Tanpa menunggu persetujuan suamiku, aku segera datang menuju kediaman orangtuaku.
"Kak, gimana kok bisa sampai begini?" Tanyaku penasaran.
"Orang kakaknya masih sakit gini, bukannya dibawakan makanan yang enak-enak. Malah diinterogasi," gerutunya.
Ia memang selalu seperti ini, tak pernah mau terlihat lemah didepan siapapun, termasuk keluarganya.
"Ih, kakak tuh, selalu saja bercanda!" Omelku.
"Kakakmu yang ganteng ini, sudah tidak apa-apa, Dania," ledeknya.
"Tapi kakak masih aja ada diatas ranjang, kalau sudah sembuh ayo bangun," aku menantangi.
Ia mencoba bangkit dari ranjang.
"Awh," pekiknya.
"Tuh kan, makanya jangan sok jagoan," ledekku. Aku membantunya untuk kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Hehe, abis kamu tuh kalau khawatir berlebihan. Nanti kalau kakak punya istri, bisa cemburu deh."
"Yeh, nggak lah. Kak, gimana sih? Kok bisa sampai kecelakaan begini?"
"Ya kakak lagi nyebrang. Tapi, memang kakaknya aja mungkin yang nggak hati-hati. Sudahlah, nggak usah dibahas, namanya juga musibah. Nasib bagus, kakakmu ini selamat."
"Heuh. Lain kali lebih hati-hati dong. Oh iya, aku gak lama ya, mau langsung pulang."
"Loh, kenapa pulang?" Tanya mama, yang datang sembari membawa jus alpukat favoritku.
"Iya nih, katanya khawatir sama kakaknya. Masa baru nyampe sudah mau pulang saja," gerutu kak Fahri.
"Bukan gitu, soalnya sekarang dirumahku ada adiknya mas Irfan, dia sedang sakit. Aku gak enak meninggalkannya lama-lama," ujarku, sebelum menyedot jus alpukat yang mama bawakan.
"Adik Irfan? Bukannya sudah punya suami?" Tanya mama.
"Bukan Ria, ma. Tapi adik bungsunya, Bunga."
"Lah, katamu adik bungsunya kuliah diluar kota?"
"Iya sekarang dibawa kerumah, karena sakit."
"Sakit apa? Mama ikut deh, mau jenguk."
"Depresi ma. Nanti aja lah jenguknya,
kalau kak Fahri sudah benar-benar sembuh, biar diantar kak Fahri."
"Kok bisa?" Tanya kak Fahri.
"Aku juga belum tahu penyebabnya sih, cuma katanya trauma berat gitu. Mungkin ada kejadian buruk yang menimpanya."
"Tapi sekarang sudah bisa diajak komunikasi," kataku menjelaskan.
Setelah menjelaskan yang terjadi pada Bunga, aku memutuskan untuk pamit pulang kerumah.
___
Sampai dirumah, ku dengar suara jeritan Bunga. Aku segera masuk kedalam melihat apa yang terjadi. Benar saja, Bunga membanting barang-barang yang berada dirumah ini.
"Mas, Bunga kenapa lagi?" Aku menghampiri mas Irfan.
"Biarkan saja, nanti akan tenang sendiri," ujarnya.
Benar saja, tidak lama kemudian Bunga meringkuk disisi ranjang, kemudian tertidur sendiri. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya, lama-lama aku juga bisa ikut gila kalau setiap hari seperti ini.
Mas Irfan mengangkat tubuh Bunga, kemudian merebahkannya diatas ranjang. Ibu membalut tubuh Bunga dengan selimut tebal, terlihat sekali raut kesedihan diwajah ibu mertuaku. Orangtua mana yang tak sedih, melihat keadaan anaknya yang sangat memprihatinkan.
Mas Irfan mencolek lenganku, melirikku. Kemudian meninggalkan kamar, aku mengekorinya.
Aku ingin sekali mendengar semua penjelasan tentang Bunga saat ini, tapi melihat mas Irfan yang nampak lelah, aku mengurungkan niat. Aku akan menunggu sampai keadaannya lebih baik.
"Kenapa, kamu pergi?" Ucapan mas Irfan membuyarkan lamunanku.
"Maaf, mas. Aku khawatir dengan keadaan kakakku, lagi pula aku hanya sebentar, sekarang kan aku sudah pulang. Maafkan aku ya. Aku janji, mulai sekarang akan membantu ibu merawat Bunga," Ujarku, berusaha menenangkan hati suamiku.
Aku tahu mungkin saat ini mas Irfan sangat lelah fisik, dan fikiran. Melihat adik bungsunya yang tak kunjung membaik.
"Mas, sebenarnya sudah berapa lama Bunga mengalami depresi?" Aku tak dapat membendung rasa penasaranku, sedikit ingin tahu penyebabnya.
"Sudah hampir enam bulan."
Enam bulan, bahkan saat aku belum mengenal suamiku, Bunga sudah begini. Aku memang mengenal suamiku hanya tiga bulan, itu pun karena pertemuan tak sengaja, yang membuatku semakin dekat dengannya.
"Bukankah kamu bilang, adikmu saat itu masih kuliah diluar kota? Berarti selama ini kamu membohongiku, mas? Apa tujuannya?"
"Semuanya pasti akan aku ceritakan, ceritanya panjang, Dania," lirihnya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Aku tahu kamu lelah, tapi tetap saja, kamu hutang penjelasan padaku, mas!"
Mas Irfan hanya diam, menatap kosong ke sudut kamar. Entahlah, saat ini aku sedang bingung, tidak mungkin terus mendesak suamiku, tapi aku juga tidak bisa terus menunggu, aku akan mencari tahu alasan mas Irfan menutupi ini semua. Walaupun aku belum tahu, dari mana aku mendapat informasi tentang ini.