Hemera hanya mendengar kalimat terakhir dari Amorist sebelum menutup kedua matanya, benar - benar telah terbawa kedalam alam mimpinya sendiri.
Melihat bahwa gadis manusia tersebut telah tertidur karena manteranya di gendongnya tubuh kecil rapuh itu kedalam pelukannya, sedikit berhati - hati saat tahu bahwa gadis ini jauh lebih lemah darinya.
Dirinya dapat membunuh Hemera hanya dengan satu kali tekanan kuat saja darinya, melihat signifikan jauh dari perbedaan postur tubuh dan daya tahan tubuh mereka berdua.
Amorist awalnya tidak berencana untuk membuat gadis tersebut tertidur saat sedang bersamanya, terlebih setelah mereka memenuhi kesepakatan di antara mereka berdua atau mungkin tepatnya bagaimana ia berhasil menggoda makhluk lemah tersebut.
Dirinya hanya ingin mengenal lebih jauh bagaimana gadis ke 101 ini berhasil menarik minatnya dengan mengobrol guna mengenal lebih jauh sosok Hemera. Sayangnya gadis tersebut terlalu takut dan selalu terintimidasi oleh dirinya, membuatnya berpikir untuk mencari cara agar gadis itu tidak lagi takut pada dirinya, membuat Hemera nyaman padanya akan membuatnya terbuka dengan sendiri.
Karena itu Amorist berencana untuk membawa gadis tersebut keluar dari kastil menunjukan padanya apa yang tidak dapat di milikinya saat gadis manusia itu tidak mau berpihak padanya.
Setelah tubuh rapuh milik Hemera telah pas berada di gendongannya, Amorist kemudian berjalan keluar dari pintu ruangan Lebna ini dan menatap pada Kartakan yang terkejut melihatnya berjalan keluar dengan sosok yang seharusnya tidak di bawahnya keluar itu.
Namun, melihat bahwa yang membawa sosok manusia penting itu adalah pemimpin mereka sehingga, keduanya hanya terdiam bahkan tidak menunjukan pergerakan yang akan menghalangi pria tersebut pergi membawa Hemera.
Dirinya terus berjalan membawa gadis tersebut menuju ruangan pribadinya tanpa ada halangan apapun. Saat mereka telah tiba di dalam ruangan itu, sesaat setelahnya pintu pada area balkon terbuka dalam sekejap bersama dengan sayapnya yang keluar, mengepak pelan pada punggung miliknya.
Amorist tidak pernah melakukan hal ini ataupun memikirkannya sedikitpun. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa ia akan menggendong salah satu tumbalnya untuk keluar dari kastil miliknya, menggunakan dirinya secara langsung pula.
Manik merah miliknya menatap pada wajah mungil yang tertidur hingga bersandar pada dadanya itu dengan tenang sebelum melompat dari pembatas balkon, membuatnya terjun dengan kencang kebawah hingga sayapnya mengepak kuat dan membuatnya terbang naik ke atas melampaui kastil besar miliknya.
Membuat Amorist mengeratkan pegangannya pada tubuh rapuh milik Hemera.
Dirinya terus terbang pada tempat tujuan miliknya sampai manik merah miliknya tersebut berkilat saat matanya memicing, memastikan bahwa ia telah tiba di tempat yang di tujunya.
Mendaratkan kakinya dengan sempurna di atas tanah hingga angin hasil dari kepakan sayapnya tersebut menyapu daun - daun yang berada di sekitarnya. Melihat sekitarnya bahwa ia telah tiba di tempat yang di carinya dirinyapun kembali masuk kedlaam rimbunan hutan, berjalan membiarkan ranting pohon dan berbagai dedaunan berbunyi saat sepatu Amorist menginjaknya.
***
Hemera yang masih tertidur mengerutkan keningnya setelah beberapa kali sinar matahari yang menerpa wajahnya berhasil mengganggu waktu tidur miliknya.
Usikan dari cahaya matahari itu pula berhasil membuat indera pendengarannya mulai peka akan suara sekitarnya. Suara deburan air yang besar dan ombak - ombak kecil terdengar merasuk dalam pendengaran miliknya, membuat Hemera dengan perlahan membuka mata.
Hal pertama yang di dapatkan Hemera adalah begitu kuatnya sengatan cahaya matahari pada matanya hingga ia harus menutup matanya guna mencoba meminimalkan cahaya yang masuk menerpa langsung pada manik matanya tersebut.
Dengan perlahan bangkit dari posisi berbaring miliknya bersama sebelah tangannya yang mencoba menghalau sinar matahari pada wajahnya lagi. Hemera yang merasakan telapak tangannya menyentuh sesuatu bukan beralaskan seprai dari tempat tidur mengerutkan keningnya.
Menunduk menatap pada kedua kakinya yang berdiri di atas pasir putih berhasil membuatnya tercengang, hingga membuat gadis tersebut dengan terkejut menatap pada sekitarnya berada.
Mendapati bahwa dirinya tidak berada dalam ruang tempatnya di kurung. Hemera seharusnya senang namun, rasa panik entah kenapa tiba - tiba datang menyergapnya melihat bahwa ia tengah berada di alam bebas.
Hemera mencoba mengingat terakhir kali akan apa yang terjadi sebelum dirinya menutup mata, terkena kantuk yang luar biasa secara tiba - tiba. Dalam ingatannya terakhir kali ialah bagaimana dirinya sedang mengobrol bersama pria berambut hitam tersebut.
Setelah itu dirinya tidaklah lagi mengingat apapun . Entah pria tersebut meninggalkannya dengan percakapan terakhir mereka ataukah yang membawanya ke tempat ini. Dirinya tidak tahu.
Hemera sibuk dengan pikirannya dan rasa panik memikirkan bahwa ia berada pada tempat yang tidak di ketahuinya, padahal kebebasan adalah suatu yang paling di inginkannya.
Tidak sadar bahwa sepasang manik mata tengah mengamatinya hingga pemilik mata tersebut mulai berjalan mendekat padanya yang masih sibuk akan pikirannya sendiri.
“Kau sepertinya tidak terlalu senang keluar dari ruanganmu setelah berhari - hari terkurung.” Saat suara yang tidaklah asing lagi itu masuk kedalam indera pendengarannya, Hemera tidak dapat menahan diri untuk tidak berbalik dan menatap sesosok pria di belakangnya.
Amorist meneliti wajah cantik yang cukup terkejut akannya itu hingga manik mata biru tersebut membola. Dirinya sedikit tidak menyangka akan apa yang di tunjukan oleh Hemera setelah dirinya membawa gadis tersebut keluar dari kastil, tempatnya di kurung yang pasti memicu akan rasa stress padanya.
Sayangnya, Hemera justru terlihat panik melihat dirinya telah keluar dari kastil. Seharusnya gadis manusia ini terlihat senang dan bukannya panik. Saat, manik merahnya kini mendapati sedikit kelegaan dalam manik biru itu melihat kehadirannya. Ini justru berkali - kali membingungkan dirinya lagi.
“Kau yang membawaku kesini ?” Suara kecil yang bertanya itu seharusnya tidak dapat di dengar oleh Amorist tetapi, karena indera miliknya justru berada di atas rata - rata ia justru dapat mendengar dengan lebih jelas.
Pertanyaan yang di keluarkan Hemera sendiri seperti tidak ingin mendapatkan jawaban dan hanya seperti gumaman lalu saja, melihat bagaimana dirinya menyeruakan pertanyaannya dengan sura yang jauh lebih kecil dari deburan ombak di belakangnya.
“Kau tertidur dan aku masih ingin mengobrol denganmu. Jadi, ku bawa saja kau kemari.” Jawaban itu berhasil membuat wajah gadis di depannya yang menunduk dan hanya berani meliriknya kecil - kecil tersebut, kini dengan pelan mendongak menatapnya.
Hemera tidak tahu harus bagaimana menilai pria bermata merah itu pada dirinya. Ini bukan kali pertama lagi bahwa pria tersebut terdengar ingin mengenal dekat padanya. Menggigit bibirnya sedikit bimbang akan percaya pada sosok tegap di depannya membuatnya tidak dapat menahan diri untuk kembali bertanya.
“Benarkah kau ingin mengenalku ?” Amorist menaikan sebelah alisnya dan tersenyum tipis yang tidak terlihat pada ujung bibir miliknya, tahu bahwa perangkapnya termakan.
Amorist berjalan melewati Hemera dengan kedua tangan miliknya yang berada pada belakang tubuhnya menyatu. Menatap lurus pada lautan di depannya, membiarkan manik birunya menyelami lautan biru indah yang tak terlihat ujungnya itu.
“Tentu saja. Aku sangat ingin mengenalmu Hemera.”
Hemera tidak dapat menahan dirinya untuk tidak ikut berbalik dan menatap punggung Amorist selangkah di belakangnya.
Amorist terdengar bersungguh - sungguh akan ucapannya dan di luar tingkah segala intimidasi yang di lakukannya pada dirinya, pria itu tidaklah sepenuhnya terlihat akan menyakitinya. Mungkin pertemuan pertama mereka yang menghancurkan kesan baik pada pria tersebut, sehingga dirinya salah menilai.
Lagipula Hemera memerlukan orang lain untuk membantunya selama dirinya mencoba beradaptasi disini, di luar Doly dirinya harus mendapatkan seorang lagi yang terlihat jauh lebih dapat membantunya kedepan.
“Kalau begitu apakah aku boleh tahu namamu ?” Amorist menatap dari ujung ekor matanya mendengar Hemera kembali membuka percakapan di antara mereka berdua. “Aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Jadi, kalau kau tidak keberatan un—“
“Amorist. Kau bisa memanggilku Amorist.” Potongnya langsung hingga Hemera terdiam tidak berkata - kata apa lagi.
Tidak ada pertanyaan lagi membuat Amorist mengerutkan keningnya. Gadis manusia itu baru saja membuka mulutnya lebih banyak dan apa sekarang dirinya kembali menutup mulut.
“Mmm, Amorist.”
“Ya, Ada lagi yang ingin kau tanyakan Hemera ?” Respon Amorist melengokkan kepalanya ke samping dengan posisi badan yang masih menghadap ke depan.
“Makhluk apa kau ?”
Itu pertanyaan yang sedikit tidak terduga untuknya, seseorang menanyakan makhluk apakah ia. Amorist pikir gadis tersebut akan menggali hal lain mengenai Keaton, sepertinya ia sudah melakukan beberapa penilaian yang salah akan gadis manusia tersebut.
“Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya sedikit pensaran saja.” Hemera menatap pada manik merah yang belum menjawabnya dan hanya diam, khawatir jika dirinya telah menyinggung pria tersebut dengan ucapannya.
Kali ini Amorist tidaklah melengokan kepalanya namun, memutar tubuh miliknya secara keseluruhan guna menatap pada tubuh berbaluktan gaun putih yang mulai kotor kembali karena, terkena pasir.
“Tidak begitu buruk jika kau mengenalku. Karena aku juga ingin mengenalmu.” Ucap Amorist menatap lurus pada manik biru polos tersebut, sebelum berjalan mendekatinya dan menutup jarak sejangkal yang berada di antara mereka.
“Tapi Hemera, apa kau yakin bisa menangani semuanya nanti ?” Sambung Amorist yang telah berdiri begitu dekat pada tubuh mungil itu, hingga Hemera harus mendongak menatapnya.
Hemera menatap pada sosok di depannya dengan sedikit perasaan tidak nyaman. Bukan karena posisi mereka melainkan sisi intimidasi yang di miliki Amorist telah kembali.
Tubuh tegap itu lagi - lagi telah menutup dirinya dari sinar matahari yang menyengatnya dan kini hanya menyinari punggung lebar dari Amorist saja.
Hemera menelan ludahnya kembali terintimidasi dengan bagaimana pria itu berbicara padanya, hanya berbicara yang seharusnya terdengar biasa saja dan bukan tengah memukulnya hingga membuat terintimidasi. Tapi, yang di rasakan olehnya justru rasa terintimidasi dari pria tersebut. “Ti— tidak, tidak perlu menjawabnya kalau, ka-kau tidak mau.”
Amorist memiringkan kepalanya kesamping menatap pada wajah mungil yang kembali tertunduk itu, sebelum sebelah tangan kirinya bergerak menyentuh dagu Hemera pelan dan di dongakannya untuk menatap matanya.
Gadis ini begitu rapuh dan begitu mudah terintimidasi. Ia adalah sasaran terempuk di Keaton.
“Kenapa kau begitu mudah terintimidasi denganku, Hemera ? Padahal aku telah mengatakan bahwa aku akan membantumu dan melindungimu selama kau berada disini.”
Hemera tidak menjawab dan hanya sibuk menatap manik merah di depannya. Dirinya yakin tidak ada yang memiliki manik merah itu selain Amorist. Pria itu memiliki mata yang spesial dan begitu spesial.
“Aku hanya bertanya padamu, apa kau siap untuk segala kemungkinan saat mengenalku. Tidak begitu banyak yang dapat bertahan saat mengenalku.” Sambung Amorist lagi berbicara dengan sebelah tangannya yang sudah bergerak menyentuh sekitar rahang yang membingkai wajah cantik itu. “Baiklah, aku akan membiarkanmu mengenalku sampai waktunya tiba. Karena aku juga sangat ingin mengenalmu Hemera.”
Hemera hanya dapat terus terdiam dan menatap pada netra merah yang terlihat berkilau untuk beberapa saat. Membiarkan Amorist terus berbicara yang lebih terdengar berbicara pada dirinya sendiri, di bandingkan gadis manusia di depannya. Seolah mencoba mengambil kesepakatan bersama dirinya dan bukannya pada Hemera yang mengajukan pertanyaan padanya .
Sesaat mereka kembali terdiam saling melemparkan tatapan satu sama lain hingga Amorist mendekatkan kembali wajahnyanya, menyatukan kening mereka dengan pelan. Amorist berpikir menatap wajah Hemera terlalu lama akan membuatnya terus tertarik untuk berada lebih dekat dengan wajah tersebut.
Melihat dan menyentuhnya lebih dekat.
Saat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Amorist kepadanya Hemera tidak dapat menahan diri untuk tidak membulatkan kedua matanya, bahkan rasa kesemutan pada kakinya yang tiba - tiba saja menyerang entah kenapa.
Menyadari kening mereka kembali bersatu hingga kedua wajah mereka begitu dekat membuatnya menelan ludah.
“Apa kau juga tahu memakai sihir ?”
“Ti—Tidak.”
Hembusan yang di keluarkan keduanya saat membuka mulut menerpa satu sama lain, merasakan satu sama lain hembusan di antara mereka.
Dengan senyum miring yang terpasang di ujung bibirnya bersama sebelah tangannya yang tengah menyisipkan hentaian rambut ungu milik Hemera ke telinga, mengirimkan sensasi manis.
“Lalu kenapa kau selalu berhasil menarikku untuk selalu melihatmu lebih dekat ? Kau punya sihir kecil.”