Permintaan Maaf

1209 Kata
  Wulan datang ke lokasi pemotretan dengan membawa banyak sekali makanan. Ia benar-benar menyiapkan nasi goreng untuk crew dan Triggerd. Beberapa orang yang melihatnya hanya menatap Wulan yang kewalahan dengan apa yang sedang ia bawa saat ini.   "Wulan, ini apa? Bukankah keperluan kita semua sudah dipersiapkan? Kamu membawa apa?" tanya Agni yang keheranan melihat Wulan. Pasalnya semua pakaian yang diperlukan sudah mereka siapkan di lokasi sehingga tidak perlu repot-repot lagi saat hari pelaksanaan. "Tidak Bu, saya hanya menyiapkan makan siang untuk semuanya," ujar Wulan polos, Agni sontak membulatkan matanya. "Kamu menyiapkan ini sendirian?! Apa kamu kurang kerjaan?" tanya Agni heran dan tentu saja hanya disambut dengan senyuman Wulan. Agni sungguh heran dengan Wulan, pasalnya Wulan membuat makanan benar-benar untuk semua orang.   Saat ini mereka sedang bersiap untuk pemotretan. Bastian nampak menghindar dari Wulan. Wulan sudah menyadari itu sejak awal, namun ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu. 'Aku sudah melakukan hal buruk terhadapnya, jika ia menghindariku itu adalah reaksi yang wajar,' batin Wulan menenangkan dirinya.   "Hei, untuk apa kamu membuat itu semua?" tanya Tio sambil menunjuk arah tas berisi nasi goreng Wulan. Wulan yang sedang memasangkan aksesoris untuk Tio menatapnya sambil tersenyum. "Tidak ada, aku hanya senang memasak," jawab Wulan bohong. Ia tidak mungkin jujur menjawab yang sebenarnya. Apalagi setelah melihat tingkah Bastian hari ini, Wulan tidak ingin mencari masalah dengan laki-laki plontos tersebut. "Benarkah? Pasti itu sangat enak! Aku tidak sabar menanti makan siang!" ujar Tio bersemangat membuat Wulan tersenyum malu. Tanpa disadari, Bastian memperhatikan hal itu dari ujung ruangan. Ia memperhatikan dengan tatapan menyelidik, Wulan bahkan tak sanggup menatapnya saat ini.   Agni yang sudah mengetahui keseluruhan cerita, berusaha berbicara dengan Bastian untuk mengalihkan pandangannya. Ia tahu betul saat ini Wulan sangat tidak nyaman dengan tatapannya.   "Hei, apa yang sedang kau perhatikan?" tanya Agni pada Bastian. Bastian langsung menoleh menatap sumber suara tersebut. "Oh, tidak ada," jawabnya singkat. Agni mendengus kesal mendengar jawaban Bastian yang seperti tidak niat itu. Agni memutuskan untuk tidak ikut campur lagi dengan urusan Bastian, dan meneruskan pekerjaannya.   Jam makan siang telah tiba, Wulan sedang membagikan makanan yang telah ia siapkan. Agni ikut membantu membagikan pada para crew. "Aku akan membagikan untuk crew, kau berikan langsung saja untuk Triggerd," ucap Agni pada Wulan yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Wulan. "Wulan, berhati-hatilah," lanjut Agni saat melihat Wulan akan menghampiri ruang tunggu Triggerd. Agni tidak bisa lupa dengan tatapan Bastian saat di ruang ganti tadi. Ia sungguh cemas akan terjadi sesuatu pada Wulan. "Terima kasih, Wulan!" ujar Adit saat menerima kotak makan dari Wulan. Wulan tersenyum simpul sambil menjawab ucapan Adit. Bastian yang berada di pojok ruangan memperhatikan dengan seksama.   'Sebenarnya apa mau perempuan ini? Apa dia mau cari perhatian? Atau mengharapkan uang yang lebih dariku? Sebaiknya kau jangan mimpi!' batin Bastian sambil menatap Wulan yang saat ini sudah berada di hadapannya.   "Ini untukmu, semoga kau suka," ujar Wulan saat memberikan kotak makan terakhir untuk Bastian. Bastian tidak langsung menyambut pemberian Wulan. Wulan sungguh ketakutan saat ini, entah dari mana hadirnya ingatan tentang Bastian mencekiknya tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Lamunannya sirna saat mendengar suara Tio.   "Hei, apa yang kau perhatikan? Lengannya bisa putus menunggumu mengambil makanannya!" ujar Tio mengingatkan Bastian untuk segera mengambil makanan tersebut. Bastian tidak menjawab apa pun, dan langsung mengambil makanan tersebut dengan enggan. Wulan yang sudah gemetar ketakutan langsung pergi dari ruangan tersebut.   "Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?" tanya Abi pada Bastian. Tio dan Adit ikut mendengarkan karena mereka juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Bastian. Bastian memang bukan laki-laki yang suka main perempuan, namun Bastian tidak pernah sekasar ini dengan perempuan mana pun. "Tidak ada. Kau mau makan punyaku?" Bastian menyodorkan nasi goreng buatan Wulan pada ketiga temannya. Ia enggan memakan masakan buatan wanita tidak tahu diri itu. "Kau tidak mau? Kau harus coba dulu, Bas! Kau sungguh akan menyesal jika memberikannya untuk kita," ujar Abi yang sedang memakan dengan lahap. "Iya, Bas. Wanita itu benar-benar bisa masak. Nasi goreng ini enak sekali!" sahut Adit membenarkan apa yang disampaikan oleh Abi, sedangkan Tio hanya asik mengunyah nasi goreng itu tanpa banyak berkomentar lagi. "Aku tidak lapar," jawab Bastian singkat. Ia tidak percaya wanita itu bisa masak dengan enak. Ia masih berpikir bahwa pemberian Wulan ini tidak tulus.   Tio yang dari tadi tidak berkomentar tiba-tiba saja menyuapi satu sendok nasi goreng ke mulut Bastian. "Kau sebaiknya jangan banyak omong! Makan saja!" ujar Tio tak ambil pusing dan disambut gelak tawa dari Adit dan Abi. Bastian termenung. 'Mereka tidak bohong. Ini benar-benar enak!' batin Bastian membenarkan apa yang dari tadi dikatakan teman-temannya.   "Apa kubilang!" ujar Abi sesaat setelah melihat reaksi Bastian setelah makan nasi goreng buatan Wulan. Adit dan Tio tertawa terbahak, sedangkan Bastian hanya diam dan menikmati suapan-suapan berikutnya. "Apa kau suka nasi goreng buatanku?" tanya Wulan pada Bastian saat mereka tidak sengaja berpapasan di depan toilet. "Apa maksudmu melakukan ini? Kau mau menyedot lebih banyak uangku?" ujar Bastian terus terang pada Wulan.   Wulan tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Bastian. Niat tulusnya benar-benar tidak berarti untuk Bastian. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin minta maaf atas semua yang terjadi. Aku juga sudah membuat video klarifikasi tersebut," ujar Wulan menjelaskan semuanya. "Maaf? Maaf katamu?!" bentak Bastian sontak membuat Wulan melangkahkan kakinya ke belakang. Apa yang terjadi beberapa hari yang lalu menyimpan trauma untuk Wulan. Sedikit bentakan dari Bastian ternyata bisa membuatnya ketakutan seperti ini.   Air mata Wulan menetes deras, Bastian menggelengkan kepalanya melihat Wulan menangis. "Simpan saja air mata buayamu itu. Aku tidak butuh!" ucap Bastian sambil melangkahkan kaki meninggalkan Wulan sendirian. Wulan hanya mematung setelah mendengar ucapan Bastian. Wulan bergegas masuk ke ruang ganti, di sana ada Andi yang sedang bermain ponsel. "Kenapa kau menangis?" tanya Andi khawatir melihat Wulan menangis. "Tidak ada, aku tidak apa-apa Andi," jawab Wulan. Tiba-tiba saja Andi teringat kejadian Bastian menyiram Wulan dengan kopi beberapa hari lalu. "Apakah Bastian melakukan sesuatu yang jahat lagi padamu?" tanya Andi penasaran. Wulan tersentak dengan pertanyaan Andi. Tidak heran Andi bertanya seperti itu, karena di sini hanya Wulan dan Bastian yang terlihat bermasalah.   "Tidak ada, aku hanya ingin sendirian," jawab Wulan singkat. "Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu." sahut Andi sambil meninggalkan ruangan, namun ia tidak sadar bahwa ia tidak menutup pintu dengan rapat.   Wulan terduduk sendiri menangkupkan wajahnya. Ia tidak kuasa mengingat ucapan keji Bastian barusan. Setelah apa yang ia lakukan untuk meminta maaf, ternyata usahanya sia-sia. Wulan menangis tersedu-sedu.   'Bagaimana bisa ia tega berkata dengan sejahat itu. Apakah aku terlihat sehina itu? Sampai dia meragukan niat tulusku?' batin Wulan sakit hati dengan apa yang Bastian katakan di depan toilet tadi.   Wulan memegang kepalanya yang terasa seperti mau pecah. Ia teringat ibunya yang masih di rumah sakit saat ini. "Ibu ... maaf, Wulan jadi seperti ini. Wulan benar-benar hilang akal, Wulan bingung bagaimana cara membayar rumah sakit Ibu. Bahkan kondisi Ibu sekarang perlahan-lahan kian memburuk. Wulan tidak memiliki siapa-siapa lagi saat ini, Bu. Wulan tidak bisa hidup sendirian tanpa ibu ...." Wulan menumpahkan semua emosinya bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir deras.   Bastian yang sejak tadi berdiri di depan ruangan berdiri mematung. Awalnya ia hanya penasaran dengan siapa yang sedang menangis sendirian, ia tidak menyangka akan mendengar keluh kesah Wulan seperti ini.   'Wanita ini benar-benar sedang dalam masalah. Pantas saja sikapnya tidak masuk akal,' batin Bastian masih mengintip Wulan dari sela-sela pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN