Di Galeri

1464 Kata
Hari itu Isha duduk di depan kanvas, tangannya menari memegang kuas, menorehkan warna-warna di atasnya, membentuk sebuah lukisan yang indah. Suasana galeri cukup ramai saat itu, di ruang pameran banyak pengunjung. Rakha dan Adhit berjalan melewati orang-orang yang sedang menikmati lukisan-lukisan yang terpajang, mereka berjalan ke dalam dan memasuki sebuah ruangan yang cukup berantakan dengan alat-alat lukis, ada beberapa orang yang sedang bebenah, ada jga yang sedang melukis, ada juga yang sedang memindahkan lukisan yang sudah kering. "Dhit, aku akan menemui Sandy, kau tunggu saja di sini!" "Di mana lagi aku akan menunggu!" acuhnya, Rakha tersenyum kecut dan berjalan menyingkir. Adhit mengamati seisi ruangan itu, ia bukan pelukis bahkan ia tak tahu apa pun soal lukisan, ia datang ke sana hanya untuk menemani Rakha, Rakhalah sang pelukisnya. Sementara Adhit, ia seorang pengusaha muda yang cukup sukses di bidang properti dan teknologi, bagaimana ia bisa berteman dengan Rakha? Itu karena mereka memang teman sejak kecil. Adhit berjalan pelan , arahnya menuju tempat Isha duduk, ia bahkan melihat yang sedang digambar oleh wanita itu. Isha mencari sesuatu di meja kecil di samping kirinya tapi ia tak menemukannya, kemudian ia berdiri dan berbalik ke kanan, berjalan cepat hingga tak melihat ada orang di sana dan...," "Brukkk!" Ia menabrak seseorang, seketika ia pun terpental ke belakang dan hampir jatuh tapi tangan orang itu cukup cepat menangkap tubuhnya, meraihnya dan membawanya dalam dekapannya. Mereka setengah berpelukan, mata mereka pun bertemu, dan mereka berkenalan melalui bahasa mata yang penuh makna. Rakba kembali ke ruangan itu dan melihat apa yang terjadi, ia berjalan pelan ke arah mereka dan bergumam, "Wah... ada opera rupanya, apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya, membuat keduanya terperanjat dan saling melepaskan diri, mereka jadi sedikit kikuk dan salah tingkah. Isha melihat baju Adhit yang kotor oleh cat yang tadi ia bawa di tangannya, sekarang cat itu ada di lantai tapi sudah menempel pada baju Adhit terlebih dahulu tadi. "Bajumu kotor!" seru Isha. Adhit menunduk melihat pakaiannya, ia terkejut, banyak cat yang menempel di pakaiannya padahal setelah ini ia akan ada meeting di kantor, untuk pulang dan ganti pakaian sungguh tak akan ada waktu. Ia mengangkat kepalanya dan melihat wanita itu, "Kau!" "Maaf, aku tidak sengaja, biar kubersihkan!" "Tidak perlu dan jangan menyentuhku!" katanya mencegat Isha dengan tangannya, "Kau ini, kalau berjalan lihat-lihat, matamu ditaruh di mana?" Isha menunjuk letak matanya dan menjawab perlahan, "Di sini, dari dulu tak pernah pindah!" Adhit menggerutu mendengar jawaban itu, "Aku juga tahu letaknya di situ!" sahutnya, "Kalau tahu kenapa masih tanya, pake marah-marah lagi!" "Kau pasti tahu kenapa aku marah, kau mengotori bajuku!" "Sudahlah Dhit, itu hanya baju! Lagipula Isha sudah minta maaf kan!" "Rakha, aku ada meeting setelah ini!" "Kau bisa mengganti bajumu di kantor, jangan bereaksi berlebihan begitu, tadi kulihat kalian asyik berpelukan, kenapa sekarang bertengkar?" "Berpelukan!" jawab keduanya bersamaan lalu saling pandang sejenak sebelum sama-sama membuang muka. Raka tertawa kecil, "Kalian cocok sekali, ah..., aku jadi lega!" "Apa maksudmu cocok? Dan..., apa pria galak ini temanmu, kenapa kau mau berteman dengannya?" cerocos Isha "Dia tidak galak, mungkin hanya sedikit refleks! Kau menyukainya?" goda Rakha "Apa! Sedikit pun tidak, dia sama sekali tidak menarik bahkan tidak tampan!" "Jangan salah, pacarnya banyak loh!" tambah Rakha Isha menoleh dan memberi tatapan tak percaya, mereka terus ngobrol sementara Adhit hanya diam lalu ia berjalan keluar dari tempat itu, ia masuk ke mobilnya dan melaju ke kantor. Mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat untuk Rakha. Rakha membuka pesan dari Adhit, membacanya sejenak lalu menutupnya kembali. Isha dan Rakha memang berteman , apalagi mereka melukis di satu galeri dan dua-duanya yatim piatu, itu sebabnya mereka dekat seperti kakak adik. *** Adhit masuk ke ruangannya selesai meeting, ia membanting file ke meja dan duduk di kursinya dengan kesal, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil mengendurkan dasinya. "Kenapa jadi kacau begini!" gerutunya, ia telat dan membuat kliennya menunggu, itu karena ia harus mencari butik yang sudah buka untuk mengganti pakaiannya, tidak mungkin ia akan menemui kliennya dengan pakaian kotor. Bahkan di dalam ruang meeting tadi ia tak bisa berkonsentrasi dan menyimak apa yang mereka perbincangkan, pikirannya bercabang kemana-mana, dan anehnya..., wajah Isha terus muncul, apalagi matanya yang bulat dan besar, bercahaya menusuk masuk ke dalam jiwanya. Handphonenya berdering, ia mengambil dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya, ia sedang kesal, "Hallo!" "Hallo, Dhit apa malam ini kau ada waktu?" Adhit mengenali suara itu, "Dina, Kurasa kita sudah putus kan, jadi jangan hubungi aku lagi!" katanya lalu menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan wanita itu berbicara lagi. "Dasar perempuan!" cibirnya, teleponnya berdering lagi dan ia tak mengangkatnya, ia tahu itu pasti Dina lagi. Adhit menghela nafas panjang sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya, tiba-tiba seseorang masuk, itu Rakha, ia melihat Adhit yang nampak kacau. "Kau terlihat buruk, apa yang terjadi?" "Ini karena wanita itu!" "Dia?" Rakha menjijing alis, "Teman pelukismu!" "Ouh..., karena dia...,atau kau saja yang tak bisa melupakannya!" goda Rakha, Adhit menatapnya kesal, "Dia bukan tipeku!" Rakha tertawa kecil mendengar jawaban itu, "Lalu seperti apa tipemu, sepertiku?" mulai lagi, Rakha memang suka menggoda Adit dalam segala hal, Adhit hanya membalas dengan kerlingan. "Jangan marah-marah terus, kau tampak menggairahkan jika sedang marah!" Adhit tak menyahut, ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu tapi Rakha menghadang tepat di depannya. Adhit pun berhenti, mereka bertatapan. "Kau sudah makin matang, Dhit, mungkin sudah seharusnya kau pikirkan masa depanmu!" "Apa aku terlihat masih punya masa depan!" sahutnya dengan senyum sinis lalu melanjutkan langkahnya, Rakha mengikuti dari belakang. Adhit berasal dari keluarga yang berantakan, ayahnya selalu sibuk bekerja dan memiliki banyak simpanan, sementara ibunya jauh lebih gila, anehnya mereka masih saja tinggal seatap, Adhit selalu diejek teman-temannya dan dijauhi, hanya Rakha yang mau berteman dengannya. Sekarang keadaan sudah berbeda, orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan saat akan menghadiri acara bersama. Dan kini dirinya telah menjelma menjadi pria yang tampan dan pintar, soal kekayaan... keluarganya memang kaya raya, awalnya sepeninggal ayahnya perusahaannya mengalami kemunduran, hingga ia memutuskan untuk terjun langsung menanganginya padahal usianya saat itu masih cukup muda dan ia masih duduk di bangku kuliah, tapi ia berhasil membangun kembali perusahaan itu hingga berjaya dan lebih besar malahan. Makanya ia dikejar banyak wanita, tapi tak seorang pun dari mereka yang ia cintai, ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa jatuh cinta pada wanita nantinya. Ia takut ia akan menjadi seperti orangtuanya, dan itu sungguh membuatnya terguncang sampai sekarang. Rakha pulang sementara Adhit menemui Prisa, wanita yang baru satu minggu menjalin hubungan dengannya setelah Dina. Ia memasuki lobi hotel dan wanita itu langsung menggandengnya. "Kau lama sekali!" kesalnya dengan suara manja, "Aku sibuk!" jawabnya singkat. "Sepertinya pekerjaanmu nomor satu!" "Belum ada yang bisa menggantikannya!" Mereka naik ke atas, menuju sebuah kamar, Prisa menaruh tasnya dan mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya, menghisapnya pelan lalu mengepulkan asap ke udara dari mulutnya sambil bersandar sebuah meja. Adhit maju dan mengambil rokok itu, ia membuangnya ke lantai, menginjaknya. "Sudah kukatakan aku tak suka melihatmu merokok!" Prisa malah memeluk pingganganya, "Baiklah, aku tidak akan melakukannya di depanmu, nanti kau bisa lari dariku!" Adhit membelai pundak Prisa, "Kau terlihat cantiknya dengan gaunnya!" "Kau suka?" Prisa mengembangnya senyum menggoda. Adhit hanya mengerlingkan mata, sementara tangan Prisa naik dan berhenti di leher pria itu, perlahan ia melepaskan dasinya, kemudian membuka kancing kemejanya satu-persatu, "Apa kau tidak berniat serius dengan siapa pun?" "Jangan terlalu banyak bicara, aku masih banyak urusan!" jawab Adhit lalu mencium rambut Prisa, mencium pipinya, lehernya. Itu biasa terjadi, Adhit tak pernah melewatkan satu wanita pun yang ia kencani, dan para wanita itu akan dengan suka rela melakukan apa pun demi tetap bisa bersamanya, sayangnya bagi Adhit tidak ada yang bisa membuatnya bertahan lama dalam suatu hubungan, ia pasti akan meninggalkannya jika sudah bosan, meski hampir semuanya tak bisa menerima itu tapi mereka juga tak bisa berbuat banyak, jika Adhit sudah tak mengingingkannya, ia sudah tidak akan menggubrisnya lagi, bahkan ada beberapa yang datang ke kantor pun ia usir tanpa menemuinya. Malam itu Isha melukis wajah seseorang dengan kidmat, dan setelah selesai ia memperhatikan wajah yang ia lukis. "Ha, kenapa aku malah menggambarnya? Ya Tuhan, ini gila!" wajah itu adalah wajah Adhit, Isha sendiri bingung kenapa ia bisa melukis wajah pria itu, tangannya seperti digerakan oleh sesuatu dan tak bisa ia hentikan. Ia memandang lukisan itu, "Kau jangan GR ya, bukan kemauanku menggambarmu, ini hanya..., hanya kebetulan, mungkin aku sedang tidak sehat sehingga melakukannya, ya Tuhan..., kenapa aku malah bicara pada sebuah lukisan, sepertinya aku akan gila!" katanya menaruh kuasnya lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu. Isha ke dapur untuk mengambil minum, sepertinya ia butuh minuman yang segar agar otaknya juga kembali segar, ia meneguk segelas jus jeruk yang ia ambil di kulkas, kemudian duduk di meja makan. Hidup sendiri seperti ini memang kadang sangat sepi apalagi tak punya kekasih, tidak ada yang menelpon untuk mengucapkan selamat tidur, atau membangunkan di kala pagi kecuali jam weker yang berdering nyaring. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN