Hemera mengerutkan keningnya tidak mengerti akan apa yang wanita tersebut katakan padanya. Dia cantik namun, terlihat tidak akan memedulikan apa lawannya menangkap apa yang di maksud oleh dirinya sendiri.
Egois tercetak jelas di dalam wajah jelita tersebut. Meskipun begitu Hemera tidak menyukai bagaimana di pertemuan pertama mereka wanita yang bahkan tidak mau memperkenalkan dirinya dengan baik itu tengah berbicara padanya.
“Kalau kau berpikir begitu. Seharusnya ku mengenalkan dirimu, agar aku bisa mengingat maksudmu dengan baik.” Ucap Hemera mulai menunjukan perlawanan baliknya hingga wanita yang berada di depannya memicingkan mata. Tidak menyukai balasannya.
“Kau berbicara seakan terlihat tidak akan kalah dariku. Picik.”
Gadis manusia tersebut jelas mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari wanita tersebut yang justru berbalikan dengan apa yang tingkahnya lakukan. Merasa tengah di umpatkan kata yang tidak tepat membuat Hemera memasang raut tidak percaya sebelum, kembali membuka mulutnya.
“Sepertinya kau tidak hanya memperhatikan apakah orang yang berada dalam obrolan denganmu mengerti akan apa maksudmu. Rupanya kau sendiri juga tidak mengerti dengan apa yang tengah kau katakan.”
Saat Hemera berhasil memantik api dari wanita bermanik kuning tersebut dirinya merasa cukup terkejut saat jarak mereka yang cukup dekat kembali di tutupi selangkah oleh tubuh gemulai itu. Mendekatkan tubuh mereka berdua hingga menempel, sebelum wajah rupawan yang menakjubkan tersebut tepat di samping wajahnya berbisik pelan pada telinga miliknya.
“Nesrin. Aku adalah satu - satunya wanita yang akan memiliki kastil ini bersama sang pemilik kastil tersebut.”