21~Dua Saudara

260 Kata
Amorist mendarat tepat di atas balkon kamar miliknya yang ternyata kedatangannya tersebut memang telah di nanti oleh Crius sendiri. Manik hitam milik Crius adiknya tersebut tidak dapat melepas jauh pergi dari dirinya dan Hemera membuatnya, sadar bahwa situasi yang telah terjadi di antara mereka tidak dapat di terima dengan baik oleh pria tersebut. Diturunkannya Hemera dari gendongan miliknya hingga, gadis tersebut menapak dengan sendirinya menggunakan kedua kakinya dengan canggung, mengetahui bahwa dirinya tertangkap baru saja kembali setelah berhasil keluar meninggalkan kastil. Pada awalnya Hemera cukup terkejut dengan kehadiran Crius mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka berakhir. Itu tidak menyenangkan. Lagi pula semuanya memang tidak ada yang begitu menyenangkan untuknya selama di kastil ini. “Kita perlu bicara.” Ucap Crius pada Amorist sayangnya, kedua manik matanya tersebut tidak dapat lepas dari gadis manusia di depannya yang memilih untuk memandang ke bawah kakinya yang kotor. Menghindari tatapan tanpa ekspresi tersebut darinya. Amorist jelas tahu bahwa gelagat adiknya yang memang kurang eskpresi sama dirinya tersebut, sekarang cukup berbeda menunjukan bahwa Crius memang sedang ingin berbicara dua pasang mata saja. Disentuhkannya bahu Hemera dengan kedua tangannya berniat menggiring gadis tersebut keluar dari ruangan agar mereka dapat berbicara 2 mata saja, sebelum dengan gesit Crius menutup jalan dengan menggeser tubuhnya. “Tidak perlu mengantarnya. Imp akan mengantarnya kembali ke ruangannya. Kita harus bicara.” Ceius jelas tahu bahwa tindakannnya tersebut baru saja memancing rasa tidak suka dari kakaknya yang merasa tersinggung akan tingkahnya itu. Namun, dirinya juga memerlukan penjelasan dari Amorist tanpa adanya penundaan. Ada yang lebih penting dari amarah yang akan di tanggungnya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN