32~Remah - Remah Roti

514 Kata
Hemera terdiam beberapa saat menatap pada pintu di depannya yang kini telah menutup setelah Crius memberikannya nama. Dirinya tahu jika pria bermanik hitam itu secara terang - terangan tidak menyukai dirinya dan terkesan menjaga jarak darinya, sedari awal ia sudah menduga hal itu. Hanya saja dirinya sedikit tidak menyangka bahwa permintaannya itu benar - benar di kabulkan oleh pria tersebut, memberikannya sedikit identitas yang bisa di bilang masih lazim saja. Tetapi, dalam situasi ini berbeda dengan mengetahui bagian identitas terkecil dari pria tersebut tidak akan membuatnya berjalan di tempat, melainkan setitik langkah kecil. Terkadang remah - remah roti yang tanpa sadar terjatuh di lantai lah yang menuntun para semut untuk memdapatkan sepotong besar roti bagi mereka. Hemera berbalik berjalan melangkah ke arah ranjangnya dan hanya berdiri berdiam di samping ranjang, menatap dari posisinya ke arah kolong ranjang miliknya. Malam nanti ia harus kembali keluar dari kastil ini untuk mendengarkan informasi apa yang telah di dapatkan oleh makhluk Satyr tersebut. Sepertinya dirinya pula harus meminta pada Sama agar mencarikannya informasi mengenai Amorist, Crius dan Nesrin. Saat Hemera sibuk dengan rencana yang tengah di susunnya dalam kepalanya tersebut pintu dari ruangan besar miliknya kembali terbuka, menampakan 2 orang imp yang tengah berjalan masuk dan membawakannya pakaian sekaligus datang mengambil troli makanan. Salah satu imp yang berjalan di belakamg temannya tersebut terlihat kesusahan berjalan bahkan salah satu kaki miliknya terseok - seok, di seret oleh sang pemilik seolah tak bercungsi dengan baik. Tanpa sadar Hemera mengerutkan keningnya dengan kedua mata birunya yang terus meneliti pada sang pelayan. “Kau baik - baik saja ? Ada apa dengan kakimu ?” Tanya Hemera hingga yang di tanyai hanya menatapnya dengan tatapan yang lagi - lagi tak di mengerti oleh dirinya sendiri, imp yang biasanya memasang muka datar dan tidak peduli setiap kali melayaninya kini menampakan raut wajah marah bahkan wajahnya memerah. Sadar akan ke agresifan makhluk yang di katakan rendah di antara kaum mereka spontan menarik dirinya mundur dengan pelan. Bagaimanapun Ulzana telah memperingatinya bahwa dirinyalah yang sebenrnya paling terlemah di bandingkan makhluk tersebut. “Aku hanya bertanya.” Cicit Hemera kecil melihat sikap agresif yang terlihat seperti akn siap melompat menyerang dirinya jika, mencoba bertanya kembali. Padahal gadis manusia itu hanya khawatir dengan makhluk bertubuh mungil tersebut. Meskipun dirinya berada pada bagian terlemah di antara makhluk lainnya, namun sifat simpati yang di miliki olehnya tentu jauh lebih besar di bandingkan dengan mereka semua. Pemilik jantung ke-101 tersebut pada akhirnya hanya diam memperhatikan bagaimana kedua imp itu telah bersiap pergi dari ruangannya setelah menaruh gaun baru dan kini tengah mendorong troli dari sarapan paginya. Menahan ringisan dengan sendirinya melihat imp yang mengingatkannya akan Doly tengah berjalan dengan kesusahan dan tentunya dengan rasa sakit yang di tahan oleh makhluk itu. Rasa kasihan menyerbu dirinya. “Kurasa mereka memang tidak menyukai di berikan pertanyaan.” Gumam Hemera tepat saat pintu ruangan miliknya telah menutup. Hemera pikir para makhluk di negeri Keaton memang memiliki watak yang tak suka mendapatkan perhatian, lihat saja bagaimana Crius tadi mengurnya agar lebih fokus pada dirinya sendiri saja. “Kuharap dia baik - baik saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN