aku membuka pintu, mendapati istriku yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah yang begitu panik.
" mas nggak papa, apa yang terjadi? mas muntah- muntah?" tanyanya beruntun padaku.
" mas nggak papa dek, iya mas muntah, tapi sekarang perutnya lebih enakan setelah muntah. maaf mas sudah membuat adek khawatir" tuturku dengan nada menyesal melihat ekspresi panik dari wajah cantik istriku itu.
" mas mau di panggilkan dokter?"
" ngga usah mas nggak papa" ku genggam jemari lentik yang terasa begitu dingin, ku tuntun istriku menuju ranjan, ku dudukan bbot tubuhku dengan mengarahkan istriku untuk ikut duduk.
" mas beneran nggak papa kan?" tanyanya dengan nada bicara yang semakin khawatir.
" nggak papa sayang" ku belai lembut pipi mulusnya untuk lebih meyakinkannya. " mas biasanya kalo masuk angin tidak lantas kerokan maka akan kebablasan seperti ini, tapi nanti kalo sudah di kerok akan reda sendiri" terangku meyakinkan.
" mas mau kerokan?" tanyanya kemudian.
" adek bisa mengerok?" tanyaku antusias.
" bisa mas, tapi anu" dia menjeda kalimatnya kemudian menundukan pandangannya
" tapi kenapa dek?"
" adek malu mas" jawabnya dengan pipi yg memerah. "yaalloh tuhan, kenapa ciptaanmu yang satu ini begitu menggemaskan. andai tidak dalam posisi tidak enak badan, aku tidak bisa menjamin diriku untuk segera memanjakannya di atas tempat tidur" batinku bergumam.
" ya alloh dek, kenapa harus malu? mas inikan suami adek. adek juga harus membiasakan diri"
" iya mas, tapi adek belum terbiasa" keluhnya.
" tidak apa, nanti juga terbiasa sayang. mas minta tolong kerokin ya" pintaku seraya mengeratkan tautan pada kedua tangannya.
meski awalnya terlihat ragu tapi kemudian dia mengangguk juga.
" sebentar gendis ambil fra**care dulu" dia kemudia beranjak kearah laci, mengambil minyak angin untuk mengerokku.
" mas tengkurep aja ya, nggak papakan. kepala mas terasa berat sekali"
" nggak papa, bagai mana enaknya mas aja" akupun bergegas membuka kemejaku, kemudian berbaring telungkup. istriku mulai menggoreskan minyak angin di punggungku, aneh memang jika biasanya aku akan merasa sakit ketika di kerik. kali ini sama sekali tidak berasa sakit, aku begitu menikmati setiap goresan yang istriku torehkan di punggungku, rasa nyaman bercampur dengan rasa aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. selama pengerikan kami hanya diam aku begitu menikmati karokan dari istriku.
***
malam pengantin model apa ini, bukannya menikmati malam pertama malah di buat panik karna mendadak mas aska muntah-muntah saat akan membersihkan badannya. ada rasa gugup, khawatir juga malu. jujur saja aku sangat bingung harus bereaksi seperti apa. tapi karna panik naluriahku bereaksi begitu saja.
" sudah mas" aku memeberi tau suamiku jika aku telah selesai mengeroknya. dia kemudian berbalik lantas beranjak duduk. aku menyodorkan minyak angin yang telah ku gunakan untuk mengeroknya untuk dia oleskan sendiri ke perutnya.
" ini oleskan fr**carenya ke perut sendiri, biar enakan perutnya"
" adek ngga mau sekalian membantu mas mengoleskannya?" tanyanya begitu polos seperti tanpa dosa.
" gendis mau ambil gantinya mas dulu, biar ngga tambah masuk angin" jawabku setengah berbohong, padahal aku belum siap untuk menyentuh bagian2 yang terlalu fullgar dan sensitif itu. akupun beranjak ke koper milik mas aska yang tergeletak di samping lemari. aku mengambilkannya sweeter dan juga sarung untuknya.
" ini ganti baju dulu" aku kemudian duduk memunggunginya.
" kenapa berpaling dek? kita sudah muhkrim. mas sudah halal lahir batin untuk adek" entah kenapa kelimat itu terdengar seperti sedang menggodaku
" sudah mas ganti saja, nanti tambah masuk angin" grutuku kesal.
" sudah" mas aska memberitahuku jika dia sudah selesai berganti pakaian.
" masih pusing mas?" tanyaku memastikan.
" iya, kepala mas berat banget dek"
" sini gendis pijat sebentar" lelaki itu langsung mengambil pisisi tanpa menolak, akupun mulai memijat pelipis, kepala, hingga tengkuk lehernya, jujur saja tubuh ini begitu tegang, bulu kudukku terasa meremang, apalagi mas aska sesekali mlenguh kecil, entah pijitanku enak atau karna sakit. sebenarnya aku masih teramat enggan untuk bersentuhan dengannya, tapi keadaan tak mungkin membuatku tega membiarkannya dalam keskitan, sementara aku cukup mahir dalam memijat.
" sudah enakan mas?" tanyaku setelah selesai.
" mashaalloh enak banget pijitannya dek, terimakasih sudah mau di repotkan sama mas. harusnya mas yang rawat adek ini malah sebaliknya" pujian serta rasa penyesalan itu justru sukses membuat pipiku kembali memanas.
" mas mau adek bikinkan teh?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya, menginga tadi dia habis muntah-muntah.
" ngga usah sayang, mas minum air putih saja. kasian adek juga cape" terangnya seraya meraih gelas yang tersedia di atas nakas lalu mengisinya dengan air putih.
" mas, masih dingin nggak?" tanyaku memastikan.
" iya kaki mas dingin banget, nggak papa nanti kalo sudah tidur sama adek juga hangat" dengan nada menggoda meski dalam keadaan sakit dia masih mampu menggodaku, aku kemudian mendekati laci di sebelah ranajang mengekuarkan sepasang kaos kakai, lalu kusodorkan untuk di pake oleh mas aska.
" ini pakai kaos kaki"
" terimaksih istrinya mas" dia tanpa ragu kini kembali menciumku, dalam waktu singkat setelah akad, entah berapa kali dia sudah mencium keningku.
" sama2 mas"
" sini yuk kita istirahat" dia menepuk kasur di sampingnya, meski aku ragu tapi aku tak punya keberanian untuk menolak. akupu naik ke atas ranjang.
" jilbabnya buka ya syang". tanyanya padaku yang hanya mampu ku jawab dengan anggukan, aku sudah tak bisa berkata2 karna terlalu grogi.diapun membuka jilbabku, memperlihatkan rambutku yang ter-urai karna keramas saat mandi tadi. pria itu kemudain membaringkan tubuhnya dan menelentangkan satu tangannya. memberiku isarat agar tidur di dalam pelukannya.
" sini boboknya, biar dapat pahala sunnah rosulnya" terangnya
meski ragu aku tetap memberanikan firi me dekat, memposisika tubuhku di sebelah suamiku. aroma maskulin yang begitu menenangkan langsung menyeruak, menusuk indra penciumanku. darahku berdesir ketika menghirup aroma itu. lagi2 suamiku mengecup keningku, dan membelwi lembut kepalaku. lalu tangan kokoh itu mendekap erat tubuhku.
" maaf, malam ini seperti ini dulu ya sayang" bisiknya lembut padaku yang justru membuat haww tubuhku semakin panas.
" iya mas, lekas sembuh suami" entah kata dari mana, tapi spontan begitu saja keluar dari mulutku, pria yang kini sudaj mulai memejamkan matanya itupun menarik sudut bibir, kembali menciumku dan berkata " terimakasih sayang"
" sama2 mas".
hening kini sudah tak ada lagi percakapan di antara kami, detik berikutnya terdengar deru nafas mas aska yang mulai teratur. itu tandanya dia sudah terlelap dalam tidurnya. sememtara aku belum bisa memejamkan mataku, karna selain belum terbiasa satu ranjang dengan lawan jnis, tapi kaki dan jugs tanganku terasa begitu sakit. membuat mata ini amat sulit untk terpejam. karna aku tidak ingin mngganggu tidur suamiku, ku putuskan bangkit dari tempat tidur,menuju sofa panjang de depan ranjangku. tentu saja aku harus melakukan gerakan itu dengan perlahan agar tak mengusik tidur damai suamiku.
aku membaringkan tubuhku di atas sofa. mencari posisi teranyaman agar bisa mengurai rasa sakit di kaki dan tanganku, tapi mata ini tak memberikan tanda jika akan segera terpejam. kemudian ku raih ponsel yang tergeletak di atas meja kecip depan sofaku berbaring. ku raih benda pipih itu, kemudian ku buka aplikasi novel, aku membaca beberapa novel hingga aku lupa dan mulai memejamkan mata ini entah di jam berapa.