Wulan berdiri mematung, kepalanya terasa dingin karena es kopi yang ditumpahkan oleh Bastian. Agni dan Sapto yang ada di dekat sana melihat apa yang terjadi. Agni membulatkan matanya saat melihat hal tersebut, namun reaksi berbeda diberikan oleh Sapto. Saat Sapto melihat ia langsung berlari menghampiri Bastian.
Agni menghampiri Wulan yang masih berdiri mematung. “Agni, kau baik-baik saja? Kenapa bisa terjadi? Ayo ganti baju, kebetulan aku membawa pakaian lebih di mobil. Tunggu sebentar,” ujar Agni panik melihat keadaan Wulan saat ini. Wulan masih saja terdiam terkejut pada apa yang baru saja terjadi.
Agni berlari mengambil pakaian yang ada di mobilnya saat ini. Segera ia membantu Wulan berganti pakaian dan mengeringkan tubuhnya. “Wulan, apa masalahmu dengan laki-laki itu? Apa kau membuat kesalahan? Dia tidak menyukai pakaian yang telah kau siapkan?” tanya Agni sembari mengeringkan rambut Wulan yang basah karena kopi.
Wulan terdiam dan tersenyum menatap atasannya ini. “Tidak ada, Bu. Saya tidak apa-apa, dan dia juga tidak mengeluhkan tentang pakaian yang saya siapkan,” jawab Agni santai sambil tersenyum menundukkan kepalanya. Ia sadar kalau saat ini ia tidak memiliki wewenang untuk marah kepada Bastian setelah apa yang telah ia lakukan pada laki-laki itu.
Agni masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Sepanjang karirnya menjadi fashion stylist, ia tidak pernah mengalami hal yang dialami oleh Wulan.
Sementara itu, Sapto yang juga melihat kejadian tersebut seketika membentak Bastian. “Bastian! Apa yang kau lakukan?!” bentak Sapto sambil mencengkeram lengan Bastian dengan keras. Bastian seketika menghempaskan cengkraman tangan Sapto dan pergi begitu saja meninggalkan Sapto.
“Hei! Jangan pergi, dengarkan aku dulu!” Sapto berteriak lebih kencang lagi saat melihat Bastian malah seenaknya.
“Diamlah, aku yang akan mendatangimu nanti!” jawab Bastian tanpa melihat ke arah Sapto yang kini meradang. Sapto hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bastian yang sungguh di luar kebiasaannya.
Adit, Abi, dan Tio sudah mendengar apa yang baru saja terjadi. Mereka memutuskan untuk menghampiri Bastian yang sedang duduk sendirian.
“Bas, sebenarnya apa yang terjadi? Wanita itu membuatmu marah?” tanya Adit perlahan.
Bastian saat ini sedang diliputi rasa marahnya, namun ia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa ia menceritakan tentang siapa yang menyebabkan karirnya terancam. Lagipula rasanya Bastian terlalu emosi saat ini untuk membuka mulut. Dengan sigap Bastian pergi dari ketiga temannya dan memilih menyendiri.
Bastian memukul-mukul kepalanya perlahan mengingat apa yang telah ia lakukan. Ia sungguh tidak mengira apa yang baru saja ia lakukan.
‘Dasar bodoh! Kau menggali kuburanmu sendiri, Bastian!’ ujar Bastian dalam hati.
Ia sungguh tak ingin kesepakatannya antara dirinya dan Wulan diketahui orang lain. Bahkan sampai saat ini tiga sahabatnya tidak tahu jika Wulan masih memiliki video lain yang berisikan mereka dan pasti saja dapat menimbulkan kekacauan terhadap karir mereka.
Bastian beberapa kali menghembuskan napasnya dengan berat, berusaha mengatur emosinya. Kali ini ia tak ingin kelepasan lagi. Ia harus dapat mengendalikan emosi karena kesepakatan ini tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Setelah Bastian merasa sudah dapat meredam emosinya, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Sapto untuk menyelesaikan yang ia belum selesaikan tadi. “Sapto ...,” sapa Bastian saat menghampiri Sapto yang sedang tertunduk memikirkan yang baru saja terjadi.
Sapto menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya memerah saat melihat Bastian. “Jelaskan padaku apa yang baru saja kau lakukan! Jika kau tidak cocok dengan kinerjanya, kau tidak seharusnya bersikap seperti itu! Bahkan masalahmu dengan video itu belum selesai walaupun kau sudah berhasil menghapusnya. Semua orang masih membicarakannya! Apakah kau sadar dengan apa yang kau perbuat? Berhenti membahayakan eksistensi band ini Bastian!” bentak Sapto pada Bastian. Ia tak mampu menahan amarahnya. Sudah cukup tenaganya terkuras dengan masalah video Bastian, ia tak sanggup menangani jika ada masalah lain yang muncul akibat dari kejadian barusan.
“Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku akan selesaikan masalah yang telah kuperbuat.” ujar Bastian memohon maaf pada Sapto yang selama ini sudah sangat sabar mengatasi kekacauan yang ia perbuat.
“Baiklah, sebaiknya kau lakukan apa yang kau bicarakan barusan! Bereskan kekacauan yang kau buat!” ucap Sapto sambil meninggalkan Bastian sendiri.
Bastian masih terduduk sendiri sambil menundukkan wajahnya di meja rias yang ia duduki saat ini. Saat ini menengadahkan wajahnya, betapa terkejut ia melihat penampilannya yang sudah sangat berantakan atas apa yang terjadi barusan.
“Ah, aku harus bereskan ini semua. Aku harus cari Andi,” ujar Bastian sambil berjalan menuju ruang ganti untuk menemui Andi.
Sementara itu di ruang ganti, Wulan masih terduduk dan terdiam sejak lama. Agni harus pergi untuk mengangkat telepon dari anaknya. Menyisakan hanya ia berdua dengan Andi di ruang ganti.
“Hei, boleh aku bertanya apa yang terjadi padamu? Keadaan nampaknya cukup kacau tadi,” tanya Andi berhati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Wulan yang baru saja ia kenal hari ini.
Wulan menoleh menatap Andi sebentar, lalu melempar senyum tulusnya. “Tidak ada yang terjadi, Andi. Aku baik-baik saja,” jawab Wulan singkat.
“Apa kau yakin? Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Andi lagi karena ia tidak mampu menahan rasa ingin tahunya.
“Andi, ini bukan urusanmu. Sebaiknya kau jangan bertanya lebih lanjut,” jawab Wulan ketus. Ia tidak ingin menjawab Andi karena ia merasa tidak ingin menceritakan hal memalukan ini. Apalagi pada Andi yang baru saja ia kenal, bahkan Agni saja tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
“Oh oke, baiklah. Aku minta maaf karena aku lancang. Sebaiknya aku keluar dulu, sepertinya kau butuh waktu sendiri,” ujar Andi merasa tidak enak atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak ingin suasana menjadi lebih canggung, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan Wulan sendiri di ruang ganti.
Wulan sedang terduduk sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat Bastian memasuki ruang ganti. “Andi tolong rapikan pakaianku!” ujar Bastian saat masuk ruang ganti, namun tak ada yang dapat ia temukan selain Wulan.
Wulan terkejut menatap Bastian, ia merasa takut melihat lelaki itu kali ini. “Andi sedang tidak ada di ruangan,” jawab Wulan singkat tanpa menatap Bastian.
“Ke mana dia? Aku butuh dia saat ini,” ucap Bastian ketus.
“Aku tidak tahu, dia baru saja pergi,” jawab Wulan singkat.
“Baiklah, bantu aku. Pakaianku berantakan, aku tidak ingin membuat pemotretan terlambat karena ulahku,” balas Bastian meminta bantuan pada Wulan.
Wulan tidak langsung berdiri membantu Bastian. Ia tediam sebentar karena ragu apakah ia akan membantu Bastian atau tidak. Ia masih sangat takut saat ini padanya, namun ia harus bersikap professional saat ini. Ia menyadarkan dirinya sekali lagi bahwa ia sedang bekerja dan harus tetap profesional.
Wulan bangkit dari duduknya dan bersiap membantu membereskan pakaian dan aksesoris yang digunakan Bastian. Bastian menatap Wulan dengan lekat, membuat Wulan semakin ketakutan. “Masalahku belum selesai walaupun kau menghapus video itu dari internet, kau tahu itu 'kan?” tanya Bastian pada Wulan.
Wulan menatap wajah Bastian, menatapnya dengan pandangan bingung. “Aku tahu itu, tapi itu bukan urusanku, bukan?” tanya Wulan balik pada Bastian. Bastian yang sedang melihat penampilannya di cermin seketika membalikkan tubuhnya untuk melihat Wulan dengan lekat.
Ia berjalan mendekati Wulan, perlahan memojokkan Wulan di tembok. “Kau tahu 'kan kalau kau yang bertanggung jawab untuk membersihkan namaku setelah apa yang telah kau lakukan? Oh, jangan lupa aku juga sudah memberikan uang dengan jumlah besar padamu,” bisik Bastian di telinga Wulan membuat Wulan bergidik ngeri.
“Kesepakatan kita hanyalah aku menghapus videomu. Apa yang harus aku lakukan lagi?” tanya Wulan yang kebingungan.
Bastian perlahan mengarahkan tangannya ke leher Wulan. Perlahan Bastian menguatkan tangannya yang saat ini berada di leher Wulan membuat Wulan kesulitan bernapas.
“Kau harus membuat video klarifikasi bahwa kau yang menyebarkan video tersebut dan apa yang ada di video itu tidaklah benar! Kau bertanggung jawab atas rusaknya karirku saat ini!” bentak Bastian pada Wulan.
Bastian lepas kendali, saat ini bahkan Wulan sudah hampir kehabisan napas. Wulan masih berpikir mengapa ia harus membuat video klarifikasi? Ia tidak ingin wajahnya tercemar di sosial media, itu akan berdampak buruk pada hidupnya.
Namun, saat ini ia tidak memiliki pilihan. Wulan tidak dapat menjawab permintaan Bastian, sehingga ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sekuat yang ia bisa.
“Ba-baik aku akan buat video itu besok!” jawab Wulan segera setelah Bastian melepaskan cekikannya pada Wulan.