Kerja Sama

1184 Kata
  Semenjak Bastian mengetahui semua masalah yang sedang menyelimuti Wulan, diam-diam ia mulai sering memperhatikan Wulan. Awalnya ia memang tidak mengerti mengapa ada wanita yang bertindak bodoh seperti itu, namun setelah ia mendengar isi hati Wulan, ia mulai paham mengapa Wulan bisa bertindak nekat.   'Malang sekali nasibmu,' batin Bastian. Saat ini Bastian dan Wulan bertemu lagi untuk rapat lanjutan mengenai pemotretan mereka. Kali ini Bastian tidak bisa melepaskan pandangannya pada Wulan, ia bahkan tidak mengerti perasaan apa yang ada dalam hatinya.   'Apa ini karena aku iba dengannya?' batin Bastian bertanya-tanya. Pasalnya dulu ia benar-benar tidak sudi untuk menatap Wulan, namun saat ini rasanya sulit sekali melepaskan pandangannya dari Wulan.   "Wulan, saat rapat tadi kamu ditawari pekerjaan untuk menjadi fashion stylist Triggerd untuk sementara waktu. Karena Andi ada keperluan, jadi selama dia tidak ada kamu yang akan menghandle semua kebutuhan Triggerd," ujar Agni saat menyelesaikan rapatnya dengan manajemen Triggerd. Wulan terbelalak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia ketakutan, namun di lain sisi ia merasa ini adalah kesempatan yang bagus dan tidak bisa ia tolak. Lagipula ia masih membutuhkan uang karena ia tidak tahu kapan ibunya akan kembali sehat.   Melihat Wulan yang hanya termenung, Agni kembali bertanya padanya. "Ada apa Wulan? Aku pikir saat ini kau sedang butuh uang yang lebih jadi penawaran tadi aku setujui. Ini kesempatan bagus, siapa tahu kamu bisa memperbaiki hubunganmu dengan Bastian?" tanya Agni kembali. Wulan mengiyakan apa yang dikatakan Agni dalam hati. "Baik Bu, sebelumnya terima kasih banyak. Saya terlalu merepotkan Ibu selama ini," ujar Wulan.   "Tidak apa-apa Wulan, asal setelah urusanmu ini kau jangan pergi dariku. Kinerjamu sangat bagus, aku tidak akan rela melepasmu terlalu lama," sahut Agni bercanda.   Mulai hari ini Wulan sudah tidak berangkat kerja dengan Agni lagi melainkan dengan Triggerd. Sejak pagi tadi dadanya bergemuruh membayangkan ia harus bekerja sama dengan Bastian untuk waktu yang tidak ditentukan. Wulan selalu berdoa supaya Andi segera kembali dan ia tidak perlu bekerja sama dengan Bastian lagi.   "Oh Tuhan, bahkan aku belum masuk kerja dan Bastian belum melakukan apa pun, tapi kakiku terasa sangat lemas," ujar Wulan lirih. Kemudian ia memantapkan langkah kakinya menuju gedung manajemen band Triggerd. "Selamat pagi!" sapa Wulan saat bertemu Sapto di salah satu ruangan. Beruntung sekali ia bertemu Sapto di sini, karena hanya dia yang Wulan kenal. "Halo, selamat pagi, Wulan! Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya," sahut Sapto sambil berjabat tangan dengan Wulan. Sapto kemudian mengajak Wulan berkeliling ruangan-ruangan yang biasa dipergunakan oleh Triggerd, agar Wulan tidak kebingungan.   Mereka sampai di ruangan khusus Triggerd beristirahat, di ruangan itu ada Abi dan Bastian yang sedang menunggu Adit dan Tio untuk latihan siang hari ini.   "Hai Wulan, kita akan sering bertemu ya!" sambut Abi saat melihat Wulan dari balik pintu. Wulan menganggukkan kepalanya menyambut sapaan Abi. "Iya, mohon bantuannya, ya. Jika ada yang kurang berkenan bisa langsung sampaikan saja pada saya," ujar Wulan dengan lembut. Sesekali matanya mendapati Bastian sedang memperhatikannya dalam diam. Wulan yang dibuat salah tingkah hanya menganggukkan kepala menyapa Bastian.   "Kau kerja dengan kami sekarang?" tanya Bastian setelah menyadari percakapan Abi dan Wulan. "Iya, saya sementara ini menggantikan Andi yang tidak bisa hadir karena ada suatu urusan. Sebelum Andi kembali, saya yang akan menggantikannya," jawab Wulan sopan. "Oh, baiklah," sahut Bastian singkat, setelah itu ia langsung mengambil posisi tiduran di sofa dan memejamkan matanya. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Hei Wulan, kemari dan buatkan aku secangkir kopi!" perintah Bastian pada Wulan, tentu saja dengan nada bicara yang tidak enak didengar. Wulan yang sedang berada di luar ruangan Bastian tertegun. 'Apa dia pikir aku ini pembantu?' batin Wulan kesal.   Wulan tidak juga muncul di hadapan Bastian, membuat ia bertanya-tanya. 'Apa yang membuat perempuan itu lama sekali?' batinnya.   "Hei apa kau tuli?!" teriak Bastian. Wulan segera berdiri dari duduknya dan menatap Bastian lekat. "Tunggu sebentar!" bentaknya. Wulan segera berjalan ke arah pantry dan membuatkan Bastian kopi. Ia memutuskan membuat dua gelas untuk Bastian dan dirinya sendiri.   Selesai membuat kopi ia langsung mendatangi tempat Bastian, kemudian memberikan gelas yang ada di tangan kanannya tanpa berkata apa pun. Bastian terlihat kebingungan. "Siapa yang menyuruhmu membuat dua gelas kopi?" tanya Bastian singkat. "Tidak ada, hanya saja aku juga ingin membuat satu gelas untukku. Apa tidak boleh?" jawab Wulan polos. "Tidak," jawab Bastian, lalu mengalihkan pandangannya sesaat setelah ia mengambil kopi yang diberikan oleh Wulan. Wulan langsung meninggalkannya saat itu juga.   Selama seharian ini Bastian benar-benar menguji kesabaran Wulan. Tidak hanya kejadian kopi tadi pagi, namun juga dengan makan siang, membelikan cemilan untuk Bastian dan teman-temannya, belum lagi ia diminta untuk membelikan barang kebutuhan bandnya yang bahkan ia tidak paham apa nama barang tersebut.   "Hei, aku minta kau belikan stick drum nylon, kenapa kau membelikan yang seperti ini?" tanya Bastian sesaat setelah Wulan membelikan stick drum untuk Bastian. Wulan terbelalak. "Bukankah kau menyuruhku membeli stick drum? Ini 'kan stick drum bukan stick golf!" sahut Wulan kesal. Ia tidak memberikan perintah yang spesifik, jangan salahkan Wulan kalau Wulan salah. "Apa kau bodoh? Aku memberikanmu contoh langsung tadi. Kubilang belikan yang seperti ini. Makanya perhatikan jika orang lain berbicara!" bentak Bastian saat mengacungkan stik lamanya pada Wulan. Wulan mendengus kesal. "Hei, aku ini fashion stylistmu. Aku akan mengerti jika kau menyuruhku membeli pakaian. Tapi kau menyuruhku membeli peralatan yang bahkan aku tidak pernah menggunakannya. Jangan salahkan aku jika aku salah!" sahut Wulan kesal. Ia langsung meninggalkan ruangan tersebut tanpa memedulikan Abi, Adit, dan Tio yang dari tadi hanya tercengang melihat pertengkaran dua orang itu.   "Bas, sudahlah. Dia benar, mana mungkin Wulan bisa membedakan macam-macam stick drum? Dia bukan musisi," ujar Adit menenangkan Bastian. Namun Bastian hanya menoleh menatapnya heran. "Iya, aku tahu, sudahlah ayo kita mulai latihan!" jawab Bastian singkat.   Adit kebingungan dengan reaksi Bastian yang santai. Namun ia tidak mau ambil pusing, kemudian melanjutkan latihan yang sempat tertunda.   Wulan sedang bersiap untuk pulang dari kantor. Saat ia sedang merapikan isi tasnya, Bastian mendatangi Wulan dan bertanya, "Kau mau ke mana?" katanya. "Mau pulang. Kaupikir mau ke mana lagi?" jawab Wulan ketus. "Kata siapa kau bisa pulang?" lanjut Bastian. Wulan memutar bola matanya kesal. Sudah cukup seharian ini kesabarannya dipermainkan oleh laki-laki plontos tidak berperikemanusiaan ini. "Ini sudah jam 5. Apa kau buta? Ini sudah waktunya aku pulang!" jawab Wulan sambil mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.   Bastian berhasil menghadang Wulan, menahan kedua lengan Wulan dengan cengkraman tangan besarnya. Wulan terkunci tidak bisa bergerak ke mana pun. "Kau boleh pulang jika aku suruh pulang. Sekarang ikut aku," ucap Bastian langsung menarik Wulan. Wulan yang heran dengan tingkah Bastian hanya bisa mengikuti langkah besarnya. Wulan memasuki mobil Bastian dan Bastian segera melajukan mobilnya dengan cepat. "Hei kau mau membawaku ke mana?" tanya Wulan panik. "Diamlah," jawab Bastian singkat dan kembali membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.   Wulan telah sampai di sebuah apartemen yang tidak asing baginya. Ini adalah apartemen Bastian. "Masuk. Kau bereskan semua isi apartemenku ini. Jangan pulang sampai aku kembali," ujar Bastian sambil mempersilakan Wulan masuk ke apartemennya. "Sekarang kau memperlakukan aku seperti pembantu? Hei, bahkan bukan kau yang menggajiku!" teriak Wulan pada Bastian. "Aku akan memberimu uang. Kau diam saja, dan bereskan apartemenku. Ingat, jangan pulang sebelum aku kembali!" ujar Bastian pada Wulan sambil meninggalkannya di apartemen sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN