semua yg serba tiba2, membuat gendis sedikit kelabakan menghadapi setiap hal baru. memang tidak ada yg menuntut untuk dia mengerti semua keadaan yg dia hadapi, tapi naluriah manusia, saat bertemu hal baru pasti harus mmenyesuaikan diri. meski seperti mimpi dan tidak habis fikir dengan kenyataan yg harus dia hadapi,, gendis tetap mencoba menyeimbangkan peran yg sudah semesta pilihkan untuk dia jalankan. memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa.
seperti saat tiba2 suaminya membicarakan akan kembali ke ibukota sore itu juga karna jadwal ceramah yg sudah tercatatat tidak bisa di tinggalkan.
" dek, mas mau bicara sama adek" askari mendekat & duduk di samping istrinya yg tengah sibuk membaca buku.
gendis kemudian menghentikan aktifitas membacanya, dia menatap raut serius suaminya.
"ada apa mas, mas mau bicara soal apa?"
" kita kemmbali ke jakartka sore ini ya," ujarnya lembut seraya menggenggam jemari gendis.
"kembali,??? ke jakarta,,???" gendis bertanya dengan raut terkejut juga bingung.
" maaf ya, mas belum sempet cerita sama adek. rumah mas, pekerjaan dan semuanya ada di jakta, dan besok ada jadwal kajian yg sudah lama di booking."
"tidak apa, saya nderek saja."
mendengar jawaban yg sedikit terdengar keberatan aku jadi merasa bersalah pada istriku. tapi tidak mungkin juga aku meninggalkannya di sini. apa kata abah dan umi nanti ketika aku singgah ke jogja malah tidak bersama istriku. lagipun aku sudah tidak bisa jauh darinya sekarang. ya sekarang rasanya ingin menempel padanya setiap saat, tapi sepertinya dia butuh beradaptasi jadi aku akan bersabar.
" sekarang siap2 ya" ku genggam tangannya semakin erat.
" sekarang mas? njenengan bilang kita berangkat nanti sore?"
" kita akan singgah dulu ke rumah abah sama umi, kita ziarah sebentar ke makam mbah kung dan mbah putri ya"
"njih mas"
****
aki membiarkannya bicara formal padaku, sesukanya saja yang penting nyaman dulu. meski kedengaran jadi jauh tapi tak masalah selagi dia nyaman. sementara istriku berkemas aku berbincang dengan ayah dan ibu mertuaku di ruang tamu.
" maaf njih pa, maaf kalo haqi terkesan buru2 memboyong gendhis ke jakarta, haqi tidak punya pilihan lain"
" kamu ini le, kaya sama siapa saja. sudah ndak papa. ya memang tidak mudah, meski terbiasa melepasnya bertugas keluar kota tapi tugasnya kali ini berbeda, putriku akan pergi mengabdikan dirinya untuk suaminya. itu artinya papa sudah tidak bisa lg menunggu kepastiannya untuk pulsng. hak papa sekarang sudah berpindah padamu sepenuhnya le"
kulihat papa berkali2 menghela nafasnya. terasa amat begitu berat. membuat diri ini semakin merasa bersalah.
" maaf pa" hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirku.
" ndak papa le, papa cuma terharu saja. papa titip permata hati papa. jangan sakiti dia. jika kelak kamu tidak biss menjaga amanah papa. kembalikan pada papa ya le"
bulir bening menetes dari netra dengan iris coklat, persis seperti iris netra milik gendhisku.
aku yang tidak tahan memeluknya erat. begitu erat ku peluk beliau sembari tergugu.
" papa jangan khawatir. haqi tidak akan banyak berjanji tapi haqi akan berjanji satu hal. gendhisnya papa akan haqi jaga"
" doa kami selalu yang terbaik untuk kalian le. saling menjaga, jadilah kalian keluarga yang sakinah, mawadah, warrohmah. di berikah rezeki yang berkah barokah, serta putra & putri yg solih solihah" kini suara mma yg berbicara. beliau yang sedari tadi hanya menjadi pendengan setia sembari terus mengusap air matanya.
"amiiin, pandonga nipun saja ma.
jawabku seraya mengurai pelukankun pada papa. yaalloh gendhisku adalah permata istimewa yg di jaga begitu baik oleh dua malaikat tak bersayapnya. aku mohon ridhomu untuk menjaga amanah darimu.
***
ketika tengah kalut dengan perasaan kami, istriku turun dari tangga, papa sibuk mengelap netranya yang basah begitu juga dengan mama. mereka memperbaiki ekspresi mereka, yang tadinya sendu kini mereka tersenyum. aku tau mereka tidak ingin menunjukan kesedihannya di depan putrinya. gendhisku duduk di samping mamanya, dia menggenggam erat jemari wanita yg telah melahirkannya itu.
" mas kita mau berangkat sekarang?" tanyanya kemudian padaku.
" iya sayang, pak leman sudah menunggu di depan, koper adek sudah siap?"
" iya sudah mas"
" kalo gitu mas ambil dulu baws turun ya"
" iya mas"
kuberikan ruang untuk ayah ibu dan anak itu untuk menyampaikan salam perpisahannya.
**
aku yang sedari tadi tidak bisa bereksperi kini ku peluk mama dengan sangat erat, aku tidak berkata apapun tapi bulir bening mengalir begitu deras di pipiku. mama mengelus punggungku.
" ndok, jadilah istri yang berbakti pada suamimu. jadilah istri yang tidak hanya patuh tapi juga bisa menyimpan baik dan buruknya suamimu. jalan rumah tangga tidak selalu mulus nduk, tapi percayalah itu hanya bumbu berumahtangga itu selalu terasa nikmat"
nasihat panjang ibuku kian membuatku tergugu. aku tidak pernah membayangkan sedikitpun tentang hari ini.
"ma, nhis tetap putri mama kan. ndhis boleh kan kapan saja datang ke sini?"
kalimatku barusan membuat mamaku mengeratkan pelukannya, aku yakin beliau juga kini tengah berlinang airmata.
" pulanglah kapanpun kau mau nduk, pintu rumah ini dan pelukan papa akan selalu terbuka lebar untukmu" itu suara papa, aku yg sedang kalut di pelukan mama kemudian menoleh pada laki2 yg kini pipinya sudah mulai ada kerutan, ya dialah cinta pertamaku. aku menangkap netranya yg juga kian memerah, aku beranjak berlari menghambur ke pelukannya. berat sekali rasanya. aku memeluknya erat. sangat erat. begitupun dengan beliau.
" nduk jadilah istri yang seperti mamamu, istri yang selalu menutup rapat kekurangan papa. jangan lepa selalu percaya, dahulukan mendengar dari pada berprasangka ya nduk, kelak agar rumahtanggamu samawa till jannah"
" papa doakan ndhis ya"
"selalu sayang"
saat kami telah larut dalam tangis mas aska sudah turun dari lantai atas.
" sudah sekarang lapangkan hatimu, ikhlas lillahita'ala berbakti pada suamimu"
" siap komandan" meski hatiku amat sangat sedih tapi aku tidak mau membebani pundak kedua orang tuaku dengan kesedihanku. aku pergi untuk mengikuti suamiku.
" yuk kita berangkat"
" ya mas, ma pa. gendhis pamit ya. salam buat adem maaf ndhis nggak bisa nungguin adek pulang dulu"
" wis ndak papa nanti mama sampaikan"
" kami pamit ma pa"
aku dan mas aska berpamitan pada mama dan papa, cium tangan dan peluk cium.
" hati2 ya le, nduk. jangan lupa kalau sudah sampai jogja kabarin ya" tukas mama.
aku dan mas aska kemudian masuk mobil. kami berduan duduk di belakang, sementara yang mengemudikan mobilnya adalah pak leman. perasaanku saat ini sudah tidak dominan sedih, tapi dominan grogi, lagi2 jantungku berdetak tak karuan ini adalah aku satu mobil dengan mas aska, tapi kali ini kamu duduk berdampingan sabagai pasangan suami istri.
dia terus saja menggenggam jemariku erat.
" jangan sedih lagi ya. insyaalloh ini untuk kabiakn kika kedepan"
" iya mas"
hanya itu kata yang kuucap karna sepertinya sekarang jantungku lebih dominan bekerja dari pada otakku.