Klarifikasi

1223 Kata
  Bastian melepas cekikannya pada Wulan dengan kasar. Wajahnya merah padam, napasnya sangat menggebu. 'Celaka, rupanya aku benar-benar membuat Bastian marah besar!' batin Wulan yang masih terdiam menatap rupa Bastian saat ini.   "Kau sudah berjanji, aku tidak mau tahu bagaimana caranya kau harus membuat klarifikasi atas perbuatanmu itu! Aku sudah memberikanmu uang yang banyak, kau harus menyelesaikan ini semua. Ingat, kau yang membuat semua ini terjadi. Bertanggung jawablah," bisik Bastian di telinga Wulan praktis membuat Wulan meneguk ludah yang bahkan sudah tidak ada lagi di rongga mulutnya.   Bastian sudah keluar dari ruangan tersebut, saat ini hanya tersisa Wulan sendiri yang terduduk lemas memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tidak pernah ia mengira bahwa sebesar ini konsekuensi yang harus ia terima.   "Aku tidak mungkin membuat video klarifikasi dengan menunjukkan wajahku pada semua orang. Karirku bisa hancur seketika! Belum lagi bagaimana bila Ibu suatu saat nanti melihat video tersebut? Oh Tuhan, aku bisa gila!" ujar Wulan lirih sambil merutukki kebodohannya. Saat Wulan sedang terduduk lemas, Agni memasuki ruang ganti tersebut sambil membawakan segelas teh hangat. "Wulan, ini teh hangat untukmu." Agni berniat memberikan gelas tersebut pada Wulan, namun ia begitu terkejut saat mendapati leher Wulan terdapat bercak kemerahan seperti habis dicekik orang.   "Ya ampun, Wulan! Apa yang terjadi? Ada apa dengan lehermu?!" Agni teriak histeris melihat kondisi Wulan saat ini. Raut wajah Wulan tidak bisa berbohong bahwa saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. "Ibu, Wulan tidak apa-apa. Wulan baik-baik saja kok, Bu," jawab Wulan sambil tersenyum. Tentu saja Agni tidak mudah tertipu dengan senyuman palsu Wulan itu. Mata Agni masih menatap lekat pada Wulan menuntut kejujuran, namun Wulan dengan cepat memalingkan wajahnya dari tatapan tersebut.   "Aku tahu, kamu sedang mengalami hal buruk. Aku dengan senang hati akan membantumu sebisa mungkin, jika kau ingin cerita padaku. Kau harus lihat keadaanmu saat ini Wulan. Kau sungguh berantakan. Semua orang yang tidak mengenalmu bahkan akan dapat menyadari bahwa kau sedang mengalami suatu hal," cecar Agni pada Wulan. Sebenarnya Agni ingin menyerah meminta Wulan bercerita padanya, karena setiap ditanya Wulan selalu menjawab ia baik-baik saja, tapi kali ini sungguh Wulan keterlaluan, dalam sehari bahkan ia sudah mengalami banyak hal. "Ibu tenang saja, jika saya butuh bantuan saya pasti akan hubungi Bu Agni," ucap Wulan sambil menggenggam tangan Agni dengan erat, dibalas senyuman tulus oleh Agni.   Selama perjalanan pulang, Wulan terus memikirkan bagaimana cara ia bisa membuat video klarifikasi tersebut. Pasalnya ia sudah berjanji pada Bastian bahwa ia akan membuat video itu besok. 'Aku bisa benar-benar mati kali ini jika tidak menepati janjiku!' batin Wulan sambil memegang leher yang masih menyimpan bercak merah bekas cekikan Bastian tadi.   Saat ia sedang melihat sekeliling, tiba-tiba muncul ide di kepala Wulan. "Tidak harus aku bukan yang berbicara di video tersebut? Yang penting adalah klarifikasi bahwa yang ada di dalam video tersebut bukan anggota band Triggerd, jadi aku bisa membayar orang suruhan untuk berbicara di depan kamera 'kan?" Wulan berbicara dengan dirinya sendiri sambil tangannya mencari-cari kontak temannya yang dapat memperkenalkan ia dengan seseorang yang mau dijadikan kambing hitamnya.   Saat sedang mencari seseorang untuk membantunya, hanya Agni yang muncul dalam pikirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon atasannya tersebut dan menceritakan semuanya dari awal.   "Selamat malam, Bu. Apa saya mengganggu waktu Bu Agni?" tanya Wulan saat Agni mengangkat sambungan teleponnya. "Tidak Wulan, ada apa?" tanya Agni pada Wulan yang kemudian disambut Wulan dengan cerita panjang tentang masalahnya sejak awal. Mendengar cerita Wulan, Agni tertegun menghela napasnya dengan berat. "Oh Tuhan, Wulan ... kamu benar-benar dalam masalah besar saat ini. Sebentar, sepertinya suamiku memiliki kenalan yang bisa kita minta pertolongan. Sebentar, jangan ditutup teleponnya!" Agni langsung melaju bertanya pada suaminya, dan akhirnya mendapatkan nomor telepon seorang wanita yang biasanya sering diminta pertolongan untuk hal seperti ini.   "Ini nomor teleponnya, namanya Wina. Kau bisa hubungi dia, besok kau selesaikan urusanmu dulu. Tidak usah masuk kerja dulu, waktumu sangat sedikit," ujar Agni pada Wulan. Wulan tersenyum semangat mendengar jawaban Agni barusan. "Terima kasih banyak Bu, terima kasih atas bantuannya," jawab Wulan bersyukur. "Sama-sama Wulan, semoga masalahmu cepat berakhir," jawab Agni pada Wulan yang kemudian langsung memutus panggilan teleponnya.   Pagi ini Wulan bersiap untuk bertemu dengan Wina, wanita yang akan memberikan pertolongannya. Sebenarnya bukan pertolongan, karena Wulan berjanji akan memberikan bayaran pada Wina setelah ia membuat video klarifikasi tersebut.   Wulan sedang duduk di sebuah cafe yang masih sepi, menunggu kehadiran Wina dengan was-was. 'Jika Wina tidak hadir, aku tidak memiliki pilihan lain untuk membuat video klarifikasi ini, mau tidak mau aku harus membuat video tersebut sendiri,' ujar Wulan dalam hati sambil terus menggerakkan kakinya dengan tidak tenang.   Tidak lama kemudian datang seorang wanita muda cantik menghampiri meja Wulan. "Dengan Wulan, bukan?" tanya wanita tersebut dengan sopan pada Wulan, disambut senyuman Wulan. "Iya benar, kamu Wina ya?" jawab Wulan sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan. Setelah berkenalan, Wulan menjelaskan tentang maksudnya meminta pertolongan Wina. Namun, ia tidak menceritakan semua hal seperti ia bercerita pada Agni. "Saya minta tolong kamu untuk membuat video klarifikasi, kira-kira kamu harus berbicara seperti ini. Bagaimana?" ujar Wulan sambil menyodorkan secarik kertas berisi naskah yang harus diucapkan di dalam video klarifikasi itu. "Wow, apa yang telah kau perbuat sampai harus membuat video seperti ini?" tanya Wina menyelidik. Wulan tiba-tiba saja merasa cemas akan kemungkinan Wina menolak untuk bekerja sama kali ini. "Hm ... maaf saya tidak bisa bercerita banyak dengan kamu. Tapi apakah kamu mau membantu saya?" tanya Wulan sekali lagi pada Wina. Raut wajah Wina saat ini benar-benar tidak terbaca. "Bagaimana dengan bayaranku? Apakah kau bisa menjamin aku tidak akan dituntut?" tanya Wina terus terang pada Wulan. Jelas saja Wina tidak ingin mengambil resiko besar ini tanpa bayaran setimpal. "Tenang saja, aku sudah bicara dengan pihak mereka secara langsung. Tidak akan ada tuntutan apa pun. Aku tidak ingin membuat video ini sendiri karena aku harus menjaga perasaan Ibuku yang sedang sakit. Oleh karena itu aku minta bantuanmu. Untuk masalah bayaran, aku juga sudah siapkan itu," ujar Wulan sambil menyerahkan amplop berisi sejumlah uang. Wina nampak memeriksa isi amplop tersebut dan kemudian menyetujui permintaan Wulan.   Wulan pulang dengan hati lega, ia sudah membuat video klarifikasi dan menyebarkannya di sosial media. Harusnya setelah ini ia tidak akan mendapatkan masalah lagi dengan Bastian. Ia akan tenang dan menerima uang dari Bastian beberapa bulan lagi.   Saat sedang di perjalanan, ia mendapatkan pesan dari Agni yang berisi pesan reminder bahwa besok akan ada pemotretan dengan band Triggerd. Wulan menyunggingkan senyumnya. 'Aku bisa memberikan laporan pada Bastian bahwa video klarifikasi telah beredar saat ini. Ia pasti akan senang!' batin Wulan dalam hati.   Memikirkan tentang bertemu Bastian, Wulan teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu dengan Bastian. Rasanya ia perlu memberikan permohonan maaf untuk Bastian atas apa yang telah ia lakukan terhadap laki-laki itu.   "Baiklah, aku harus menyampaikan permintaan maafku pada Bastian. Oh apa aku harus membuatkan makanan untuknya?" ujar Wulan pada dirinya sendiri. Wulan memutuskan untuk lebih tahu diri di hadapan Bastian. Biar bagaimanapun ia telah melakukan hal yang amat buruk pada Bastian. Wulan memutuskan untuk mampir ke supermarket di dekat rumahnya. Ia berkeliling sambil berpikir makanan apa yang akan ia buatkan untuk Bastian. "Makanan yang bisa kubuat dengan enak hanya nasi goreng. Baiklah aku akan buatkan nasi goreng saja untuknya. Eh tunggu dulu, apakah tidak terlalu mencolok jika aku hanya buatkan untuknya? Bisa-bisa semua orang akan membicarakan yang tidak-tidak!" Wulan bergidik ngeri saat memikirkan hal menjijikkan tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat makanan untuk semua crew dan anggota band Triggerd.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN