acara kini sudah selesai. grup solawat dari naungan mas Aska dan juga grup dari naugan mas arif yang semua anggotanya adalah teman2 seperjuanganku, mereka memberikan selamat seraya berpamitan pada kami. di sana juga ada mbak anggi, kalian pasti tau kan siapa mbak anggi, wanita yang memaksaku bergabung pada majelis hadrohnya yang kini berujung, mengantarkanku pada jodohku.
senyum yang begitu lebar tak lepas dari sudut bibir wanita itu.
" ning gendis, masih ingat dengan saya kan" tanyanya padaku, ya jelas aku ingat. dia yang membawaku tanpa penolakan hingga berujung pernikahan ini sekarang.
"saya tidak akan lupa, pada orang yang paling berjasa mengantarkan saya pada takdir pernikahan ini" jawabku yang ku iringi dengan kekehan kecil meledeknya.
" maaf ning, saya terpaksa. habisnya ada yang penasaran berat" terangnya sembari melirik ke arah suamiku.
" kenapa menatap saya seperti itu mbak" suara suamiku seakan tidak terima pada fakta yang sedang di buka oleh mbak anggi.
" tidak loh gus, pengantin baru ngga boleh galak2 nanti cepet tua" wanita itu meledek suamiku yg diiringi suara pecah tawa dari mulutnya." ning gendis selamat untuk pernikahannya ya"
" terimakasih mba, tapi tolong jangan panggil saya dengan sebutan ning, saya risih dengernya"
" ning harus mulai terbiasa dengan panggilan itu sekarang" jawab wanita itu sebelum kemudian berlalu pergi, berganti dengan teman2ku.
" biyang gulaku sekarang sudah jadi istri orang, selamat ya ndis, samawa dunia akhirat" itu adalah bestiku azizah. dia memelukku begitu erat dengan nada bicara yang begitu mengharu biru.
" terimakasih bebepku" aku membalas pelukannya erat kemudia menguraikan pelukan itu, tapi sebelum dia berlalu. zizah membisikan kata yang membuatku merinding seketika.
" jangan lupa cepet kasih aku ponakan yang menggemaskan" bisiknya seraya mengedipkan sebelah matanya, lalu pergi dengan gelak tawanya. saat yang aku harap tidak pernah datang kini sudah tersuguh di depan mata, lelaki yang paling ingin ku hindari, karna hatiku tidak tahan melihat ekspresi wajahnya yang tidak bisa k*****a menggambarkan suasana seperti apa dalam hatinya, tapi kini aku harus menatap laki2 itu dengan amat dekat. setelah menyalami dan memeluk suamiku untuk memberi selamat kini dia beralih padaku.
" selamat untuk pernikahanmu dek, semoga kebahagiaan, dan keberkahan hidup selalu berpihak padamu. mas ikut bahagia"
" terimakasih mas" jawabku sembari menunduk, tak bisa lagi ku tatap netra yang sudah sekian lama menjadi pusat kebahagiaanku itu. kini aku sudah berstatus menjadi istri orang. aku harus menjaga mahruahku sebagai seorang istri untuk menjaga kehormatan suamiku.
"dek, tadi itu mas arifkan" aku yang entah sedang memikirkan apa, di kagetkan oleh pertanyaan suamiku.
" iya mas, mas kenal sama mas arif?"
" cukup kenal, karna beberapa kali kita pernah terlibat di majelis yang sama"
" ooo, begitu mas" sungguh otakku tak mampu bahkan untuk sekedar berbicara, pria di sebelahku terlalu membuat jantungku bermaraton begitu hebat hanya dari mendengar suaranya saja. apalagi jemari lentiknya itupun tak mau melepaskan genggamannya sepanjang acara.
" yuk, ita naik ke kamar, adek bersih2 dulu terus istirahat. mas masih ada beberapa tamu, nanti setelah mereka semua pulang mas akan nyusul lagi ke kamar"
" anu,, mas urus tamu aja dulu, gendis bisa ko naik ke kamar sendiri"
" tidak apa mas antar, mari" arrrggghhhhtttt jantungku apa kabar, kini bahkan detaknya sudah begitu jelas terdengar di indra pendengaranku, aku yang tak bisa berkutik hanya mampu mengangguk dan menurut saja.
kamipun berjalan menaiki tangga menuju kamar, begitu sampai di dalam kamar, betapa terkejutnya aku begitu mendapati kamar yang sewaktu ku tinggal turun tadi pagi masih berantakan , sekarang sudah rapi bak kamar pengantin seperti yang ada di filem2.
aku mengikuti suamiku menuju kearah ranjang, beliau mendudukan bbot tubuhnya di tepi ranjang, sementara aku masih berdiri kaku di hadapannya.
" sini duduk" beliau mengintrupsiku untuk duduk seraya menepuk kasur di sebelahnya. aku yang sibuk untuk meredam pacuan jantungku yang amat ugal2in inipun hanya mampu menurut saja.
" mas bantu lepas hijabnya boleh?" tanyanya padaku. aku yang tak mempersiapkan mentalku untuk adegan seperti inipun sepertia akan gila karna selalu saja di buat terkejut olehnya.
" emmm, mas kan masih harus mengurusi tamu, gendis bisa buka sendiri"
" tamunya sedang menikamti hidangan dulu tidak apa kalau mas terlambat sedikit karna ingin membantu adek melepas hijab"
aku yang seperti hampir kehabisan oksigen, hanya mampu mengangguk pasrah." boleh mas"
" bismillah hirrohman nirrohim" ucapnya kemudian mulai melepas ikatah jilbab yg menurutku sedikit ribet ini. kini hijab itu sudah terlepas, memeperlihatkan rambutku yang di ikat asal dan di gulung. perlahan mas aska juga mengurai gulungan rambutku dan melepaskan ikatannya.
" mashaaalloh, cantiknya istri mas. ini adalah kali pertama mas menatap perempuan tanpa hijab sedekat ini setelah ummi dan mbak nur" tuturnya lembut, tanpa dia sadari perkataan dan perbuatannya itu . amat sangat tidak sehat untuk jantungku ini.
aku merasakan hawa panas yang menyeruak menjalar ke pipiku. sudah ku pastika sekarang pasti pipiku sudah semerah tomat.
" mas kalau muji jangan terlalu indah, tidak baik buat kesehatan jantung gendis tau" protesku kesal untu menutupi rasa gugupku.
" eh, memuji istri sendiri itu halal dek, ples dapat pahala cuma2" kekehnya sembari mengelus puncak kepalaku.
" ya sudah adek bersih2 gih, mas mau mengantar para tamu besar yang mungkin sudah mau pulang"
" iya mas" sebelum beranjak keluar mas aska kembali mengecup puncak keningku. selepas beliau pergi, aku menghirup oksigen banyak2, menetralisir hawa gugup yang sekarang begitu mendominasi" ini terlalu cepat sumpah, aku belum siap harus apa," aku menangkupkan tanganku untuk menetralkan respon tubuhku yang mungkin terbilang berlebihan. setelah cukup tenang, aku lalu beranjak menuju lemari untuk mencari piyamaku, dan bergegas menuju ksmar mandi sebelum suamiku kembali dan aku belum mandi. entah apa yang akan terjadi kalau itu ssmpai terjadi.
****
hari ini hari yang amat bersejarah dalam hidupku, karna kini aku telah berganti status sebagai suami. ya suami dari istri yang mashaalloh cantiknya insyaalloh luar dalam. kini sepertinya aku akan punya kesibukan baru, kesibukan mengganggu istriku lalu kemudian menikmati pipinya yang memerah karna malu. ah acara hari ini telah sepenuhnya selesai, aku baru saja mengantarkan tamu2 agung pulang. kepalaku yang sudah terasa pusing sedari tadi pagi kini, mulai terasa semakin berat, efek terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan ini, kurang tidur juga pola makan yang tidak teratur memang kerap kali menjadikanku lebih mudah masuk angin. jika biasanya saat kepalaku mulai pusing maka aku akan segera kerokan, maka untuk kali ini aku bahkan tidak sempat melakukannya.
setelah semua tamu sudah pulang, rumahpun sudah sepi aku menaiki tangga menuju kamar istriku, badanku rasanya sudah mulai tidak enak. semoga saja aku tidak sampai tumbang.
tok,,, tok,,, tok,,, ketika tiba di depan pintu ku ketuk pintu terlebih dahulu, karna belum terbiasa dengan kebiasaan satu sama lain, maka ku ketuk pintu terlebih dahulu.
" dek, mas masuk ya" lalu ku buka pintu kamarku itu, kosong. artinya istriku masih mandi, tapi baru saja aku menutup pintu kamar dan menguncinya, terdengan pintu kamar mandi terbuka, ketika aku menoleh istriku keluar dari kamar mandi, dengan piyama tidur panjang lengkap dengan hijabnya.
" mas sudah selesai" tanyanya padaku kemudian.
" alhamdulillah sudah dek" aku beranjak menuju ranjang kemudian merebahkan tubuhku yang sudah teramat lelah.
" mas tidak mandi dulu" tanya istriku lembut, sembari menuju meja riasnya. entah apa yang di lakukan perempuan saat malam hari di depan cermin itu.
sebenarnya aku berniat untuk langsung mandi, tapi perutku terasa bergejolak, kepalakupun kian berat.
" bentar dulu dek, kepala mas pusing" terangku pada istriku itu, sontak wanita itu langsung menoleh dengan kening berkerut." mas sakit?" tanyanya dengan nada khawatir. entah kenapa meski rasa badan begitu tidak enak mendapat respon dari istriku demikian aku begitu bahagia. "ternyata seperti ini rasanya di perhatikan oleh seorang wanita, selain dari umi dan mba nur" batinku bergumam.
" mas sepertinya masuk angin, dari satu minggu terakhir kurang tidur"
terlihap ekspresi gugup dan juga khawatir dari raut wajah istriku, akupun beranjak mendekat untuk menenangkannya.
" mas nggak papa dek, ini sudah biasa. mas mau bersih" dulu sebentar. kemudian ku kecup kening istriku sekilas untuk menenangkannya.
" mas yakin tidak apa2" tanyanya memastikan.
" iya sayang, mas mandi dulu" aku bergegas masuk ke kamar mandi meninggalkan istriku di depan meja rias, tapi setelah masuk ke kamar mandi, perutku semakin bergejolak semakin menjadi, terasa ada sesuatu yang seperti di dorong dari dalam, memaksa untuk di keluarkan. sampai akhirnya akupun memuntahkan seluruh isi perutku di wastafel kamar mandi.
hoeek,, hoeek, hooeeeekkkk,,,
perutku rasanya seperti di aduk2, aku memuntah hingga tidak ada sesuatu yang keluar dari mulutku. pahit ya cuma rasa itu yang kini aku rasaka.
tok,,, tok,,, tok,,,, terdengar pintu di ketuk dari luar.
" mas, mas nggak papa" terdengar suara panik dari istriku, akupun bergegas keluar kamar mandi agar dia tak semakin khawatir.