Wulan masih berada di dalam bus karena perjalanan cukup macet sore ini. Ia masih menggenggam dan terus memperhatikan payung yang ada di tangannya. Pikirannya masih berkecamuk. ‘Siapa yang menaruh payung itu di sebelahku? Benarkah ada orang yang meninggalkannya? Tapi di halte tadi tidak ada seorang pun yang duduk di sampingku, tidak mungkin aku tidak menyadari jika ada orang lain sebelumnya,’ batin Wulan masih meragukan siapa pemilik payung itu. Wulan menyandarkan kepalanya di sisi bus, menanti-nanti kapan kemacetan ini akan berakhir. Dia sudah sangat merindukan kasurnya, terlebih dengan keadaan kakinya yang masih sakit membuatnya ingin segera merebahkan tubuh di kasur kamarnya. “Oh, sebentar lagi sudah sampai,” ujar Wulan saat menyadari bahwa bus yang ia tumpangi sudah hampir sa

