukisan wanita ini, sama sekali tidak, sedikit pun tak menarik hati!" celanya. "Apa maksudmu?" "Maksudku, lukisanmu itu sangat jelek, kalau kau tidak bisa melukis tidak usah jadi pelukis!" Isha membuka mulutnya lebar, "Kau..., kaupikir aku peduli dengan pendapatmu!" "Kalau begitu tak usah pasang wajah seperti itu, itu membuatmu terlihat semakin jelek!" "Kau ini..., benar-benar keterlaluan, baru datang sudah mencela orang seenaknya, kau salah minum obat?" "Sebenarnya aku malas datang karena pasti akan bertemu dengamu!" ucapnye enteng, "Sudah, kalian jangan seperti itu. Nanti kalau saling jatuh cinta baru...,"sela Raka yang langsung dipotong Adhit. "Jatuh cinta padanya?" Adhit mengamati Isha dari atas hingga bawah. Style Isha memang terbilang simple, kali ini pun wanita itu mengenakan jeans biru dengan dengan kaos maroon lengan panjang. "Bukan seleraku sama sekali!" cibirnya, Isha mendecak kesal, "Kau pikir kau itu menarik? Hanya para wanita bodoh yang mau denganmu!" Adhit melotot, "Sudah, jangan bertengkar seperti anak kecil!" lerai Rakha, "Temanmu itu keterlaluan, kau tak bisa mengajarinya sopan santun!" jawab Isha. " Aku bukan ibunya!" Isha makin kesal dengan jawaban Rakha makanya ia memilih untuk menyingkir, jika ia masih di sana maka ia akan semakin makan hati. "Dhit, bersikaplah sedikit lembut padanya, jangan terlalu kasar begitu!" pintanya Rakha, "Ada apa denganmu, biasanya jika aku dekat dengan wanita kau selalu tidak suka?" protes Adhit, "Itu karena semua wanitamu naif dan menjijikan!" "Memangnya dia tidak?" "Setidaknya aku cukup mengenalnya!" mereka berjalan ke tempat lain. Acara selesai sampai hari cukup gelap, Adhit sudah menjalankan mobilnya ketika tiba-tiba Rakha berteriak, "Stop!" secara mendadak, Adhit pun menginjak rem mobilnya mendadak pula, "Ada apa?" Rakha tak menjawab, ia keluar dan mendekati Isha yang berdiri di pinggir jalan, Adhit melihat hal itu, "Ada apa lagi ini, perasaanku tidak enak!" desisnya. "Hai Isha, kau menunggu taxi?" tanya Rakha. "Iya, sepertinya lama!" jawabnya sedikit celingukan, "Ikut saja dengan kami!" tawarnya. "Dengan temanmu itu?" "Namanya Adhitya!" "Aku tidak peduli dengan namanya!" Raka langsung saja menarik lengan Isha, membawanya ke arah mobil Adhit yang terparkir tak jauh darinya, ia membuka pintu depan dan mendudukkan Isha di sana, Adhit terkejut melihat siapa yang berada di sampingnya. Raka duduk di kursi belakang, "Kau...!" Adhit menoleh Rakha, "Rakha, kenapa kau taruh monyet jelek ini di sampingku?" Isha membuka mulutnya lebar sebelum berucap, "Monyet, kau Bilang aku monyet! Kaupikir kau itu tampan, wajahmu itu mirip sekali dengan kudanil, tidak ada bagus-bagusnya!" balasnya "Kudanil, sudah menumpang berani mencela!" "Kaupikir aku mau menumpang denganmu!" balas Isha lagi dengan hendak keluar tapi Rakha menahan tangannya dari belakang, "Isha, duduklah!" "Aku bisa pulang sendiri!" rontanya "Duduk!" gertaknya membuat Isha terdiam, "Adhit, sudah kubilang jangan terlalu kasar padanya, antarkan saja dia pulang, ini sudah larut malam, jika dia pulang sendiri itu berbahaya! Jika terjadi sesuatu padanya kau mau tanggungjawab? " "Tapi tidak harus duduk di sampingku!" "Kau jangan GR, aku juga tidak mau!" Adhit menoleh Isha, "Lalu kenapa kau masih di sini?" "Diam atau kupertemukan bibir kalian nanti!" teriak Rakha, membuat keduanya menoleh padanya lalu sama-sama membuang muka. Rakha menghela nafas lega, "Nah, kalau begini kan lebih tenang, ayo jalankan mobilnya!" suruhnya. Adhit pun menjalankan mobilnya, selama perjalanan pulang Isha melempar pandangannya keluar, ia tidak mengerti sejak pertama bertemu Adhit, pria itu sama sekali tak pernah bersikap manis padanya. Apa memang sifatnya seperti itu, tapi kata Rakha pacarnya banyak, bagaimana bisa pria seperti itu memiliki banyak pacar. Ternyata rumah Isha lebih jauh dari kediaman Rakha. Setelah Rakha turun, kini tinggal mereka berdua yang terjebak di dalam mobil, masih tanpa suara, suasananya jadi aneh dan janggal. Mereka duduk berdua tapi tak saling bicara, bahkan terkesan bermusuhan. "Aku turun di depan, hanya tinggal menyeberang!" "Kau yakin?" "Tentu saja!" "Itu bagus!" Isha sedikit melotot. Pria ini? Hanya itu saja? Tak ada basa-basi ngotot mengantarku sampai depan pintu? Apa? Kenapa aku malah berharap padanya? Isha.... Adit merapatkan mobilnya ke tepian jalan di dekat lampu merah, kebetulan lampu merah juga sedang menyala, Isha keluar tanpa bicara lagi, ia menyeberang jalan. Adhit mendecih, "Itu sana, tak ada ucapan terima kasih atau tawaran minum teh?" protesnya lirih lalu ia menyadari ucapannya. Kenapa aku malah berharap tawaran darinya? Adhit menggeleng lalu memandangi wanita itu yang berjalan di depan mobilnya hingga menghilang dalam keremangan. Rasanya aneh, sewaktu wanita itu sudah tak bersamanya ia malah merasa ingin bertemu. Ketika berhadapan langsung ia tak mampu melawan emosinya. Emosi yang sebenarnya muncul di dalam jiwanya, yang membuatnya tak ingin memiliki perasaan itu, itu sebabnya ia mencoba untuk tak membuat wanita itu tertarik padanya. Sebenarnya ia melihat ada kehangatan lain saat bertatapan dengan Isha, ada sesuatu yang membuatnya nyaman, yang membuat jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Lampu hijau sudah menyala, suara klakson dari mobil di belakangnya membagunkan lamunannya, ia pun tersentak dan kembali menjalankan mobilnya. Anehnya lagi, malam itu keduanya tak bisa tidur, saling memikirkan satu sama lain. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN