Hemera sebenarnya tidak mengerti dengan imp di depannya ini namun, karena pada akhirnya ia mendapatkan sosok makhluk dari dunia yang di tempatinya maka ia harus menggunakan kesempatan tersebut dengan baik.
Salah satu caranya ialah dengan menjaga ekspresinya agar tidak berubah sesuai dengan isi pikirannya.
Beberapa hal yang tidak di mengertinya ialah bagaimana bisa makhluk di depannya tersebut mau berteman dengannya padahal ia mengeluarkan ancaman untuk imp tersebut, namun saat mendengar kata teman raut wajah begitu senang dan sarat akan dambaan itu jelas terpancar dari wajah kecil tersebut.
Baiklah mungkin ia tidak perlu memikirkan adanya miss komunisai mengenai kepahaman di antara mereka melihat mereka adalah 2 makhluk berbeda.
“Jadi, bolehkah aku bertanya ?” Tanya Hemera membuka percakapan setelah hampir 15 menit mereka berada dalam keheingan, selepas ia dan makhluk tersebut tiba kembali di dalam ruangan tempat awalnya di kurung.
Saat imp tersebut menganggukan kepalanya dengan bersemangat maka langsung saja dirinya kembali membuka mulutnya, mengeluarkan pertanyaan yang ingin di ajukannya. “Apakah kau ini ?”
Begitu banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin tanyakannya selain mengenal makhluk di depannya, namun mengetahui lebih spesifik makhluk apa tersebut justru bukan pilihan buruk. Ia tidak bisa secara gamblang menarik seseorang untuk memberikannya informasi berguna jika ia sendiri tidak mengenal orang yang membeberkan pada dirinya.
“Kau bisa memanggilku Doly. Aku teman barumu, kita teman.” Makhluk yang menyebut dirinya sebagai Doly tersebut berbicara dan memajukan tubuhnya semakin mendekat pada Hemera, seirung dengan nada bicaranya yang mendekati akhir maka semakin bersemangat pula.
“Ya. Senang mengenalmu Doly. Aku Hemera.” Jawabnya dengan canggung berusaha menggeser dirinya lebih mundur dari wajah yang belum terbiasa baginya itu, terlebih kedua bola mata hitam pekat yang begitu kuat menatap lurus seolah - olah menusuk pada mata biru di depannya.
Sebelum dirinya sendiri tidak percaya bahwa ia dengan gampangnya mengeluarkan nama yang di berikan dari pria berambut putih yang secara tiba - tiba menemuinya lalu melakukan hal di luar nalarnya, dan kini telah kembali menghilang sampai tak terlihat lagi.
“Apa kau ada lagi yang ingin di tanyakan ?”
Begitu jelas bahwa Doly sendiri begitu bersemangat dengan pertemanan mereka berdua, lihat saja ia terus mendesak pada Hemera untuk bertanya lagi. Menjadikannya obrolan biasa di antara teman seperti yang di ketahuinya.
“Aku melihat yang sepertimu, mereka katanya pelayan. Tapi, mereka tidak mempunyai tanduk, sayap, dan ekor merah mudah itu. Kenapa kau sendiri mempunyainya ? Apa pekerjaanmu ?”
Kali ini Doly yang mendengar pertanyaan tersebut tidak lagi seceriah seperti tadi melainkan raut wajahnya mulai meloyoh menundukan kepalanya, sirnanya semangat dan rasa cerianya pada wajah itu tiba - tiba saja berganti menjadi suasana sedih yang melanda.
Hemera melihatnya namun iapun bingung dan tidak tahu apa yang terjadi dengan sosok di depannya tersebut. “Aku juga pelayan. Spesies kami memang bekerja sebagai pelayan dengan struktur terendah di klan.”
Doley kali ini mengangkat kepalanya menatap sedih pada wajah gadis di depannya. “Mereka mempunyai tanduk, ekor, dan sayap sepertiku.” Lanjutnya menjelaskan sembari menyentuh masing - masing bagian yang di ucapkannya. “Tapi itu sudah di potong karena mereka tidak berguna lagi bagi Tuan. Jadi mereka hanya bagian terendah dari terendah. Doly tidak ingin seperti itu.”
Hemera terkejut dan tidak bisa berkata saat makhluk tersebut menjelaskan kenapa mereka berbeda padahal sebenarnya mereka memiliki kemiripan. Ini menakutkan. Mereka di perlakukan seperti itu saat mereka tidak memiliki kegunaan lagi.
Ia tidak bisa begini. Kepalanya kembali mengingat bagaimana mereka mengambil darahnya meskipun tidak di ketahui untuk hal apa pastinya, namun ia mulai merinding saat memikirkan bahwa ia masih berada di tempat ini karena masih di butuhkan.
Pikirannya mencoba untuk mulai menyuruh dirinya mencari lebih jauh agi.
“Lalu kenapa kau berada disini ? Apa yang akan kau lakukan ?.” Desak Hemera mengabaikan kesedihan Doly membuat makhluk tersebut terkejut dan kembali merubah raut wajahnya.
Ia tidak bisa memikirkan perasaan di depannya ataupun menebak apa yang di pikirkan oleh makhluk tersebut terhadapnya yang mungkin akan mengakhiri kata pertemanan mereka setelah ini, disaat dirinya juga sedang ketakutan dan berusaha bertahan diri. Jadi Hemera tidak memperdulikan raut wajah terkejut itu dan tetap bertanya saja untuk mendapatkan apa yang di butuhkannya.
“Doly apa yang kau lakukan disini. Beri tahu aku kenapa kau tadi menarikku keluar dari ruangan ini.” Tekannya lagi hingga Doly menggelengkan kepalanya menatap dirinya dan kali ini giliran dari makhluk tersebut yang termundur menghindari gadis manusia tersebut.
“Doky tidak tahu. Doly tidak tahu apa - apa.” Imp tersebut masih terus menggelengkan kepalanya dan mengulang kata yang sama, sembari menghindari Hemera yang terus saja mencoba mendekatinya dan kini telah berhasil menyentuh bahunya.
“Doly katakan padaku. Kau pasti tahu sesuatu. Komohon, katakan padaku.”
Doly mendongak menatap pada Hemera terlihat bahwa mata besarnya itu tengah gemetar, lalu melompat mundur dan segera berlari keluar ke arah pintu berniat segera pergi dari sana saat keadaan mereka mulai tak terkendali baginya, berniat untuk segera meninggalkan teman manusianya.
Padahal ia tadinya begitu senang tadinya menghabiskan waktu bersama gadis tersebut untuk melakukan pertemanan mereka.
Hemera berdiri dari duduknya sedikit kekesalan di dapatinya saat makhluk tersebut terus saja menghindarinya. “Doly aku tidak akan mau berteman denganmu. Kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Ancamnya keras, mencoba membujuk namun dengan cara yang keras agar makhluk tersebut mau membuka suaranya.
“Kita teman ! Dan teman mempercayai temannya !. Itu yang mereka lakukan.” Pada akhirnya Doly juga menaikan nada bicaranya sebelum segera melompat pergi dari sana karena, dirinya yang telah terdesak ia harus kembali sekarang.
Hemera menatap pintu ruangan yang kembali tertutup dengan kesal sebelum, terdengar sebuah suara yang menunjukan bahwa ia telah kembali di kunci, entah bagaimana makhluk kecil itu melakukannya.
Dirinya kembali gagal mendapat informasi ia justru hanya menambahkan beban pikirannya untuk mendapatkan jawaban. Ia benci ini. Dirinya terkurung dan jalan satu - satunya yang di pikir terbuka untuknya kemungkinan adalah jebakan baginya.
Doly mengatakan bahwa mereka hanyalah pelayan, itu berarti kedatangan dari makhluk tersebut bukan atas kehendaknya sendiri. Tidak mendapatkan jawaban bagaimanapun ia memikirkannya ini membuatnya mulai merasakan kekhawatiran dalam dirinya.
Membuatnya tidak bisa berhenti berjalan kesana kemari saat kekhawatiran dalam dirinya mulai memuncak naik secara perlahan, memikirkan perkataan tersebut. Saat mereka menganggap dirinya sudah tidak berguna maka mungkin hari itu ia akan menemui ajalnya.
Di singkapnya gaun lengan pada tangan kanannya dengan kasar. Menatap kulitnya yang mulus dan tidak memiliki adanya bekas sayatan disana. Mungkin Doly mengatakan bahwa ia terlemah tetapi, ucapan Ulzana justru membuktikan bahwa Hemera sendiri bahkan jauh di bawah makhluk yang mereka sebut pelayan.
Hemera lebih tidak berdaya di banding dengan yang lainnya. Sungguh, mereka akan dengan mudah membunuhnya . Ia berada dengan begitu jelas di rantai terbawah makanan. Hanya dia yang akan di buru begitu mudah.
Ditatapnya kearah jendela yang menampilkan langit gelap membuatnya menggigit bibir. Ini seperti menunjukan bahwa waktu terus berjalan.
Ia harus mencari tahu apakah dirinya memang berada pada situasi yang aman disini.
***
Secara perlahan penglihatannya yang seluruhnya hanya kegelapan kini berubah saat sinar matahari mulai masuk melalui jendela memantul menerangi tempatnya beristrahat, meskipun sudah hampir lebih dari 500.000 tahun lamanya ia tidak pernah dapat menutul matanya dengan tenang.
Sinar matahari tersebut seolah - olah bukan hanya menerangi ruang tersebut melainkan ikut menerangi penglihatan sosok pria yang berada di lantai dengan posisi berlutut dan tengah memegang sebelah dadanya tepat pada area jantung menggunakan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lain bertumpu menopang tubuh atasnya di lantai tersebut.
Sakit yang menerpa jantungnya itu perlahan mereda meninggalkan sengatan panas seolah membakar organ dalamnya itu sebelum, kini benar - benar menghilang tak berjejak.Rasa sakit yang menderanya semalaman dan membelenggunya kini hanya meninggalkan nafasnya yang mulai teratur kembali karena, tidak adanya lagi cengkraman dan tusukan menyakitkan yang di rasanya pada jantung miliknya.
Setiap kali rasa itu kembali untuk menghukumnya ia tidak pernah merasa terbiasa bahkan setelah ribuan tahun di rasakannya, ini selalu terasa menyakitkan dan tidak akan pernah dapat di tahankannya.
Namun sebenarnya kutukannya ini seharusnya dapat sudah di tahannya semalam mengingat gadis dengan jantung terakhir itu telah terlahir, mungkin jantung gadis itu masih harus menunggu untuknya santap dalam waktu 3 bulan lagi, sampai tibanya bulan purnama. Tapi, darah yang di pompa oleh jantung tersebut ke seluruh tubuh Hemera tidak lah jauh berbeda dengan penawar.
Seharusnya sama seperti 100 gadis lainnya, Hemera harusnya memberikan darahnya tiap malam untuk dirinya minum agar sakit yang di deritanya berkurang.
Sayangnya ia dengan sendiri menahan penawar miliknya tersebut. Hemera, gadis tersebut berbeda, ia merasa harus menghindari dan mewaspadai gadis manusia ini.
Hemera terasa seperti memiliki kontrol dan magnet untuk Amorist sendiri. Bukan karena semalam dirinya hampir saja melesat pergi ke ruangan Hemera untuk menghisap daranya karena sakit yang tak tertahan ataupun karena tenggorokannya pagi ini yang masih mendamba mencicipi darah dari gadis ke-101 itu meskipun hari telah berganti. Tapi karena perasaan tak nyaman mendera jantungnya, mungkin karena telah merasa sakit yang tak berhenti membuat jantungnya itu mulai rusak sampai menimbulkan gejolak berbeda di jantungnya sendiri.
Itulah yang haeus di cari tahu oleh Amorist dulu sebelum dengan tenang mempergunakan gadis manusia yang terlah lahir untuknya.
Suara langkah kaki yang masuk kedalam ruangan berhasil mengalihkan fokus Amorist membuatnya berbalik menatap pada sosok tubuh jangkung yang berdiri tidak jauh darinya.
“Ada apa Crius ? Kau punya sesuatu untuk di bahas ?” Sapa Amorist dengan suara seraknya bersama dirinya yang mulai bangkit dari posisi awalnya.
Semenyakitkan itu kutukan yang di di dapatnya namun, secepat itupula tubuhnya kembali membaik seperti sedia kala. Ini menunjukan bahwa ia memang klan terkuat Demon.
“Seharusnya kau tidak menahannya semalam. Gadis itu sudah berada dekat denganmu, jangan mencoba menahannya seolah - olah penawarnya belum di turunkan.”
Amorist tahu bahwa saudaranya itu tidak setuju dengan apa yang di lakukannya sekarang, menahan rasa sakit yang menghukumnya di saat ia bisa memilih menguranginya.
Kilat merah dari manik mata Amorist terlihat memantul di saat tubuh tegap proposional itu kini berbalik sepenuhnya menghadap pada sosok tubuh yang tak jauh berbeda sepertinya. Hanya pada bagian tertentu yang membedakan kedua saudara tersebut dengan cukup spesifik. Warna rambut dan mata mereka.
“Wah. Aku tahu kau benar - benar bagian klan Demon. Tapi apa kau harus sekejam itu pada seorang gadis manusia lemah.” Canda Amorist pada adiknya yang hanya menatapnya dengan datar tidak menjawab.
Crius tahu jika kakaknya itu justru tidak akan senang melihatnya memiliki sebuah emosi yang di sebut simpati ataupun empati di dalam dirinya. Terlepas dari Amorist yang tidak menyukai hal itu, dirinya sendiri memang tidak akan memiliki dan mengenal hal tersebut. Tepatnya klan mereka tidak memiliki emosi tidak penting yang harus melibatkan orang lain di dalamnya.
Mereka hanya memiliki emosi duniawi yang memadu untuk dirinya sendiri. Ketamakan, kenhancuran, dan kemarahan. Mereka hanya membutuhkan itu. Layaknya seperti kakaknya yang berhasil mendapatkan kutukan akibat ketamakannya sendiri.
Tidak ada yang dapat menyalahkan. Mereka memang tercipta seperti itu.
Untuk merusak dan menghancurkan.
Bahkan Amorist tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi pada 100 gadis manusia sebelumnya. Yang pria itu ingin ketahui hanyalah bahwa jantung - jantung tumbal miliknya itu tetap bertahan sampai waktu dimana ia bisa menyantap mereka semua. Jadi bagaimanapun keadaan para gadis manusia itu setelah di peras habis darahnya tiap malam hingga sekarat namun, tetap di paksa hidup agar dapat bertahan sampai dirinya sendiri yang membunuh mereka dengan tangannya, Amorist tidak peduli.
“Kau tidak bisa menyiksa dirimu terus menerus. Jika orang lain tahu kau membedakan gadis tersebut, mereka akan mulai meragukanmu.”
Kali ini kening Amorist mengernyit bingung. Lalu berjalan mendekati adiknya itu cepat dan menyentuh rambut hitam dari Crius pelan. “Apa yang kau maksud dengan meragukanku Crius ? Apa aku perlu keruangannya saja sekarang dan mencabut jantungnya pagi ini ? Agar tidak ada yang merasa ragu padaku.” Jawabnya mengintimidasi.
Sebenarnya jelas bahwa tidak ada untungnya bagi mereka sekarang untuk mencabut jantung gadis tersebut. Justru itu akan menggagalkan kutukan yang seharusnya pecah terlepas menjadi dua hal yang tidak diketahui hasil akhir manakah yang akan menimpa Amorist, pemimpin dari 3 klan kuat.
Entah itu akan menjadi kutukan abadi baginya karena penawar terakhir telah di turunkan sebelum mereka sendiri yang tidak mengikuti aturan mainny atau dirinya harus kembali menunggu sampai semesta kembali menurunkan penawar baru baginya. Tidak ada yang tahu kepastian itu.
Jadi mereka hanya punya pilihan pasti satu yaitu menjadikan Ini sebagai benar - benar kesempatan akhir untuk pemimpin mereka sendiri. Dan Amorist tahu jauh di sana bahwa adiknya dan klannya sendiri tidak menginginkan dua kemungkinan buruk itu terjadi, berbeda dengan dua klan lainnya yang justru akan memanfaatkan kesempatan tersebut guna merebut tahta negeri Keaton.
Dimana Klan Demon yang memiliki rasa ego tinggi tentunya tidak akan ingin 2 klan lain yang di anggap mereka lemah, justru mengambil tempat untuk memimpin mereka.
Crius pada akhirnya menundukan pandangannya dari Amorist. Tahu jika kakaknya cukup mampu untuk melakukan hal tersebut, menghancurkan dirinya sekarang sama dengan menghancurkan seluruh klan mereka.
“Aku berharap nantinya kau memikirkan langkah selanjutnya dengan cepat. Jangan menahan terlalu lama lagi.”
Mendengar hal tersebut akhirnya membuat Amorist mengerlingkan matanya dengan sinis lalu menepuk leher Crius pelan, sebelum berbalik berjalan mendekati pintu besar yang akan membawanya ke bagian teras balkon kastil.
Dibelakangnya Crius mengikuti Amorist yang kini sedang menatap dari ketinggian kearah seluruh penjuru bagian kastil mereka, tidak luput dengan beberapa bagian luar kastil yang indah sedang memajang keindahan mereka di pagi yang cerah ini.
“Berapa kalipun aku memikirkannya, aku tidak tahu apa yang berbeda dengan gadis manusia terakhir ini Crius. Apa tidak ada kejanggalan saat dia terlahir ?”
Kening Crius berkerut, sebenarnya belum begitu mengerti apa yang salah. “Dia sama seperti seratus gadis lainnya.”
Entah berapa kali adiknya itu telah menekankan pada dirinya bahwa Hemera hanya gadis yang sama seperti gadis lainnya, namun ia menangkap hal lain dan tidak bisa menangkap intusi dari adiknya sendiri. Orang yang di percayainya.
Di tatapnya Crius dari ujung matanya tanpa membalikan seluruh tubuhnya tersebut. “Aku harus memastikan beberapa hal jadi, kau fokus saja mengurus tahta. Jangan biarkan orang lain mengetahui hal ini.”
Amorist yakin jika Crius tidak akan membiarkan orang lain mengetahui apa yang di lakukannya bahkan untuk mengendus baunya agar mendapatkan jejaknya, ia yakin adik iblisnya itu akan mengurusnya dengan baik.
***
Hemera belum tertidur dan hanya terus melemparkan tatapannya pada pintu dari ruangannya tersebut, saat para imp yang menjadi pelayan masuk mengantarkannya makanan ia cukup terkejut bahkan sampai berdiri dari posisinya.
Gerakan terkejutnya itu tentu saja hanya di tanggapi angin biasa dengan mata bulat datar mereka oleh para imp sendiri dan tetap saja melanjutkan tugasnya.
Selesai mengantarkannya makanan para imp itupun segera keluar meninggalkan Hemera sendiri di dalam ruangan dengan santapan yang menggoda lidahnya untuk memacu lebih banyak air liur miliknya keluar.
Hemera menatap makanan yang di antarkan oleh para imp tadi. Dirinya tidak ingin mencari tahu bagaimana mereka bisa memasak dengan begitu hebat makanan yang mengenai seleranya ini tapi, sekarang yang ingin di ketahuinya ialah kenapa mereka memberikannya makanan.
Kenap mereka membantunya bertahan hidup sejauh ini. Apa karena dirinya masih berguna dan di perlukan ? Tapi untuk apa ? Apa karena mereka memerlukan darahnya, sementara beberapa hari ini mereka sudah tidak datang lagi menyakitinya. Dan kejadian yang lalu itupun baru terjadi sekali bukan berulang kali sehingga, lagi - lagi dirinya tidak bisa memastikan hal tersebut.
Hemera tidak bisa menjawab apapun pertanyaan yang di keluarkan oleh kepalanya dan dirinya tidak bisa menyeruakannya pada makhluk - makhluk yang juga tidak ingin memberinya jawaban.
Ia seperti berada dalam labirin yang terlihat memiliki satu jalan keluar namun, sebenarnya tidak ada jalan keluar jika di telusuri.
Saat kepalanya terus memutar hal tersebut penciumannya juga tak berhenti mencium aroma makanan yang semakin menggugah seleranya.
Menghela nafas pada akhirnya dirinya kembali mendekat pada troli makanan di depannya. Jika mereka masih mengirimkannya makanan berarti ia masih di inginkan hidup, jadi tidak mungkin jika ada racun di dalamnya.
Untuk sekarang ia akan mengikuti makhluk - makhluk tersebut. Dirinya akan hidup seperti yang mereka inginkan tapi, bukan untuk mati di saat mereka inginkan pula. Ia akan bertahan hidup sekarang untuk menyelamatkan hidupnya seterusnya.
Disaat itu pula manik mata biru miliknya menangkap benda yang mengkilau padanya karena terpantul sinar matahari. Itu adalah satu buah pisau yang disediakan untuk membantunya dalam menyantap makanan miliknya.
Mereka pastinya berpikir bahwa gadis manusia lemah tersebut tidak akan melakukan apapun dengan pisau tersebut atau mungkin terlalu menganggap enteng Hemera yang tidak menunjukan perlawanan berarti hingga membiarkan benda tajam itu berada di atas troli makanan.
Tanpa berpikir untuk kedua kalinya, di ambilnya pisau tersebut dan di kantunginya kedalam gaun putih miliknya.
Mungkin itu tidak akan setajam pisau yang telah melukainya tapi, pisau ini cukup mampu melindunginya untuk sekarang. Barulah setelah itu Hemera mulai menyantap makanannya.
Tidak sadar bahwa sepasang mata ternyata telah mengawasinya sejak ia menggenggam pisau tersebut dan telah berhasi menyembunyikannya di balik gaun putih yang di pakainya.
Amorist terus saja mengawasi gadis manusia di bawahnya dengan tenang melalui kaca pada bagian atap kastil. Ruangan yang memang telah mereka khususkan sebagai tempat para tumbal tinggal setelah mereka lahir itu hanya memiliki satu pintu dan satu jendela yang mengarahkannya kebagian luar, juga dengan satu lingkaran kaca pada bagian atas yang sayangnya tidak akan memantulkan sinar matahari namun hanya dapat memantulkan sinar rembulan saja.
Hemera masih belum menyadari keberadaan dari Amorist yang beberapa waktu belakangan ini berhasil berada dalam pikirannya namun tidak memunculkan diri. Begitupula dengan pria berambut putih dimana sayap besar dengan warna gelap pekat tersebut kontras bersama dengan tanduk miliknya namun, tidak ikut keluar seperti sayapnya saja yang dikeluarkannya sekarang.
Ini menandakan bahwa sosok iblis dari pria tersebut belum keluar secara sempurna.
Tidak melepaskan pandangan matanya dari gadis di bawahnya membuatnya membentuk senyum kecil di ujung bibirnya, memikirkan bahwa Hemera masih bisa menyantap makanannya dengan baik di sebabkan karena gadis itu tidak harus mengeluarkan darahnya setiap malam untuk dirinya minum. Jika, ia memberlakukan hal yang sama seperti 100 gadis manusia sebelumnya, tentu saja gadis tersebut tidak akan memiliki nafsu makan bahkan hanya untuk mengangkat potongan remah rotipun kemulutnya, ia tidak akan mampu melakukannya.
Yang akan di lakukannya justru adalah memohon untuk mati.
“Apa gadis itu tahu jika ia begitu beruntung karena belas kasih yang aku berihkan.” Gumamnya tanpa sadar. “Hemera kau beruntung terlahir menjadi gadis ke seratus satu dan bukan gadis hitungan keseratus sebelumnya. Hemera.” Lanjutnya dengan terus memanggil nama yang di berikannya.
Hingga ucapan yang layaknya mantra dari efek sihir yang di keluarkannya itu membuat gadis di bawah sana mendongak seperti tersihir secara spontan, menatapnya hingga mata tersebut membulat saat kedua manik mereka bertemu.
Tidak percaya melihat Amorist tengah mengintai secara diam - diam.
Hemera terbatuk - batuk tidak bisa mengontrol keterkejutan yang di keluarkannya akibat apa yang di lihatnya. Pria yang di carinya itu berada di atas dan kini melemparkannga sebuah senyumnya yang tak sampai mata padanya. Membuatnya harus menennggak air agar makanan yang tersangkut di tenggorokannya itu tidak akan menjadi hal yang membunuhnya.
Mengingat ia sekarang memiliki tujuan untuk bertahan hidup dan bukan mengambil tindakan mati dengan tersedak makanan .
Amorist tersenyum sinis melihat betapa terkejutnya gadis tersebut padanya. Entah karena ia terkejut dengan sosok yang mengintainya secara diam - diam atau karena melihatnya kembali dengan sayapnya yang tidak muncul pada pertemuan pertama mereka. Ia tidak tahu dan ini juga tidak aakn mengubah posisi gadis tersebut sebagai tumbalnya.
Hemera menenggak hampir setengah dari air yang di bawakan padanya itu hingga ia merasa baik - baik saja. Kembali mendongak di tatapnya bagian atas langit ruangan tempatnya di kurung mencari pria berambut putih yang hampir membuatnya tersedak oleh makanan yang di masukannya sendiri kedalam mulutnya.
Sayangnya pria yang di carinya itu menghilang setelah selesai mengejutkannya. Seolah memang tidak pernah ada di atas, dengan begitu cepat pergi dari matanya seperti di embuskan oleh angin.
Lihat mereka semua berlaku aneh padanya, mengintai dirinya secara diam - diam dengan kekuatan supernatural yang mereka miliki. Tingkah dari Amorist tadi berhasil membuatnya kini mewaspadai seluruh ruangan besar yang di tempatinya sekarang, berjaga - jaga jika makhluk lain sebenarnya telah berada di ruangannya tersebut.
Rasa lapar pada perutnya secepat itu menghilang, membuat Hemera termundur sambil terus mengawasi sekitarnya melalui mata biru terangnya. Mungkin dulu ia hanya akan mewanti - wanti siapa yang masuk kedalama ruangan ini melalui pintu, namun sekarang Hemera jelas tahu bahwa tidak ada tempat yang aman untuk dirinya di ruangan ini.
Menyentuh pelan dimana letak pisau yang di simpannya dalam gaun sehingga ia dapat menariknya jika ada yang berbahaya sembari terus mengatur jantungnya yang masih tidak terbiasa dengan keberadaan dari makhluk lain.