20~Perjalanan Singkat

2043 Kata
Amorist telah merasa cukup dengan bagaimana pendekatan yang terjadi di antara mereka hari ini, interaksi yang mereka lakukan guna mengenal lebih dekat satu sama lain pada hari ini telah berjalan baik dan sudah mulai dapat mengembang sehingga, menunjukan prospektif kemajuan yang terjadi akan hubungan mereka berdua. Dirinya sudah harus merasa cukup puas melihat tidak adanya lagi gelagat kecangguan dan ketakutan yang begitu dominan pada Hemera. Meskipun dirinya tahu jika gadis tersebut belum secara lugas mengeluarkan seluruh isi kepalanya pada dirinya. Tapi, kemajuan kecil pada hari ini sudah baik hanya menunggu sedikit waktu lagi dan gadis manusia tersebut akan dengan sendirinya membuka diri, maka selama itu pula Amorist harus dapat perspektif yang jauh lebih baik terlebih dahulu, jauh sebelum Hemera mendapatkan perspektif negatif padanya. Terlalu fokus akan apa yang di rencanakannya membuatnya tersadar bahwa Hemera sudah pergi cukup lama dari kastil tanpa adanya pemberitahuan yang di berikannya pada Crius. Dirinya yakin jika adik iblisnya itu tidak akan mengkhawatirkan dirinya namun, adiknya tersebut pastinya akan mengkhawatirkan tumbal dari kutukan miliknya. Hemera adalah sesuatu yang paling berharga bagi masa depan klan Demon dan negeri Keaton jadi, kehilangan sesuatu yang akan menentukan masa depan klan mereka kedepannya bukanlah sesuatu yang terdengar menyenangkan ataupun sekedar untuk di bayangkan. Jadi, setelah cukup memastikan bahwa Hemera sudah di rasanya telah cukup di berikannya waktu untuk bermain - main maka, pria tersebut tidak punya pilihan selain menghampirinya di ujung sana yang tengah sibuk bermain dengan air pantai. Hemera tengah membasahi kakinya merasakan bagaimana dingin dan begitu segarnya air di pantai tersebut datang menyelimuti kaki mungil miliknya hingga, membasahi bagian bawah gaunnya. Selepas kembali dari sini dirinya harus meminta kembali gaun pada para imp, entah bagaimana para imp tersebut akan berekasi padanya yang baru saja meminta gaun baru pagi tadi. Hemera yang masih sibuk dengan air pantai tersebut mendongakan kepalanya saat melihat sepatu dari pria di sampingnya datang menghampirinya, berdiri tepat di samping tubuhnya. Padahal setelah segala percakapan ambigu yang pria itu ucapkan padanya, dia tidak terlihat ingin bermain bersama Hemera dan hanya terlihat ingin memperhatikan saja atau tepatnya mengawasi dirinya. Jadi, dirinya cukup tahu jika pria itu kembali datang mendekatinya setelah, hanya membiarkannya bermain dengan dirinya sendiri sedari tadi berarti waktu baginya bermain di tengah kebebasan sementara itu sudah berakhir. “Apa kita sudah akan kembali ?” Tanya Hemera membuka percakapan pertama, menatap pada Amorist yang juga menatapnya namun, dirinya sudah lebih dahulu membuka suara. Pria bermanik merah itu tahu jika, gadis manusia ini memiliki kepekaan yang cukup baik dengan situasi namun, tidak terlalu tahu mengarahkan dengan tepat antena pekanya agar dapat di pergunakannya dengan lebih baik lagi. “Kau terlihat sudah cukup puas dengan bermain - main disini. Kita harus segera kembali, orang kastil pasti mulai khawatir dengan ketidak hadiranmu disana.” Lagi. Lagi dan lagi pria tersebut terus menerus mengeluarkan informasi yang bersifat ambigu padanya. Membuat Hemera mengerutkan kening miliknya “kenapa mereka harus khawatir ? Apa aku begitu di butuhkan disana ? Padahal aku hanya di kurung saja tanpa melakukan apapun.” Sama halnya dengan Amorist yang terlihat selalu mengeluarkan kalimat bersifat ambigu padanya maka, Hemera juga tidak jauh berbeda dengannya yang terus mempertanyakan hal yang membuat kepalanya penasaran kepada pria berambut hitam di sampingnya itu. Mengingat bahwa dirinya lagi - lagi pastinya tidak akan mendapatkan jawaban yang akan begitu jelas dan lugas setelah beberapa percakapan yang mereka lalui menjadikannya pengalaman untuk segera kembali membuka suaranya. Sebelum, Amorist menjawab dirinya yang justru akan membuatnya semakin pusing dengan jawaban dari pertanyaannya. “Tidak perlu menjawab. Aku tahu kau tidak akan memberiku jawaban yang aku inginkan dengan jelas.” Sambung Hemera cepat lalu mulai menarik kakinya dari air yang merendamnya, berjalan lebih dahulu meninggalkan pria tersebut di balakang tubuhnya. “Seharusnya dia tidak bilang ingin menolongku. Dia hanya terus memberiku teka - teki yang harus aku pecahkan dengan sendirinya, tidak ada petunjuk pula. Apa itu yang disebut ingin menolong.” Gumam Hemera kesal yang sudah melangkah deluan meninggalkan Amorist di belakangnya, tengah tersenyum mendengar omelan dari gadis manusia tersebut padanya. Amorist tidak tahu jika mendengar orang lain berbicara di belakangnya itu justru terdengar cukup menyenangkan. Jika, di pikir - pikir tidak ada yang pernah melakukan hal itu padanya. Saat kepalanya mencoba memutar bahwa orang lain yang melakukan hal yang sama seperti Hemera lakukan padanya, apakah masih akan terdengar menyenangkan untuk dirinya ? Atau mungkin itu akan menjadi akhir yang buruk ? Amorist jelas langsung tahu jawabannya jika itu bukan di lakukan oleh Hemera maka itu pastinya akan memicu sisi iblisnya. Tapi, kenapa manusia yang justru jauh lebih lemah darinya tersebut tidak berhasil memicunya melakukan tindakan yang akan di lakukannya pada makhluk lain. Itu adalah pertanyaan sebenarnya yang kini tidak dapat di jawabnya. “Apa kita tidak jadi kembali ?” Suara Hemera yang masuk kedalam indera pendengarannya di tengah dirinya yang sedang berpikir itu, segera membuat Amorist melemparkan fokusnya pada sosok tubuh mungil yang ternyata terlihat sudah berjalan cukup jauh darinya. Saat Amorist tidak menjawab melainkan menunjukan jawabannya dari langkah kaki miliknya yang melangkah maju mendekati Hemera, gadis manusia tersebut hanya terdiam di tempat menungguinya dan barulah mereka berdua melangkah bersama masuk di tengah rimbunan hutan yang menutupi keindahan dari pantai ini. Bagaimanapun Hemera tidak tahu jalan keluar dari hutan ini apakah harus terus berjalan lurus agar dapat kembali ke kastil sama seperti saat dirinya melarikan diri semalam, dirinya tidak tahu. Bahkan dirinya tidak berada dalam keadaan sadar saat datang kesini. Justru saat ia membuka mata, dirinya tidaklah lagi berada dalam ruangan tempatnya di kurung . Jadi, memilih opsi untuk berjalan lebih dahulu tidak akan mengintungkan dirinya. “Kenapa tidak berjalan lebih dahulu ? Kupikir kau yang akan memimpin jalan kita pulang.” Hemera tidak tahu jika Amorist sedang menyindirnya karena, tindakannya yang tadi telah menyinggung pria tersebut ataukah hanya menggodanya. Melihat bagaimana kalimat dan nada geli akan ejekan tersebut terdengar untuknya. Sebuah ranting pohong yang mencuat di depannya membuat Hemera hampir mengenainya yang pastinya akan melukai wajahnya sebelum, dengan lebih gesit pria bermanik merah itu telah meraih ranting itu dan mematahkannya menggunakan sebelah tangan. Membuatnya menatap Amorist dengan tidak percaya. Pria bermanik merah itu bahkan terlihat seperti tidak melakukan apapun dan hanya diam menatap kembali dirinya dengan tenang yang kini berhenti berjalan. “Kau seharusnya tidak mematahkan ranting itu. Bagaimanapun dia juga makhluk hidup, hanya saja tidak berbicara seperti kita.” Amorist awalnya sedikit bingung dengan apa yang membuat Hemera berhenti berjalan sehingga, membuatnya harus berhenti juga. Ia pikir gadis itu akan mengeluh atau mengatakan sesuatu karena telah membantu agar wajah mungil itu tidak tergores oleh ranting pohon. Ternyata tindakan yang di lakukannya membuat Hemera protes pada dirinya. “Kata siapa mereka tidak berbicara. Beberapa pohon ada yang berbicara.” Sela Amorist tidak menyentuh di bagian inti mana yang gadis tersebut permasalahkan, justru kembali mematahkan perkataan dari manusia itu. “Apa ?” “Kau bilang ingin beradaptasi disini. Jadi, kuberitahu ada beberapa pohon yang dapat berbicara bahkan berkomunikasi padamu. Jadi, sebaiknya kau jangan mencoba untuk menyakiti segala tumbuhan di negeri Keaton ini.” Hemera jelas tahu jika negeri yang di tempatinya sekarang memang, bukan tempat yang biasa saja dan segala yang berada di luar nalarnya kemungkinan dapat terjadi di negeri ini. Namun, melihat bagaimana perkataan dan tingkah pria itu baru saja membuatnya untuk berpikir memilah - milah apapun yang Amorist katakan padanya. Dia terlihat tidak dapat di percaya satu sisi. “Apa kau tahu jika perkataan dan tindakanmu baru saja tidak sinkron ?. Kau sendiri yang menyakiti mereka lalu sekarang menasehatiku.” Jawab Hemera lalu mulai kembali berjalan di ikuti dengan Amorist yang kembali melanjutkan langkahnya. “Karena aku bukan manusia lemah sepertimu. Jikapun aku menyakiti mereka, mereka tidak dapat melakukan hal sebaliknya padaku.” Kali ini Hemera kembali menghentikan langkahnya. Simpati dan empati yang pria itu katakan pada percakapan mereka sebelumnya, sepertinya memang benar adanya. Lihat saja bagaimana mulut itu dengan begitu ringan mengeluarkan perkataannya. “Lagipula tidak ada Dryad disini, mereka tidak tinggal di hutan ini. Aku hanya memberimu informasi saja untuk berhati - hati.” “Dryad ?” “Peri Hutan. Mereka menghuni tumbuh - tumbuhan. Jadi, kau yang sebaiknya berhati - hari agar tidak melukai tumbuhan di negeri ini, bagaimana kau akan membela dirimu dengan tubuh manusia itu saat mereka akan menyerangmu karena telah melukai mereka.” Mengabaikan kembali remehan Amorist mengenai jadi dirinya, Hemera hanya fokus mengingat bagaimana dirinya memilih salah satu di antara pilihan yang di berikan oleh wanita penjual toko pakaian di Viula padanya, mengira dirinya seorang Nymph. “Ada berapa macam peri di Keaton ?” “Jika yang kau maksud peri - peri mereka adalah bagian dari klan Nymph. Dryad dan Hamaryad merupakan peri yang tinggal di hutan tepatnya, pepohonan. Naiad di air, Oread di pegunungan, dan Elf makhluk yang paling kecil itu biasanya bersembunyi di tumbuhan - tumbuhan.” Informasi umum yang di dapatnya akan makhluk - makhluk disini setidaknya sedikit bertambah sedikit, membuat Hemera tidaklah begitu buta -buta lagi. “Mereka adalah klan Nymph dan kau klan Demon. Apa ada klan lainnya lagi ?” Mendengar pertanyaan dari mulut Hemera setelah dirinya baru saja selesai menjawab pertanyaan gadis tersebut, membuatnya memilih kembali melangkahkan kakinya yang kali ini di ikuti oleh Hemera. “Klan Centaur. Dia berada pada posisi kedua dari klan Demon barulah di ikuti klan Nymph.” Amorist melirik gadis ke 101 itu dengan ujung ekor matanya, memperhatikan bagaimana gadis manusia tersebut menganggukan kepalanya dengan mengerti dan seolah sedang menyimpan hal tersebut dalam kepalanya. Mereka terus berjalan hingga dirinya berhasil mengeluarkan mereka dari rimbunan hutan yang sempat melindungi mereka berdua dari sengatan cahaya matahari yang begitu kuat pada kulit mereka. Matahari yang semakin bersinar dengan kuat membuat peluh keringat dari Hemera mengalir keluar membasahi gaun putih yang sudah terlihat kotor lagi hari ini, berbeda halnya dengan Amorist yang tidak mebgeluarkan peluh keringat sama sekali. “Terlalu lama dan akan begitu melelahkan untukmu jika, hanya berjalan dari sini ke kastil tanpa adanya tumpangan lain. Jadi, aku akan menggendongmu.” Mendengar perkataan Amorist padanya membuat Hemera terdiam berpikir tidak menjawab. Apa pria di depannya akan menggendongnya selama mereka berjalan karena stamina dan daya tahan tubuh yang dimiliki oleh pria bermanik merah itu lebih unggul darinya. Tapi, jika di pikir - pikir bagaimana semalam dirinya menembus rimbunan hutan untuk sampai pada jalan setapak tidaklah buruk. Tubuhnya tidak begitu lemah meskipun pria tersebut terus meremehkannya yang hanya seorang manusia biasa saja. “Tidak per—“ Gadis tersebut baru saja akan menolak akan apa yang di katakan pria tersebut padanya. Meskipun dari pihak Amorist sendiri tidak memberikannya dalam bentuk penawaran melainkan, sebuah pernyataan yang tidak membutuhkan persetujuan tersebut. Namun tubuh tegap milik Amorist telah lebih dahulu mendekat dan meraihnya dalam gendongannya hingga Hemera terpekik terkejut, tidak dapat melanjutkan ucapannya. Dengan begitu mudah tubuhnya di angkat dan di gendong tanpa ekspresi kesusahan yang muncul di wajah Amorist. Terlihat bagaimana manik biru yang membulat itu menatap wajah di depannya dengan jarak yang cukup dekat dan menemukan tidaka danya kesulitan bagi sang pemilik manik merah dalam menggendong dirinya yang tidak dapat dikatakan ringan. “Kau tidak bisa terbang. Tetapi aku bisa. Apa kau pikir aku akan menggendongmu dengan terus berjalan ke kastil ? Itu tidak akan terjadi.” Amorist menjelaskan pada Hemera dengan lugas membuat, wajah yang seharusnya tidak terlihat cukup untuk tersipu itu hanya karena pemikiran yang salah. Kali ini gadis manusia yang berada dalam pelukannya tidak menjawab dirinya dan hanya terdiam dengan kedua tangannya yang secara spontan mengalung pada lehernya semakin erat saat, melihat sayap besar miliknya keluar dari punggung miliknya. Hemera sendiri tidak dapat melepaskan padangannya dari punggung pria tersebut dan hanya melirik sekilas pada Amorist sebelum kembali pada pemandangan yang tidak biasa untuknya. Melihat bagaimana sayap yang terlihat berwarna hitam dan bercampur akan warna biru itu mengembang keluar dengan sempurna. Mengepak dengan begitu kuat hingga menciptkan tiupan angin pada sekitar mereka yang berakhir membuat dirinya harus menyipitkan mata agar, debu dan pasir yang bertebrangan tidak masuk kedalam indera penglihatannya . Lalu dengan perlahan dirinya merasakan bagaimana tubuh Amorist yang tengah menggendongnya terangkat naik dari tanah. Hemera rasanya tidak akan dapat melupakan pengalaman menakjubkan ini. Bagaimana ia dapat menikmati pemandangan dari ketinggian yang tidak dapat di capainya hanya menggunakan tubuh kosongnya saja. Karena terlalu menikmati pemandangan tersebut membuatnya tidak sadar untuk semakin menguatkan pegangannya pada leher Amoris hingga dirinya terlihat kini tengah memeluk tubuh bagian atas pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN