Suara langkah tapak kaki kuda yang memadu menjadi satu bersama bunyi roda kereta tidak membuat Hemera dapat tertarik kembali kedalam kesadarannya, kesadarannya masih jauh tertinggal di dalam kastil.
Doly, makhluk iblis itu tidak mau memberinya jawaban dan hanya terus menariknya untuk segera keluar dari kasti sesuai dengan janji mereka berdua. Hingga Hemera dapat sampai sekarang berada di atas kereta yang akan kembali membawanya menuju Viula.
Tidak ada yang berubah dari sikap imp tersebut, dirinya masih saja menutup rapat mulutnya dan tidak akan membukanya untuk memberikan Hemera informasi, meskipun sejatinya informasi yang di butuhkan oleh gadis manusia itu menyangkut kekhawatirannya.
Doly hanya terdiam dan terus mengalihkan pembicaraan mereka berdua saat gadis manusia bermata biru laut tersebut mencoba menggali informasi mengenai memarnya, mengingatkannya untuk segera kembali sebeleum matahari terbit dan saat semua urusannya telah selesai.
Meninggalkan imp tersebut di kastil malam ini membuatnya merasa tidak enak dan justru khawatir. Dengan pelan Hemera menghembuskan nafasnya saat memikirkan bahwa makhluk bertubuh kecil dan begitu kurus itu tengah sendirian disana.
Tidak dapat meredakan perasaan itu dari dalam dirinya akhirnya Hemera memilih untuk membuka jendela di samping kereta, membiarkan dingin angin malam masuk menyeruak kedalam untuk memberikannya sensasi yang begitu dingin.
Sepanjang perjalanan hanya terlihat rimbunan hutan yang gelap tanpa adanya penerangan, dimana hanya jalan setapak saja yang di pasangi lampu - lampu sementara, hutan tersebut hanya mengandalkan pencahayaan bulan.
“Bulannya bersinar dengan baik.” Gumam Hemera pelan mendongak menatap naik pada langit yang bertabur bintang dan bulan itu. “Kau juga hanya muncul saat malam hari, sama sepertiku. Tapi, setidaknya kau tidak dikurung.”