Hemera sudah mencoba untuk tidak begitu mempedulikan keberadaan Amorist lagi setelah selesai dengan adanya sedikit kepercayaan yang berhasil di tumbuhkan oleh pria tersebut padanya.
Dimana pria dengan daya tarik selain ketampanannya itu juga ada pada manik matanya yang indah dan tidak mudah di temui tersebut, telah mengatakan padanya bahwa mereka berdua akan saling mengenal untuk semakin dekat tanpa adanya rasa takut.
Hemera seharusnya menikmati kebebasannya yang pastinya akan berakhir untuk hari ini dan tidak tahu kapan kembali dapat menikmati kebebasannya, tanpa adanya tekanan seperti saat dirinya keluar untuk mencari informasi.
Sudah jelas jika kepergiannya diam - diam semalam menimbulkan tekanan pada batinnya sendiri. Karena hal tersebut maka Hemera harusnya lebih menikmati kebebasan yang memang di dapatkannya tanpa perlu merasa was - was akan tertangkap setelah meninggalkan kastil.
Sayangnya gadis tersebut beralih dari rasa takut saat berada dekat dengan Amorist menjadi rasa gugup dan memiliki rasa yang menerka - nerka akan hal yang tidak pasti benarnya. Amorist yang tadinya berperilaku dan terdengar seperti tengah melemparkan rayuan lembut pada Hemera, meskipun hal itu mungkin di anggap biasa dan tidak ada artinya namun, ini di tangkap bebeda oleh Hemera sendiri.
Dirinya tidak ingin mengatakan bahwa ia termakan oleh hal sepele itu tapi, kelakuan dari yang di lakukan secara satu arah pada dirinya membutnya tercengang dan cukup bingung, hingga tidak tahu harus berlaku seperti apa dalam mengambil sikap .
Hanya Amorist yang memperlakukan Hemera berbeda.
Lihat saja bagaimana Amorist yang sadar dengan tatapan dari gadis manusia yang tengah mensusuri jalan bersamanya tersebut terus menatapnya dari samping. Saat kemudian di tatap, manik biru yang tadinya menatapnya seolah menunggu sesuatu dan jawaban darinya langsung saja berpaling. Terus saja begitu.
Hingga Amorist menghentikan langkah kakinya membuat gadis manusia ke 101 itu berhenti selangkah di depannya karena terlalu fokus akan apa yang ada di pikirannya sendiri.
Di tatapnya Hemera yang kini menatapnya bingung setelah menghentikan langkahnya dengan sebelah alis yang terangkat. “Apa ada yang ingin kau sampaikan ? Sebaiknya tanyakan segera, kau menggangguku jika menahannya.”
Hemera terdiam bingung dengan apa yang di jawabnya sementara dirinya tidak begitu mengerti akan apa yang Amorist maksud padanya, lagi - lagi membuatnya berpikir sebelum menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada.”
“Kau mengatakannya tidak. Tetapi, wajahmu terlihat memiliki sesuatu.” Sipit Amorist meneliti pada gadis tersebut yang kini sedikit berpikir sebelum mengalihkan tatapannya saat menyadari apa yang di tangkapnya.
Sepertinya pikiran mengenai bagaimana pria tersebut berperilaku padanya terpampang cukup nyata di depan wajah miliknya. Suara deburan ombak yang terdengar di tengah keheningan sebentar mereka masuk di sesi - sesi tersebut, membiarkan Amorist menunggu jawaban valid dari Hemera.
Bersama dengan itu pula angin yang memang lebih banyak berembus di dekat pantai itu berhasil meniup rambut ungu panjang yang bertebrangan. Membuat Hemera sang pemilik harus menyisipkan rambutnya agar tidak menghalangi akan arah pandang miliknya di tengah kepalanya yang mencoba mencari kata - kata tepat agar tidak membuatnya terdengar aneh.
“Aku hanya ingin tahu kau makhluk apa. Kau bahkan tidak memberiku jawaban sedari tadi.”
“Demons. Iblis.” Lugas Amorist terus terang hingga, Hemera terdiam tidak dapat berbicara karena jawaban lugas tersebut.
“Iblis murni ?” Mengingat Doly adalah campuran peri dan iblis tapi, pria di depannya bagaimana bisa hanya seorang iblis saja yang jika, tidak memunculkan sisi supernatural miliknya tersebut justru terlihat sama sepertinya, manusia. Hemera pikir mereka adalah campuran manusia. “Maksudku, kau terlihat sama sepertiku jika seperti ini.” Sambung Hemera dengan suaranya yang mengecil tanpa sadar, takut sendiri akan kata - kata yang di keluarkannya dapat menyinggung .
Amorist yang kali ini mendapatkan kembali pernyataan tak langsung tersebut tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum tipis di ujung bibirnya. Lucu mendengarkan bahwa gadis yang dapat di bunuhnya itu hanya dengan berdiri tetap di tempatnya sekarang tanpa mendekatinya, mengatakan bahwa mereka sama.
Dirinya tidak tahu apakah ia harus merasa terhina akan hal ini, di samkan dengan seorang manusia lemah atau justru merasa berterimakasih karena tidak di anggap sebagai sesuatu yang buruk di mata seorang gadis manusia. Amorist merasa lucu jikan benar - benar harus menyimpulkan hal itu.
“Benarkah ? Kurasa setelah kau mengenalku lebih jauh kau akan menarik kata - katamu dengan sendiri nantinya. Kau tidak akan suka bila aku justru di anggap sebagai salah satu bagian manusia.”
“Kenapa begitu ?”
“Karena aku tidak melakukan hal - hal yang berdasar untuk di miliki seseorang agar di sebut manusia.” Amorist maju selangkah, mensejajarkan tubuh mereka berdua agar berdiri pada posisi yang sama.
“Seperti simpati dan empati kami tidak mengerti akan hal tersebut tepatnya, tidak memilikinya. Aku bisa melakukan hal yang tidak pernah terbayangkan di kepalamu sebagai seorang manusia. Aku berpotensi menjadi yang paling kau hindari nantinya.” Lalu kali ini Amorist menyentuh kening di depannya hanya menggunakan satu jari telunjuk saja.
“Jangan menyimpulkan hanya karena kau melihat bentukku yang sama sepertimu, ekspetasimu akan membuatmu menjadi tidak waras. Jangan percaya dengan apa yang mata telanjangmu tunjukan disini.”
Hemera ingin bertanya lagi namun, manik merah di mata pria tersebut bersinar yang membuatnya terlihat licik sehingga, membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah laut. Mencoba untuk menghindar.
Dirinya kembali di bingungkan akan tingkah pria tersebut. Berkata tidak memiliki simpati dan empati namun, sekarang pemilik rambut hitam itu sendiri yang mengeluarkannya dari kastil bahkan menawarkan diri untuk menolongnya.
“Kau bilang akan membantuku adaptasi disini. Jadi, aku ingin bertanya mengenai hal - hal yang berada di negeri ini.” Jujur dirinya begitu penasaran akan segala perkataan dan bentuk tindakan pria tersebut padanya namun, keberanian dan rasa tidak nyaman menyergapnya untuk berhati - hati bicara, tepatnya memilih kalimatnya .
Bagaimanapun mereka baru mengenal kembali setelah segala tekanan yang di laluinya. Tidak mudah untuk membalikan telapak tangan dalam semalam. Butuh sedikit waktu lagi baginya agar keberanian dan rasa was - was tersebut secara total pergi darinya. Namun, ini adalah bentuk kemajuan kecil melihat kali ini Hemera mau berkomunikasi untuk 2 arah.
“Baiklah. Akan aku dengarkan apa yang kau tanyakan.” Amorist sendiri sadar jika gadis tersebut kini kembali menarik dirinya sendiri saat ia justru tidak memberikan tanda - tanda penolakan. Sayang sekali bahwa manusia itu tidak ingin mengambil sedikit resiko dan melupakan nalarnya.
“Apa kau tahu kenapa aku bisa berada disini ? Tepatnya aku berada dimana ?”
“Kau gadis manusia terpilih yang memang di takdirkan untuk berada di sini. Di Negeri Keaton namun, tidak untuk waktu yang lama.”
Kening Hemera mengerut mendengar jawaban yang membuatnya merasa ambigu. “Tidak lama ? Apa itu artinya aku akan kembali ketempatku yang seharusnya ?”
Amorist kali ini yang mengalihkan pandangan matanya kearah belakang tubuh Hemera menatap pda berbagai hantara rimbunan pohon hijau yang tumbuh subur dan indah. Dibalik pemandangan di dapatnya, wajah yang tak lagi memperhatikan wajah mungil milik Hemera tersebut kini berubah datar sebelum membuka suaranya. “Aku tidak tahu pastinya kau akan kembali kemana ataupun mungkin tidak akan pernah kembali.”
Ya. Amorist tidak tahu apapun mengenai nasib para gadis manusia itu nantinya. Ulzana sang penyihir tertua di Keaton tersebut hanya mengidentifikasi bahwa seorang manusia akan dikirim secara khusus untuk menjadi penawar kutukan miliknya, lalu setelah mereka telah melakukan masing - masing dari tugasnya, dirinya tidak tahu kemanakah jiwa tersebut pergi nantinya ataukah jiwa itu akan berubah menjadi apa.
Ada rahasia alam yang tidak semuanya dapat di ketahui olehnya.
“Tidak akan kembali. ” Gumam Hemera mengcopy kalimatnga dengan kepalanya yang kembali sibuk akan kemungkinan dari ucapan yang di dapatnya. “Kalau begitu apa selama aku berada di antara kalian dan tidak dapat kembali ketempat seharusku. Di Keaton ini, kau akan tetap selalu menjagaku seperti ucapanmu ?”
Amorist terdiam dengan pertanyan tiba - tiba yang tidak di ketahuinya akan di keluarkan gadis tersebut. Setelah mencerna jawaban yang di berikan olehnya.
Mencoba mengamankan keselamatannya itu yang di tangkap oleh Amorist. Saat gadis tersebut berpikir artian tak dapat kembali yaitu, harus tinggal bersama - sama dengan makhluk - makhluk yang berbeda dengan dirinya, jelas tidak begitu menguntungkannya. Tidak akan ada kaum yang mau melindungi secara sukarela makhluk di luar kaum mereka sendiri.
Menundukan kepalanya dengan cepat di tatapnya manik biru yang terlihat polos dan tengah memastikan keselamatannya pada tangan seorang pria yang baru dikenalnya . “Aku tidak pernah menjanjikan perjanjian jangka panjang padamu, Hemera. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri selama disini, bahkan dari aku seorang.”
Amorist jelas tahu jika, gadis di depannya ini akan mati di tangannya. Jadi perjanjian untuk melindunginya itu terasa seperti omong kosong.
Tetapi, gadis tersebut jelas tidak tahu jika, orang yang seharusnya di jauhinya dan tidak pernah di coba - coba menaruh keselamatan hidupnya di tangan pria tersebut seperti sekarang, merupakan sebuah langkah yang ceroboh.
Dia adalah buruan yang bahkan tidak tahu pemangsa yang harus di hindarinya adalah siapa.